Politisasi Haji Arab Saudi

Politisasi Haji Arab Saudi

SUMBER: http://liputanislam.com/opini/politisasi-haji-arab-saudi/

Oleh: Dina Y. Sulaeman

Setelah melalui upaya negosiasi berbulan-bulan, akhirnya Menteri Kebudayaan dan Bimbingan Islam Iran, Ali Jannati, mengumumkan bahwa tahun ini rakyat Iran tidak dapat mengikuti ibadah haji. Jannati menyatakan bahwa keputusan ini diambil karena pemerintah Arab Saudi tidak mau memberikan jaminan keamanan kepada jamaah haji Iran dan mempersulit pengurusan visa haji. Sementara itu, dari Qom, Grand Ayatullah Makarim Shirazi mendukung keputusan pemerintah Iran dan mengecam keras pemerintah Saudi yang telah ‘memperlakukan Haramain sebagai properti pribadi’. Shirazi juga memberikan informasi tambahan bahwa akhir-akhir ini Imam Jumat di Saudi melakukan propaganda anti-Syiah secara masif, sehingga jamaah haji Iran menghadapi bahaya besar, yaitu serangan dari kaum muda Saudi takfiri.

Sebaliknya, Arab Saudi dan Liga Arab memberikan pernyataan-pernyataan yang menyudutkan Iran, menyebut negeri Persia itu telah ‘mempolitisasi haji untuk menarget Saudi’. Menlu Arab Saudi menyatakan bahwa alasan utama macetnya negosiasi adalah karena Iran meminta diberi kebebasan untuk melakukan demonstrasi, sebuah tradisi yang dilakukan oleh jamaah Iran setiap musim haji.  Baca lebih lanjut

Menakar Kualitas Sang Mufti Ketika Murka

Menakar Kualitas Sang Mufti Ketika Murka

SUMBER: http://liputanislam.com/analisis/menakar-kualitas-sang-mufti-ketika-murka/

Oleh: Husein Muhammad Alkaf

husein-alkafLiputanIslam.com – Perang pernyataan antara dua ulama besar, Pemimpin Spiritual Republik Islam Iran Ali Khamenei dengan Mufti Besar Kerajaan Arab Saudi Syekh Abdul Aziz Al Syekh, telah menghiasai headlinebeberapa media dalam dan luar negeri, cetak dan non cetak. Kritikan Ayatullah Khamenei kepada Arab Saudi atas penyelenggaraan ibadah haji dibalas dengan pernyataan keras Al Syeikh yang menyebut Iran sebagai keturunan Majusi. Menyusul dua pernyataan itu, bermunculan sikap pro dan kontra terhadap keduanya.

Yang menarik saya adalalah adanya pergeseran dari isu politik menjadi isu sektarian dan rasis. Dalam surat terbukanya, Pemimpin Spiritual secara khusus menyoroti tragedi Mina yang terjadi pada tahun 2015, sebuah tragedi yang memakan korban ratusan jiwa, termasuk jamaah haji Indonesia. Menurutnya, pihak kerajaan Saudi tidak bertanggung jawab dalam menyelesaikan tragedi tersebut. Keluarga jamaah haji Indonesia yang menjadi korban juga belum mendapatkan dana konpensasi yang dijanjikan oleh dari pihak Kerajaan.  Baca lebih lanjut

Di Manakah Ribuan Al Nimr itu, Alwi? (2)

Di Manakah Ribuan Al Nimr itu, Alwi? (2)

SUMBER: http://liputanislam.com/analisis/di-manakah-ribuan-al-nimr-itu-alwi-2/

Oleh: Dina Y. Sulaeman*

Tulisan ini adalah tanggapan atas tulisan “Ada Banyak Al Nimr di Iran” yang ditulis Alwi Alatas (AA). Pada bagian pertamadisebutkan, di antara kelompok-kelompok teror yang berkali-kali menyerang Iran adalah Jundullah (berbasis di Pakistan).

