Yemen’s humanitarian catastrophe may prove ‘irreversible’, says Norwegian Refugee agency report

Yemen’s humanitarian catastrophe may prove ‘irreversible’, says Norwegian Refugee agency report

SOURCE: http://www.crescent-online.net/2016/08/yemens-humanitarian-catastrophe-may-prove-irreversible-says-norwegian-refugee-agency-report-crescent-onlinenet-5459-articles.html

.

by crescent-online.net

August, 2016

In the 17 months since the Saudi regime launched its bombing campaign against Yemen, more than 10,000 people have been killed. The country’s infrastructure has been destroyed resulting in severe shortage of food, clean drinking water and medicines. The Norwegian Refugee Council in a report released August 8 confirms Yemen’s dire straits and warns the catastrophe may prove “irreversible”.

London, crescent-online.net
Monday August 08, 2016, 22:37 DST

Twenty one million people in Yemen, or about 80 percent of the country’s total population, are in desperate need of help, according to the Norwegian Refugee Council (NRC) in a report released today.

The NRC report said that nearly 20 million Yemenis do not have access to clean water and some 14 million people lack access to healthcare. This is the direct result of the relentless bombing by the Saudi regime and its Arabian and African allies that launched a vicious assault on the impoverished country in March 2015.

Seventeen months of bombings have destroyed schools, hospitals, factories, people’s homes and heritage sites. Similarly, food storage depots have been bombed and destroyed resulting in seven million people becoming “severely food insecure”.  Continue Reading

Dina Hoax: Jawaban Untuk Fathi Yazid Attamimi

Tulisan dibawah adalah bantahan atas tuduhan Fathi Yazid Attamimi terhadap Dina Sulaeman, tuduhan Fathi Attamimi kami muat dibawah tulisan Dina Sulaeman atau bisa dibaca langsung di status Facebook nya disini

.

FATHI HOAX

Sumber: https://www.facebook.com/dina.sulaeman/posts/10155011857833835

oleh Dina Sulaeman

Si Fathi Yazid Attamimi alias Fathi Nasrullah menulis status menuduh saya menggunakan foto hoax dalam status “Setelah Kudeta”. Saya tidak menulis tanggapan ini buat dia dan kelompoknya, karena ga ada gunanya. Saya menulis ini untuk teman-teman saya yang cerdas dan terbuka, siapa tau mereka dibully gara-gara share status saya.

1. Perhatikan track record sumber berita. Saya tidak pernah secara sengaja menyebarkan berita hoax, justru track record saya adalah membongkar berbagai hoax soal Suriah sejak 2011. Sebaliknya Fathi Yazid justru sering menyebar hoax soal Suriah. Dia juga sering diundang ke berbagai majelis pengajian (dan ujungnya menggalang dana) dengan menyebarkan hoax soal Suriah, foto-foto palsu dipakai untuk mendukung narasinya bahwa “Assad Syiah yang membantai Sunni”. Fathi adalah penggalang dana warga Indonesia untuk dikirim kepada jihadis, saya pernah tulis lengkap di sini: https://dinasulaeman.wordpress.com/2015/12/08/jawaban-untuk-fathi-yazid-attamimi/

2. Baik saya maupun Fathi sama-sama mengandalkan data sekunder. Sumber foto dan berita status “Setelah Kudeta” saya adalah 21stcenturywire.com, sebuah media anti-mainstream dan anti-Imperium yang sejauh ini saya amati menjaga asas jurnalistik. Kalau mereka belum bisa memverifikasi sebuah info, mereka akan tulis terus-terang. Beda jauh dengan media-media Islam yang digandrungi Fathi dkk para anggota klub ‘copas dulu mikir belakangan’.  Baca lebih lanjut

Tentang Liberalisme Ekonomi (2): Membongkar Kerapuhan Asumsi Liberalisme

Tentang Liberalisme Ekonomi (2): Membongkar Kerapuhan Asumsi Liberalisme

SUMBER: https://dinasulaeman.wordpress.com/2010/05/10/tentang-liberalisme-ekonomi-2-membongkar-kerapuhan-asumsi-liberalisme/

Seperti saya duga, mencoba mengkritik liberalisme hanya dalam 1000 kata (untuk konsumsi blog) adalah tantangan yang berat. Rasanya jauh lebih mudah menulis makalah 3000 kata (seperti yang biasa diperintahkan oleh dosen saya:D). Spektrum liberalisme sangat luas dan masing-masing pemikir liberal mengemukakan pendapatnya yang kadang-kadang saling bertentangan. Karena itu, saya akan membatasi diri untuk membahas mengenai asumsi liberalisme. Dengan penuh kerendahan hati, saya mengakui bahwa saya masih pada tahap belajar. Karena itu, segala sumbang saran terkait perdebatan asumsi ini akan saya pertimbangkan, demi memperbaiki kualitas tulisan ini (dan memperbaiki pemahaman saya sendiri). Terimakasih.

