By Republika Newsroom
Minggu, 01 November 2009 pukul 16:41:00
SURABAYA–Pakar Hukum Kriminal Universitas Airlangga (Unair) Surabaya I Wayan Titip Sulaksana mengatakan, penahan Bibit Samad Riyanto dan Chandra Hamzah pimpinan KPK adalah arogansi dan tindakan kesewenang-wenangan yang memperburuk citra kepolisian sendiri. Dia berpendapat kewenangan Polisi perlu ditinjau ulang agar kejadian serupa tidak terulang kembali dimasa mendatang.
By Republika Newsroom
Minggu, 01 November 2009 pukul 22:24:00
JAKARTA–Guru Besar FHUI Hikmahanto Juwana mengimbau Presiden Susilo Bambang Yudhoyono agar tidak meremehkan dukungan berbagai komponen masyarakat, termasuk tokoh atas penahanan pimpinan nonaktif KPK , Bibit S. Rianto dan Chandra M. Hamzah. ” Dukungan rakyat bila tidak mampu dibendung dan diredam oleh Presiden, dengan berlalunya waktu, berpotensi untuk berubah menjadi kekuatan rakyat atau people’s power,” kata Hikmahanto kepada pers di Jakarta,Minggu .
Pada tahun 1986 , kekuatan rakyat di Filipina berhasil melengserkan Ferdinand Marcos dari kekuasaannya sebagai presiden . Demikian pula di Indonesia pada tahun 1998, kekuatan rakyat mampu melengserkan Soeharto sebagai presiden.Hikmahanto yang juga merupakan mantan anggota panitia seleksi pimpinan KPK menyebutkan berbagai pengalaman menunjukkan bahwa kekuatan rakyat tidak mungkin dihadapi dengan kekuasaan.
By Republika Newsroom
Senin, 02 November 2009 pukul 00:52:00
JAKARTA–Politisi PAN Abdillah Toha menilai DPR “tertidur” dan politisi “mati suri” sehingga mendorong rakyat bergerak meneriakkan aspirasinya melalui berbagai media, terkait kasus penahanan pimpinan KPK nonaktif Bibit Waluyo – M Chandra. “Situasi terkini jelas membuktikan bahwa ketika DPR “tertidur ” dan politisi `mati suri`, maka “DPR jalanan” bergerak sekaligus menjadi alternatif perjuangan rakyat untuk meneriakkan aspirasinya, antara lain melalui “dunia maya”,” katanya kepada ANTARA di Jakarta, Minggu malam . Baca selebihnya »
TEMPO Interaktif, Jakarta – Komisaris Jenderal Susno Duadji, Senin (2/11) malam ini, resmi dinon-aktifkan dari jabatannya sebagai Kepala Badan Reserse dan Kriminal Markas Besar Polisi Republik Indonesia. Menurut sebuah sumber yang tak mau disebutkan namanya di Mabes Polri, pelaksana tugas Kabareskrim Mabes Polri selanjutnya adalah Wakil Kepala Bareskrim Mabes Polri Inspektur Jenderal Dikdik M Arif Mansur.
“Penentuan Plt Kabareskrim itu melalui rapat Dewan Jabatan dan Kepangkatan malam ini,” ujar sumber tersebut. Baca selebihnya »
TEMPO Interaktif, Jakarta - Pengamat Kepolisian Univeritas Indonesia, yang juga Purnawirawan Polisi, Bambang Widodo Umar menilai, tindakan Kepolisian yang memproses kasus Bibit Samad Rianto dan Chandra M. Hamzah dinilai dikendalikan oleh pihak lain.
“Ada kekuatan lain yang bisa mengendalikan proses itu (proses hukum Bibit dan Chandra),” ujar Bambang Widodo Umar di Markas Imparsial, dalam rangka mendukung Bibit dan Chandra, Senin siang (2/11). Baca selebihnya »
JAKARTA – Aksi dukungan kepada mantan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah terus mengalir. Ribuan massa dari berbagai elemen ’serbu’ Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jaksel, Senin (2/11) untuk menuntut pembebasan kedua tokoh tersebut. Habis dari Mabes Polri mereka akan demo ke Istana Negara.
Selain menuntut pembebasan Bibit dan Chandra, demonstran menuntut agar aliran dana Bank Century Rp6,7 trilun diusut tuntas dan menangkap seluruh pelakunya.
Demo Himpunan Mahasiwa Islam Majelis Penyelamat Organisasi (PB HMI-MPO) di depan Mabes Polri Jakarta, Senin (2/10).
JAKARTA, KOMPAS.com — Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamatan Organisasi (HMI-MPO) melakukan aksi demonstrasi menuntut pembebasan dua pimpinan KPK (nonaktif), Chandra M Hamzah dan Bibit S Rianto. Mereka juga menuntut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono segera mencopot jabatan Kapolri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri dan Jaksa Agung Hendarman Supanji.
Ali Mochtar Ngabalin datang ke Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Senin (2/11), untuk menyampaikan dukungan dan solidaritas atas penahanan pimpinan KPK (nonaktif) Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah.