Apakah mazhab anggota Jundullah? Sama seperti Al Qaida dan ISIS, mereka berideologi Salafi/Wahabi yang sering mengklaim diri sebagai Sunni. Paham Wahabi yang menghalalkan teror jelas berbeda dengan paham Ahlussunnah sejati. Jurnalis investigatif terkemuka, Seymour Hersh pernah menulis laporannya tentang kucuran dana AS untuk membiayai kelompok-kelompok teror yang mendestabilisasi Iran (termasuk Jundullah, the Mujahideen-e-Khalq/MEKdan kelompok separatis Kurdithe Party for a Free Life in Kurdistan/PJAK.) [8].  Baca lebih lanjut

Di Manakah Ribuan Al Nimr itu, Alwi? (1)

Di Manakah Ribuan Al Nimr itu, Alwi? (1)

SUMBER: http://liputanislam.com/analisis/di-manakah-ribuan-al-nimr-itu-alwi-1/

Oleh: Dina Y. Sulaeman*

Tulisan ini adalah tanggapan atas tulisan “Ada Banyak Al Nimr di Iran” yang ditulis Alwi Alatas (AA). Di judul AA menyebut “banyak”, tetapi di dalam artikel, dia menyebut “ribuan”. Saya akan memulai tulisan ini dengan mengutip pidato Ayatullah Khamenei yang dikritisi AA di akhir tulisannya, karena inilah poin terpenting dalam tulisan AA maupun tulisan ini.

The Almighty God shall not ignore the innocents’ blood and the unjustly spilled blood will backfire on the politicians and the executives of this regime very quickly. The Muslim world and the entire world must feel responsible towards this issue,” kata Ayatullah Khamenei, dikutip AA dari situs berbahasa Inggris.

AA berkomentar, ““Tuan Khamena’i, apakah Anda tidak merasa bertanggung jawab atas tumpahnya ribuan ‘darah tak berdosa’ di Iran, di bawah pemerintahan Anda sendiri? Darah-darah itu pada satu hari nanti akan memercik juga ke wajah Anda, di dunia ini, di dalam lembaran-lembaran Sejarah.”  Baca lebih lanjut

DAUD MELAWAN GOLIATH

DAUD MELAWAN GOLIATH

SUMBER: https://dinasulaeman.wordpress.com/2016/01/10/daud-melawan-goliath/

Oleh: Dina Y. Sulaeman

Fariba, tetangga saya di Teheran (2003-2007) mudah sekali sedih dan stress. Pasalnya, suaminya selalu berada dalam bahaya. Suaminya anggota Garda Revolusi Iran, dan sewaktu-waktu “menghilang” untuk misi anti-terorisme. Fariba selalu ketakutan, suatu saat giliran suaminya yang syahid dibunuh teroris. Dan benar saja, tahun 2009, saat saya sudah di Indonesia, suaminya dan beberapa rekannya syahid dalam aksi bom bunuh diri yang dilakukan teroris di Zahedan (perbatasan Pakistan).

Sejak Republik Islam Iran dibentuk dan AS ditendang keluar Iran (padahal sebelumnya AS sedemikian berkuasa di Iran, baik ekonomi maupun politik), aksi-aksi teror tak habis-habisnya menyerang Iran. Sejak 1979-2014, korban terorisme di Iran (bom bunuh diri/ledakan bom) mencapai 17.180 orang, menjadikan Iran sebagai negara dengan korban terorisme terbesar di dunia. Sebagian yang menjadi korban tewas itu adalah para pejabat tinggi negara seperti Presiden Rajai, PM Bahonar, Ketua MA Beheshti, dan Panglima Militer Shirazi. Ayatollah Khamenei sendiri tangan kanannya kisut dan tak bisa digerakkan akibat terkena serpihan bom saat sedang berceramah di Masjid Abu Dzar, Teheran (1981). Beberapa tahun terakhir, yang menjadi korban teror adalah ilmuwan-ilmuwan nuklir Iran.  Baca lebih lanjut

17 Agustus: Merdeka Tapi Tidak Independen

17 Agustus: Merdeka Tapi Tidak Independen

SUMBER: https://dinasulaeman.wordpress.com/2012/08/17/17-agustus-merdeka-tapi-tidak-independen/

Oleh: Dina Y. Sulaeman*

Tepat tanggal 17 Agustus, 67 tahun yang lalu, Ir. Sukarno memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia. Sejak itu pula, Indonesia menjadi sebuah negara merdeka, yang tidak lagi berada di bawah penjajahan negara manapun. Sepuluh tahun kemudian, saat membuka Konferensi Asia Afrika di Bandung (tahun 1955), Presiden Sukarno mengingatkan bangsa-bangsa Asia Afrika yang saat itu baru lepas dari penjajahan, bahwa penjajahan kini telah berubah bentuk.