Pengetahuan dibangun atas dasar berbagai asumsi. Asumsi adalah sesuatu yang dijadikan landasan berpikir karena dianggap/diduga benar. Misalnya, Einstein membangun teori Relativitas dengan dilandasi asumsi bahwa kecepatan cahaya selalu tetap dalam kondisi apapun. Darimana datangnya asumsi itu? Bisa jadi dari pemikiran mendalam (berfilsafat), tapi seringkali juga sekedar berasal dari pengamatan singkat pada kenyataan di sekitar si pemikir sehingga sifatnya sangat terikat pada ruang dan waktu. Misalnya, saya sering kecopetan di biskota. Karena saat saya kecopetan selalu saja yang ada di sekitar saya adalah orang-orang berbaju kucel, saya berasumsi bahwa orang-orang berbaju kucel berpotensi menjadi pencopet dan saya akan selalu hati-hati bila berada di sekitar orang berbaju kucel. Contoh lain, ketika seorang Karl Marx melihat fenomena (pada zamannya) gereja yang berkolusi dengan kapitalis dengan cara memberi dogma-dogma agama sehingga para tertindas tetap pasrah menerima nasibnya dan berharap kelak di surga mereka akan bahagia, dia berasumsi bahwa agama adalah candu yang dijadikan tempat menghibur diri bagi orang-orang tertindas.  Baca lebih lanjut

Tentang Liberalisme Ekonomi (1): Sri Mulyani Itu Orang Baik Kok!

Tentang Liberalisme Ekonomi (1): Sri Mulyani Itu Orang Baik Kok!

SUMBER: https://dinasulaeman.wordpress.com/2010/05/07/tentang-liberalisme-ekonomi-1-sri-mulyani-itu-orang-baik-kok/

Oleh Dina Y Sulaeman

Kompas hari ini menurunkan tulisan Sindhunata yang memuji-muji Sri Mulyani. Kebetulan, saat browsing, saya ketemu grup facebook “Kami Percaya Integritas Sri Mulyani”. Di sana, banyak yang memuji2 SMI dengan kata “Saya percaya pada integritas SMI”, “Saya percaya Bu Sri orang baik.”

Sebelum saya komentari, saya mau cerita dulu. Dalam sebuah diskusi di kelas, saya mengkritik liberalisme. Dosen saya, seorang profesor senior, membela liberalisme dan mengatakan bahwa kita tidak bisa lagi menghindar dari liberalisme yang sudah sedemikian mengglobal. Yang harus dilakukan Indonesia adalah menyiasati ‘hidup’ dalam liberalisme yang sudah menjadi keniscayaan. Diskusi kami baik-baik saja, tidak ada yang tersinggung. Kami berbeda pendapat, tapi tidak saling memaksakan. Tapi ada satu hal yang saya catat: pada sebagian orang, bahkan setingkat profesor sekalipun, memang sangat mungkin sedemikian yakinnya pada liberalisme. Bukan berarti orang yang yakin pada kebenaran liberalisme adalah orang jahat; justru saya sangat yakin dosen saya ini hatinya baik. Sikapnya yang santun dan tidak tersinggung saat saya kritik, membuktikan hal itu.  Baca lebih lanjut

IMF Ditinjau dari Perspektif Liberal Institusional (Terminologi Sorensen)

IMF Ditinjau dari Perspektif Liberal Institusional (Terminologi Sorensen)

SUMBER: https://magisterhiunpad.wordpress.com/2010/02/18/imf-ditinjau-dari-perspektif-liberal-institusional-terminologi-sorensen/

©Dina Y. Sulaeman

Prolog

Alur berpikir makalah ini adalah menelusuri ideologi pendirian IMF dari sudut pandang liberal institusional (dalam terminologi yang diberikan Sorensen), lalu membandingkannya dengan praktik IMF dewasa ini yang ternyata berseberangan dengan ideologi liberal institusional. Urutan sub judul dalam makalah ini adalah sbb.