JAKARTA, KOMPAS.com — Pada Senin (2/11), puluhan orang mulai berdatangan ke Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, untuk menyampaikan dukungan dan solidaritas mereka. Salah satunya mantan anggota DPR, Ali Mochtar Ngabalin. Ia mengimbau agar lembaga antikorupsi tersebut jangan dibumihanguskan.
“Pemerintah harus mendengarkan suara publik. Ini untuk kepentingan bangsa dan negara,” ujar Ngabalin kepada para wartawan.
SOLO, KOMPAS.com - Sejumlah elemen masyarakat di wilayah Surakarta, Senin (2/11) mendesak kepolisian segera mengeluarkan Bibit Samad Riyanto dan Chandra Hamzah (pimpinan KPK nonaktif) dari tahanan. Mereka menilai polisi tidak cukup bukti menahan Bibit dan Chandra.
Tuntutan agar polisi melepaskan Bibit dan Chandra disampaikan langsung beberapa akademisi, advokat, lembaga swadaya masyarakat, anggota DPRD, dan tokoh masyarakat, saat mendatangi Markas Kepolisian Wilayah Surakarta, Senin siang.
Adnan Buyung Nasution, Ketua Tim Independen Verifikasi Faktda dan Proses Hukum Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah
JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhirnya mengakomodasi desakan masyarakat untuk menengahi konflik KPK-Polri terkait proses hukum terhadap Wakil Ketua KPK (nonaktif), Bibit Samad Rianto dan Chandra M Hamzah.
Beberapa kali saya membaca artikel di Eramuslim yang menyebutkan bahwa kaum Sunni ditindas di Iran, mesjid-mesjid Sunni dibakar, dan bahkan lebih bombastis lagi, ‘ulama’ Sunni dibunuhi. Sudah pasti, Eramuslim tidak melakukan investigasi sendiri ke Iran, melainkan mengutip dari situs-situs lain yang juga wallahua’lam kredibilitasnya.
Tentu saja, melihat rendahnya kualitas pemberitaan (yang kental sekali nuansa kebencian dan sentimen), saya merasa tak perlu repot-repot menghiraukan artikel seperti itu (dan juga tak mau merendahkan diri untuk me-link artikel2 yang saya maksud itu di sini; silahkan cari sendiri bila berminat). Anyway ini bukan blog Syiah, tapi konsern di bidang kajian timur tengah (dan hubungan internasional). Itulah sebabnya saya suka mendelete komen-komen yang masuk yang menyeret-nyeret perdebatan relijius. Kalau mau, silahkan ribut masalah Sunni-Syiah di blog orang lain saja.
Ehud Olmert Pidato Di San Francisco Di Teriaki Sebagai Penjahat Perang
Si penjahat Perang, Pembantai Rakyat Palestina dan lebanon Ehud Olmert, ketika berpidato di San Francisco di teriaki oleh protestan sebagai Penjahat perang. Videonya lihat disini.
Rakyat Amerika mengembalikan Demokrat kepada kekuasaan di Kongres salah satunya untuk menghentikan perang di Irak dan Afghanistan. Tapi apa yang mereka dapatkan? Tambahan pasukan. Rakyat Amerika pun memilih Barack Obama untuk menghentikan perang di Irak dan Afghanistan. Sejak itu, apa yang mereka dapatkan?
18 Oktober 2009, pukul 8 pagi waktu Iran bagian tenggara, bom itu meledak. Targetnya, “pertemuan persatuan” antara ketua-ketua suku Sunni dan Syiah di Propinsi Sistan-Balusistan yang difasilitasi Garda Revolusi Iran di kota perbatasan Pishin, dekat Sarbaz. Sistan-Balusistan merupakan rumah bagi sebagian besar minoritas Muslim Sunni di Iran.
Tak lama setelah aksi brutal itu, sayap teror Jundullah (tentara tuhan) mengaku bertanggung jawab atas ledakan yang telah merenggut lebih daripada 30 nyawa manusia, termasuk di antaranya enam komandan Garda Revolusi, pasukan elit militer Iran. Sejak empat tahun lalu, setidaknya inilah aksi kesembilan yang dilakukan Jundullah, tak terkecuali serangan bom atas iring-iringan kendaraan Presiden Mahmoud Ahmadinejad pada Desember 2005 yang menewaskan seorang pasukan pengawal.
The United States and Western “bomb, bomb, bomb Iran” crowd – hysteria running at fever pitch ahead of Thursday’s multilateral nuclear talks in Geneva – could do worse than have a word with Brazilian President Luis Inacio Lula da Silva.
Lula actually talked to Iranian President Mahmud Ahmadinejad face-to-face for over an hour on the sidelines of the United Nations General Assembly last week. He invited Ahmadinejad to visit Brazil in November. About the meeting, he went straight to the point, “What I wish for Iran is what I always wanted for Brazil – a peaceful, civilian nuclear program.”