kaa1“Saya harap Anda tidak memikirkan kolonialisma dalam bentuk klasik sebagaimana yang diketahui baik oleh kami bangsa Indonesia, maupun oleh saudara-saudara kami dari berbagai bagian Asia dan Afrika. Kolonialisme juga memiliki penampilan yang modern, dalam bentuk kontrol ekonomi, kontrol intelektual, dan juga kontrol fisik yang dilakukan sekelompok kecil orang asing dalam sebuah bangsa. Kolonialisme adalah musuh yang sangat pintar dan ambisius, dan dia muncul dalam berbagai kedok. Kolonialisme tidak menyerahkan (bangsa) jarahannya dengan begitu saja. Kapanpun, dimanapun, dan bagaimanapun kolonialisme itu menampilkan dirinya, dia tetaplah sesuatu yang jahat, dan dia harus dimusnahkan dari muka bumi ini.”  
Baca lebih lanjut

MERDEKA

MERDEKA

SUMBER: https://www.facebook.com/dina.sulaeman/posts/10154440288338835

Oleh: Dina Y Sulaeman

Komentar teman saya orang Iran, saat chat via LINE, “Sebelum kasus Syekh Nimr, Arab Saudi, Bahrain, dan Sudan sudah menurunkan level diplomatik, mereka cuma punya konsulat di Iran. Jadi, kasus Syekh Nimr cuma alasan yang dibuat-buat untuk memutuskan hubungan diplomatik. Apalagi UAE. Yang kemarin menyerang konsulat Saudi itu orang-orang bayaran konsulat UAE, dan sudah ditangkap untuk kemudian diadili pemerintah. Mengapa harus takut dikucilkan pemerintah negara-negara “ngaco”? Santai saja…”

Nasionalisme rakyat Iran sudah teruji 36 tahun terakhir ini (sejak berdirinya Republik Islam). Diembargo obat-obatan? Bikin sendiri. Diembargo senjata? Bikin sendiri. Diembargo jaringan perbankan Rothschild? Pedagang selalu punya jalan keluar, life goes on. Dikucilkan? Nggak takut. Diperangi? Lawan.  Baca lebih lanjut

Shiva, Pangan, dan Perdamaian Dunia

Shiva, Pangan, dan Perdamaian Dunia

SUMBER: http://kupasbengkulu.com/shiva-pangan-dan-perdamaian-dunia

Oleh: Dina Y. Sulaeman*

Mengapa petani kita harus hidup miskin? Sekitar 57 persen dari 68 persen penduduk miskin di pedesaan adalah petani. Padahal, mereka memproduksi sesuatu yang dibutuhkan oleh semua orang: pangan. Mengapa setelah 69 tahun Indonesia merdeka, kita semakin tak mampu mencukupi kebutuhan pangan secara swadaya? Pada tahun 2013 saja, kita telah mengeluarkan dana Rp 175 triliun untuk impor produk pertanian. Ironisnya, bahan pangan yang kita impor adalah bahan pangan yang seharusnya bisa kita tanam sendiri: sayuran, beras, jagung, kedelai, singkong, kelapa, lada, gula, cabai, bawang merah, bawang putih, dan lain-lain.

Dalam kurun 10 tahun (2003-2013), ada 5 juta petani Indonesia yang memilih berhenti bertani. Mengapa?

Seorang perempuan India telah menjelaskan jawaban atas pertanyaan di atas, sejak bertahun-tahun yang lalu. Perempuan itu bernama Vandana Shiva, seorang doktor di bidang fisika kuantum yang kemudian lebih memilih untuk berjuang di bidang pertanian.  Baca lebih lanjut

Resensi Buku: Tangan-Tangan Amerika: Operasi Siluman AS di Pelbagai Belahan Dunia

Resensi Buku: Tangan-Tangan Amerika: Operasi Siluman AS di Pelbagai Belahan Dunia

SUMBER: http://www.theglobal-review.com/content_detail.php?lang=id&id=3129&type=9#.V8_-kmDbvIU

Oleh: Nuning Soedibjo

tangan2-amerika

Buku ini sangat menjelaskan bagaimana busuknya dan tidak manusiawinya ideologi Amerika dalam ekonomi, yang dinamakan dengan neo-liberalisme alias kapitalisme atau globalisasi yang merupakan suatu kedok dari politik ekonomi Amerika itu sendiri.