1. Prolog

2. Terminologi

3. Ideologi Liberal Institusional

4. Perjanjian Bretton Woods 1944

5. Kegagalan Bretton Woods

6. IMF dan Tesis Liberalis Konstitusionalis

7. Kesimpulan

Terminologi

Liberal institusional adalah salah satu varian dari perspektif liberalisme dalam HI. Menurut Timothy Dunne[1], liberal institusional identik dengan liberal fungsional, yang memandang bahwa institusi-institusi internasional menjalankan sejumlah fungsi terbatas, lalu lama-lama berkembang. Contoh kasusnya adalah proses terbentuknya Uni Eropa (yang semula hanya dimulai dari kerjasama perdagangan batu bara antar beberapa negara di Eropa).

Namun dalam makalah ini, penulis menggunakan terminologi liberal institusional yang ditulis oleh Jackobson dan Sorensen (2009:154) atau Marc A. Genest (2004:124). Sorensen menulis, “Kaum liberal institusional menyatakan bahwa institusi internasional menolong memajukan kerjasama di antara negara-negara.”  Sementara itu, Genest menulis, “Liberal institusional memfokuskan pada institusionalisasi kerjasama global.”  Baca lebih lanjut

Perdebatan Tentang HAM; IMF dan Liberalisme

Perdebatan Tentang HAM; IMF dan Liberalisme

SUMBER: https://magisterhiunpad.wordpress.com/2010/02/18/perdebatan-tentang-ham/

Oleh Dina Y Sulaeman

Agenda Keamanan Dunia yang Semakin Rumit

Setelah Perang Dingin, dunia menyaksikan berbagai perang domestik (perang yang terjadi di dalam suaru negara, bukan perang antar negara), seperti di Yugoslavia, Rwanda, Sudan. Selain itu, serangan 9/11 yang diikuti dengan invasi AS ke Irak dan Afganistan, serta berbagai aksi pengeboman seperti di Spanyol (2004) dan London (2005), telah membuat semakin kompleksnya agenda keamanan dunia. Ada pertanyaan besar dalam menyikapi berbagai konflik di dunia, yaitu, apakah seharusnya komunitas internasional berpegang teguh pada prinsip ‘kedaulatan negara’ dan ‘non-intervensi’, sehingga terpaksa berdiam diri bila melihat ada pelanggaran HAM di sebuah negara? Atau, sebaliknya, apakah komunitas internasional harus ikut bertanggung jawab membantu populasi yang mengalami pelanggaran HAM?

Jawaban pertanyaan ini seolah telah diberikan oleh PBB yang pada tahun 2005 menyetujui bahwa komunitas internasional memiliki tanggung jawab untuk melindungi (responsible to protect) populasi dari genosida, kejahatan perang, pembersihan etnis, dan kejahatan melawan kemanusiaan.  Baca lebih lanjut

Kejamnya Liberalisme Ekonomi

Kejamnya Liberalisme Ekonomi

SUMBER: https://dinasulaeman.wordpress.com/2010/05/10/kejamnya-liberalisme-ekonomi/

Oleh Dina Y Sulaeman

Pendahuluan: Bunuh Diri Para Petani

Dalam sidang WTO di Cancun (Meksiko), 9 September 2003, seorang petani dari Korea Selatan, Lee Kyung Hae, melakukan aksi bunuh diri di depan gedung tempat berlangsungnya sidang. Saat itu dia menggunakan pakaian bertuliskan “WTO Membunuh Para Petani”. Lee adalah seorang petani padi yang memiliki lahan luas di Korsel, namun kemudian bangkrut karena negaranya dibanjiri oleh beras impor yang harganya jauh lebih murah. Lee memperjuangkan nasib petani di negaranya dengan berbagai cara, namun gagal. Sejak Korsel mematuhi aturan liberalisasi perdagangan, jumlah petani di negara itu telah berkurang setengahnya (dari sekitar 6 juta menjadi sekitar 3 juta petani). Padahal, Korsel adalah negara agraris, persis Indonesia. Perjuangan Lee berakhir dengan aksi bunuh diri di Cancun.[1]