Yang sangat menarik adalah, semua bangsa yang menerapkan politik nasionalisme kerakyatan demi menyejahterakan rakyatnya, ataupun bersikap netral dengan politik bebas-aktifnya dalam suatu permasalahan antara beberapa blok yang sedang bersengketa, justru akan langsung dianggap sebagai bangsa yang menganut komunisme, karena tidak sejalan dengan skema desain globalisasi yang ditawarkan oleh Amerika, dalam rangka menguasai dunia.  Baca lebih lanjut

NEFOS Modal Songsong Perang Asia Timur Raya Jilid II

NEFOS Modal Songsong Perang Asia Timur Raya Jilid II

SUMBER: http://nefosnews.com/post/opini/nefos-modal-songsong-perang-asia-timur-raya-jilid-ii

hendrajitOleh: Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute dan jurnalis eks Tabloid DeTIK

.

Barang siapa punya imajinasi terhadap masa depan, maka dialah yang akan dimenangkan oleh sejarah (Bung Karno)

Saya teringat kala menyusun buku perdana saya, “Tangan-Tangan Amerika, Operasi Siluman AS di Pelbagai Belahan Dunia”, pada 2010. Buku ini mengkonstruksikan jalinan kisah seputar “Operasi Senyap” CIA dalam membantu penggulingan beberapa kepala negara yang dipandang Washington sebagai musuh. Para kepala negara yang berpotensi bertabrakan kepentingan dengan korporasi global di balik kebijakan strategis luar negeri Paman Sam.

Saat membaca dokumen, maupun sumber sekunder lain, sontak muncul temuan-temuan baru yang tentunya juga perspektif baru memaknai jalinan kisah yang sudah berlangsung puluhan tahun tersebut.

Ternyata, ada beberapa kepala negara yang ikut serta dalam Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung, pada April 1955, yang kemudian tergusur dari pentas politik negaranya secara paksa.

U Nu, Perdana Menteri Birma (Myanmar), digulingkan junta militer pimpinan Jenderal Ne Win pada 1962. Bung Karno, digulingkan melalui kudeta merangkak berliku sejak 1965 yang mencapai kulminasi 1967. Pangeran Norodom Sihanouk digusur lewat kudeta militer Jenderal Nguyen van Thiu pada 1970.  Baca lebih lanjut

Gita dan Jempol Kaki Soekarno

Gita dan Jempol Kaki Soekarno

SUMBER: https://dinasulaeman.wordpress.com/2013/12/27/gita-jempol-kaki-sukarno/

Oleh: Dina Y. Sulaeman*

Hari ini tulisan saya dimuat di situs baru yang keren, http://www.nefosnews.com 

Dalam tulisan berjudul Gita dan Jempol Kaki Soekarno ini, saya menulis, sbb.

(Tulisan lengkap Mbak Dina ini sudah tidak ada di web. http://www.nefosnews.com karena web. nya sendiri sudah tidak eksis, saya temukan tulisan tersebut di web. ini dan saya copas dibawah _admin)

.

Gita dan Jempol Kaki Soekarno

Sejumlah ekonom dari Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM), baru-baru ini memprediksi bahwa tahun depan nilai rupiah akan terus melemah, seiring dengan perekonomian Indonesia yang bakal semakin memburuk. Salah satu akar masalah adalah Indonesia terlalu mengandalkan konsumsi dan tingkat impor jauh lebih tinggi daripada ekspor. (Tempo, 25/12/2013)

Prediksi ini seolah kontradiktif dengan gegap gempita konferensi WTO di Bali yang baru berlalu. Yang paling berbahagia, agaknya Memperindag Gita Wirjawan, Sang Chairman sidang.  Bayangkan saja, organisasi yang menjadi panglima pasar bebas dunia itu sudah bersidang sejak Putaran Doha (12 tahun yang lalu), tapi tak berhasil melahirkan kesepakatan. Namun, di Bali, Gita berhasil memimpin sidang yang melahirkan kesepakatan. Tentu saja, Gita memuji-muji Paket Bali;  menyebutnya menguntungkan bagi negara berkembang dan miskin, karena “Mendapatkan manfaat untuk membuat akses bebas dari barang dan jasa untuk meningkatkan perdagangannya.” (Jurnas, 8/12/2013)  Baca lebih lanjut

Paket Bali WTO, Kemenangan Korporasi bagi Rantai Pasokan Multilateralal

Paket Bali WTO, Kemenangan Korporasi bagi Rantai Pasokan Multilateralal

SUMBER: http://www.kompasiana.com/bonniesetiawan/paket-bali-wto-kemenangan-korporasi-bagi-rantai-pasokan-multilateral_5528f50f6ea834913e8b4631

.

Indonesia sebagai Negara tuan rumah KTM WTO ke-9 ini, meskipun merupakan peringkat ekonomi ke-15 dunia, akan tetapi sebenarnya belum terintegrasi penuh dalam rantai pasokan global. Ini karena Indonesia masih mengandalkan ekonominya pada produksi bahan-bahan mentah komoditas pertanian, mineral dan migas. Indonesia hingga kini belum merupakan Negara industri, dimana sumbangan sektor industrinya dalam PDB masih di kisaran 25%. Indonesia juga masih mempunyai sektor pertanian yang terbelakang, sehingga Indonesia seharusnya berjuang keras dalam isu pertanian di WTO…….

Oleh: Bonnie Setiawan

KTM WTO yang seharusnya berakhir tanggal 6 Desember 2013, terpaksa diperpanjang satu hari untuk menghindari krisis dan demi menyelamatkan sebuah pertaruhan besar, yaitu WTO yang masuk ke dalam era baru perdagangan abad 21. Drama bertahannya India mempertahankan ketahanan pangan dalam hal cadangan pangan nasionalnya, sebenarnya memperlihatkan kontradiksi di negara-negara industri rantai pasokan baru yang di satu pihak rakyatnya masih banyak yang miskin, tetapi di lain pihak telah menjadi kekuatan ekonomi baru dunia. Persetujuan India sebenarnya memperlihatkan kemauan negara itu untuk berpartisipasi penuh dalam pembagian kerja internasional yang baru.

Karenanya tidak mengherankan bahwa Paket Bali sebenarnya tidak mencapai hasil apa-apa di bidang pertanian dan LDCs (Negara-negara paling miskin). Kedua komponen Paket Bali tersebut hanya menjadi semacam hiasan saja agar pantas untuk disetujui, karena tidak ada hal yang baru sama sekali dari kesepakatan dalam kedua komponen tersebut. Komponen yang sebenarnya menjadi tujuan Paket Bali adalah Trade Facilitation (Fasilitasi Perdagangan), dan hal ini sebenarnya sudah terbaca sejak WTO masih dipegang oleh Pascal Lamy. Dalam sidang General Council WTO bulan Mei 2013, Pascal Lamy menyatakan bahwa “The discussion focused on the systemic conditions under which global value chains can work better, including the importance of trade facilitation measures, the blurring frontier between goods and services.”  Baca lebih lanjut

Kritikan untuk Paket Bali

Kritikan untuk Paket Bali

SUMBER: https://dinasulaeman.wordpress.com/2014/01/01/kritikan-untuk-paket-bali/

OlehDina Y. Sulaeman*

Sepanjang konferensi, nyata terlihat, AS lah yang paling ngotot menentang keinginan India menaikkan subsidi bagi para petaninya sendiri. AS mewakili kubu negara-negara maju, sedangkan India mewakili grup negara-negara berkembang kelompok G33. Negara-negara miskin ini juga mengekor India. Meski mewakili G33 dan negara-negara miskin, uniknya, tinggal India yang masih bertahan melawan kubu negara maju. Yang lain sudah tumbang dan menyerah demi kata sepakat.

Ketua WTO Roberto Azevedo mengklaim, “Kesepakatan ini akan meningkatkan perdagangan dunia sebanyak US$ 1 triliun (sekitar Rp 12.000 triliun).” Tapi pertanyaannya, siapa yang akan menikmati kue senilai US$ 1 triliun itu? Jawabannya; pasti yang menang di arena tempur perdagangan bebas. Yang kalah, bersiaplah digempur barang-barang impor dalam memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papannya.  Dan kita bisa jadi salah satunya

____________

Dari sekian banyak liputan media (internet) soal Paket Bali, penjelasan yang mudah dipahami dan kritis saya dapatkan dari Nefosnews.com

Berikut beberapa poin yang saya temukan dari liputan Nefosnews:

1. Dua isu yang gagal disepakati dalam pertemuan General Council WTO di Jenewa, pada 26 November 2013:

(a) Soal fasilitas perdagangan:  WTO yang dimotori Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa, ingin pelabuhan di tiap negara terbebas dari hambatan.