Di India, pada tanggal 3 September 2009 lebih dari 50 ribu petani dari berbagai penjuru India berkumpul di New Delhi dengan membawa poster bertuliskan “WTO keluar dari pertanian”. Mereka memrotes Pemerintah India yang tidak melindungi petani lokal. Karena terikat perjanjian WTO, India hanya bisa melindungi 5 persen dari produk pertaniannya dari pemotongan tarif. Akibatnya, produk lokal India kalah bersaing dari produk pangan bersubsidi dari AS dan Uni Eropa.  Baca lebih lanjut

Pasar Bebas VS Keimanan

Pasar Bebas VS Keimanan

SUMBER: https://dinasulaeman.wordpress.com/2016/08/04/pasar-bebas-vs-keimanan/

Oleh Dina Sulaeman

Di grup WA/FB berseliweran tulisan yang tesis intinya “melawan pasar bebas dengan keimanan dan menjauhi kemalasan”. Tadinya mau diam saja, tapi lama-lama yang ga tahan juga. Maaf kalau ada teman-teman yang tersinggung dengan tulisan ini. Tapi saya merasa perlu menyampaikan pendapat saya, kebetulan disertasi saya ya seputar masalah ini juga.

Begini, kalau mau bicara globalisasi, itu bahasan ekonomi-politik, kok malah kita diceramahi soal keimanan, menjauhi rasa malas, dll? Di pasar di daerah saya, jam 2 dini hari para pedagangnya sudah jualan (baca: 2 dini hari!), baik yang jual maupun yang beli, apa pantas disebut pemalas? Mereka bekerja keras mencari nafkah, tapi karena modal yang kecil, barang yg dijualbelikan impor (misal, bwbg putih, cabe, bahkan garam, impor), keuntungan terbesar diraih importir, bukan penjual di pasar, bukan pula konsumen. Tetangga saya ketika cabe melonjak tinggi, ya ga beli cabe. Apa dia malas, sampai ga mampu beli cabe? No, dia kerja jadi guru honorer di SMA dg honor 250rb sebulan (saya ga salah ketik), suaminya satpam di bank, tapi sistem outsourcing, sewaktu-waktu bisa dipecat, bergadang melulu jagain bank, dg gaji 1 jutaan. Malas? Tidak beriman?  Baca lebih lanjut

Syria as Vietnam? Why the war could be making Hezbollah stronger.

Syria as Vietnam? Why the war could be making Hezbollah stronger. 

SOURCE: http://www.csmonitor.com/World/Middle-East/2015/0312/Syria-as-Vietnam-Why-the-war-could-be-making-Hezbollah-stronger.-video

.

After Hezbollah intervened in Syria’s civil war, some warned it would become the group’s ‘Vietnam.’ A look at what Hezbollah has gained, and the price it paid.

When Sheikh Hassan Nasrallah publicly confirmed in May 2013 that Hezbollah had intervened in Syria’s bloody civil war, theIran-backed Shiite militant group was locked in a battle that resulted in its highest-ever casualty rate.

Hezbollah’s assault on the rebel-held town of Qusayr, near Homs, its first serious engagement of the Syria conflict, saw dozens of fighters killed in just 17 days of grueling street-to-street fighting.

The high casualties and the impact of multiple funerals across Shiite regions of Lebanon led some to predict that in coming to the aid of its ally, embattled Syrian President Bashar al-Assad, Hezbollah had entered its “Vietnam” – an exhausting conflict with no clear exit strategy that would erode its popular standing across the Middle East as a powerful foe of Israel.

“The battle in Qusayr will act as Hezbollah’s Vietnam and it will have repercussions on the whole of Lebanon,” Michel Mouawad, a Lebanese Christian politician who opposes Hezbollah, said at the time.  Continue Reading

In Hezbollah stronghold, Lebanese Christians find respect, stability

In Hezbollah stronghold, Lebanese Christians find respect, stability

SOURCE: http://www.csmonitor.com/World/Middle-East/2012/1221/In-Hezbollah-stronghold-Lebanese-Christians-find-respect-stability

1221-Hezbollah-stronghold-Lebanese-Christians

In a Christian home in a Shiite suburb of Beirut, images of Hezbollah leader Hassan Nasrallah share mantel and wall space with the Virgin Mary

In a home in a Shiite neighborhood in southern Beirut, images of Hezbollah leader Hassan Nasrallah share mantel and wall space with the Virgin Mary.