(b) Soal pertanian: mencakup penimbunan stok untuk ketahanan pangan, persaingan ekspor produk pertanian dan administrasi Tariff-Rate Quota (TRQ);  agenda yang diusung negara-negara maju adalah mendorong efisiensi dan efektivitas para anggota WTO dalam pendistribusian barang dagangan.  Baca lebih lanjut

Use your loaf: why food prices were crucial in the Arab spring

Use your loaf: why food prices were crucial in the Arab spring

Rami Zuraykby Rami Zurayk

People in Arab countries have always relied on bread as a low-cost source of sustenance. In Yemen alone there are more than 20 different kinds of bread, each made and baked differently. In Egypt, bread is known as aish, meaning “life”. It is the inseparable companion of all dishes, even some desserts. The Fertile Crescent, stretching from the Egyptian Nile to the mouth of the Tigris and Euphrates, is where agriculture began, where wheat, lentils, chickpeas, sheep and goats and olives were first cultivated. Today, that same region is the largest importer of food in the world.

bread-helmet-007

The famous ‘bread helmet’ from Tahrir Square. Photograph: Khaled Abdullah Ali Al Mahdi/Reuters

When grain prices spiked in 2007-2008, Egypt’s bread prices rose 37%. With unemployment rising as well, more people depended on subsidised bread – but the government did not make any more available. Egypt’s annual food price inflation continued and had hit 18.9% before the fall of President Mubarak.  Continue reading

Timur Tengah dan Kejahatan Industri Pertanian

Timur Tengah dan Kejahatan Industri Pertanian

SUMBER: http://liputanislam.com/analisis/timur-tengah-dan-kejahatan-industri-pertanian/

Oleh: Dina Y. Sulaeman*

.

Kondisi pertanian Indonesia tak jauh berbeda dengan Mesir. Pertanian di Indonesia juga dipaksa oleh IMF, Bank Dunia, WTO untuk berintegrasi dengan pasar dunia. Atas tekanan IMF, Bulog telah dibubarkan sehingga tidak lagi ada perlindungan harga bagi petani. Indonesia pun dilarang menutup pintu impornya, sehingga produksi petani lokal harus bersaing dengan produk impor. Melalui Revolusi Hijau yang dikenalkan ke Indonesia pada masa Orba, petani dipaksa (dengan bantuan kekuatan aparat) untuk menanam padi jenis tertentu yang digenjot dengan pestisida dan pupuk kimia, untuk meningkatkan produksi sebanyak-banyaknya. Hasilnya, pada tahun 1984-1989 Indonesia pernah mencapai swasembada beras. Namun seperti terjadi di negara-negara lain yang melakukan hal serupa, secara perlahan tapi pasti, tanah mengeras dan enggan menghasilkan panen secara maksimal lagi.

Siapa sebenarnya yang bertanggung jawab atas konflik di Timur Tengah? Ada banyak versi jawaban yang bisa diberikan. Namun, ada hal yang menarik yang baru saya temukan setelah mengikuti kuliah umum Dr. Vandana Shiva di UI pada 18 Agustus 2014, yang disponsori  Yayasan Kehati dan Mantasa. Tulisan ini bukan ringkasan isi kuliah tersebut (silahkan menonton videonya di Youtube), melainkan refleksi saya.

Industri pertanian global adalah (salah satu) pihak yang bertanggung jawab atas kemiskinan umat manusia. Kata FAO, hari ini, produksi pangan dunia sebenarnya cukup untuk memberi makan semua orang. Namun karena yang menghasilkan pangan adalah industri, pangan itu dijual di pasar bebas dengan harga tinggi, sehingga banyak orang miskin tak mampu membelinya. Orang yang semula tidak miskin pun jatuh miskin karena mahalnya pangan. Tahun 2013, ada 800 juta orang di seluruh dunia yang kekurangan pangan, termasuk di Indonesia.  Baca lebih lanjut