The face of the revered Shiite militant leader appears on posters, a calendar, and in several photographs nestled amid those of Christian homeowner Randa Gholam’s family members. Mr. Nasrallah is, Ms. Gholam asserts amid a string of superlatives, “a gift from God.”

Lebanon’s sectarian divides are legendary, and the residents of the historically Christian neighborhood of Harat Hreik, now a Hezbollah stronghold, remember well the civil war that set Beirut on fire. They were literally caught in the middle of some of the most vicious fighting, with factions firing shots off at one another from either side of their apartment buildings.  Continue Reading

Dunia Kita (3)

Dunia Kita (3)

SUMBER: https://dinasulaeman.wordpress.com/2016/06/24/dunia-kita-3/

Oleh Dina Sulaeman

(Tulisan sebelumnya bagian (1) klik disini, bagian (2) klik disini)

bilderberg1Tulisan ini [bagian terakhir, sudah ya, habis ini beneran saya off FB sampai lebaran] akan membahas mengenai anggota Imperium. Yang dimaksud Imperium adalah korporasi-korporasi raksasa dunia + politisi elit dunia yang memiliki kekuasaan untuk mengatur dunia melalui kekuatan ekonomi-politik raksasa yang mereka miliki. Nah, mereka ini saling terkoneksi dan bertemu secara teratur setahun sekali di sebuah konferensi yang disebut Bilderberg.

Sebentar, sebelum muncul tuduhan ini bakal menjadi tulisan ala teori konspirasi, saya pastikan informasi yang saya tuliskan bersumber dari media-media sekuler (the Guardian, BBC, artikelnya Pepe Escobar, dll) yang semata-mata mengait-ngaitkan berbagai fakta dengan cara rasional. Btw, konspirasi itu sebenarnya sesuatu yang ‘wajar’. Konspirasi adalah kesepakatan di balik layar, dan hampir semua tahu, para politisi pasti melakukan sangat banyak konspirasi. Bahkan di olahraga pun kadang ada konspirasinya (misalnya mengatur skor). Yang salah adalah kalau ujug-ujug menuduh konspirasi tanpa argumen yang jelas, hanya mencocok-cocokkan.  Baca lebih lanjut

Dunia Kita (2)

Dunia Kita (2)

SUMBER: https://dinasulaeman.wordpress.com/2016/06/23/dunia-kita-2/

dunia-kita

Di tulisan  “Dunia Kita (1), saya memberi link ke artikelnya Andre Vltchek (ia minta Rusia dan China untuk menyelamatkan Venezuela yang hampir tumbang dikuasai oleh Imperium). Jadi, secara global, ada negara-negara yang posisinya berlawanan dengan Imperium, yang terbesar dan terkuat adalah Rusia dan China. Di Timteng, Iran, Irak, Suriah, dan Hizbullah pun bersekutu dengan kedua kekuatan ini.

Pertanyaannya: Apa artinya kalau mau melawan Imperium, Indonesia juga harus bersekutu dengan China? Siapa yang jamin Indonesia akan jaya kalau kerjasama dengan China? Konon produk/proyek China di Indonesia banyak yang ga mutu [ini KONON ya, saya tidak mendalaminya]. Lalu, China juga mendatangkan pekerja dari China, padahal Indonesia surplus tenaga kerja (misal: kasus PLTU di Bali).  Baca lebih lanjut

Andre Vltchek: PERMOHONAN KEPADA CHINA DAN RUSIA JANGAN BIARKAN VENEZUELA JATUH!

PERMOHONAN KEPADA CHINA DAN RUSIA: JANGAN BIARKAN VENEZUELA JATUH!

SURAT TERBUKA KEPADA PRESIDEN Xi Jinping dan Vladimir Putin

SUMBER: https://www.facebook.com/notes/rossie-indira/permohonan-kepada-china-dan-rusia-jangan-biarkan-venezuela-jatuh/10153081187652325?hc_location=ufi

Yang terhormat Presiden Xi Jinping,

Yang terhormat Presiden Vladimir Putin,

andreVltchek-1-150x150Ketakutan akan bencana nuklir sekali lagi muncul menghantui dunia.
Pihak Barat sedang mencoba untuk mengisolasi dan memprovokasi dua negara besar, agung, kuat dan berdaulat, yaitu China dan Rusia. Tampaknya hasrat patologis untuk mendapatkan (atau lebih tepatnya mendapatkan kembali) kontrol penuh atas seluruh dunia sudah menghilangkan rasionalitas dan rasa kemanusiaan, jika masih ada, yang ada

di dalam otak para politisi dan ‘elit’ bisnis di Washington, London dan kota-kota lainnya.
Bahayanya sudah di depan mata. Cukup kita lihat peta dunia di awal abad ke-20 untuk menyadari bahwa pihak Barat mampu memperbudak hampir seluruh Planet, dengan paksaan, melalui rencana-rencana kolonialis dan imperialisnya.

Imperialisme Barat sudah memusnahkan ratusan juta manusia di seluruh pelosok dunia. Bahkan sekarang pun masih membunuh jutaan, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Baik China maupun Rusia sudah pernah mengalami invasi Barat yang mengerikan. Beberapa kali, kedua negara itu harus bersikap amat keras bagai baja, untuk melawan dan untuk bertahan. Dan kedua negara ini pun sekarang, sekali lagi, berdiri tegak, dan dengan agung menghadapi mereka yang mencoba untuk menghancurka mereka, memaksa mereka menyerah.  Baca lebih lanjut

Dunia Kita (1)

Dunia Kita (1)

SUMBER: https://dinasulaeman.wordpress.com/2016/06/22/dunia-kita/

.

konflik-timtengUmat Islam Indonesia yang baperan selalu merasa mereka adalah korban dari ‘kekuatan besar di luar sana’ yang anti-Islam. Padahal, di saat yang sama, kalau mau objektif melihat, justru orang-orang berjubah dan berpenampilan saleh-lah yang membawa agenda ‘kekuatan besar di luar sana’ untuk mengacaukan negeri ini. Lihat saja medsos kita penuh oleh perdebatan soal halal-haram, kafir-muslim, sementara hal-hal fundamental jadi terabaikan. Misalnya saja, perdebatan orang soal Ahok, karena diseret ke isu kafir-muslim, sentimen yang muncul menjadi tidak akurat lagi. Kasus-kasus reklamasi (kaitannya dengan lingkungan dan nasib nelayan, tidak hanya di Jakarta, tapi di seluruh Indonesia) yang sebenarnya berakar dari kerakusan para pemilik kapital, sulit terbahas dengan objektif, karena selalu ada unsur sentimen/kepentingan.

Dan sejatinya, seluruh konflik di dunia ini memang muncul akibat kerakusan para pemilik kapital global. Mereka ini sering diistilahkan sebagai ‘imperium’, atau sering juga langsung disebut “Amerika” [sebagai negara representasi imperium, negara yang paling depan menjalankan proyek-proyek Imperium] atau “Barat”. Saya akan pakai istilah Imperium.  Baca lebih lanjut

Kisah Mereka yang Buta Geopolitik

Kisah Mereka yang Buta Geopolitik

SUMBER: https://dinasulaeman.wordpress.com/2016/06/22/kisah-mereka-yang-buta-geopolitik/

.

Dalam sebuah forum yang bikin saya geregetan itu, si pembicara ‘lawan’ saya (orang ANNAS, doktor lho, ckckck) mengatakan begini, “Kalau benar Iran melawan Israel, mengapa tidak ada satu peluru pun dikirim Iran ke Israel?

Pertanyaan yang buta geopolitik ini sebenarnya dapat dengan mudah dijawab, namun moderator langsung menutup acara tanpa memberikan kesempatan kepada saya untuk menanggapi.

Orang itu mungkin pura-pura lupa bahwa Iran selama ini mengirimkan bantuan senjata dan dana ke Hamas dan para pejuang Palestina. Selain itu, bila negara-negara Arab, terutama yang berbatasan darat dengan Palestina, tidak mau mengirim senjata ke Palestina, apalagi berperang langsung melawan Israel, tentu sangat konyol bila Iran harus mengirim pasukan ke Palestina yang jauhnya 1500 km dari Teheran. Belum sampai ke Palestina, pesawat Iran tentu sudah ditembak jatuh oleh negara-negara Arab sekutu Israel. Atau, oleh tentara AS yang bercokol di pangkalan militernya di Saudi, Qatar, Bahrain, UAE, Turki, dan Mesir.  Baca lebih lanjut

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.