Di Manakah Ribuan Al Nimr itu, Alwi? (1)

Di Manakah Ribuan Al Nimr itu, Alwi? (1)

SUMBER: http://liputanislam.com/analisis/di-manakah-ribuan-al-nimr-itu-alwi-1/

Oleh: Dina Y. Sulaeman*

Tulisan ini adalah tanggapan atas tulisan “Ada Banyak Al Nimr di Iran” yang ditulis Alwi Alatas (AA). Di judul AA menyebut “banyak”, tetapi di dalam artikel, dia menyebut “ribuan”. Saya akan memulai tulisan ini dengan mengutip pidato Ayatullah Khamenei yang dikritisi AA di akhir tulisannya, karena inilah poin terpenting dalam tulisan AA maupun tulisan ini.

The Almighty God shall not ignore the innocents’ blood and the unjustly spilled blood will backfire on the politicians and the executives of this regime very quickly. The Muslim world and the entire world must feel responsible towards this issue,” kata Ayatullah Khamenei, dikutip AA dari situs berbahasa Inggris.

AA berkomentar, ““Tuan Khamena’i, apakah Anda tidak merasa bertanggung jawab atas tumpahnya ribuan ‘darah tak berdosa’ di Iran, di bawah pemerintahan Anda sendiri? Darah-darah itu pada satu hari nanti akan memercik juga ke wajah Anda, di dunia ini, di dalam lembaran-lembaran Sejarah.” 

AA tidak mengutip lanjutan perkataan Khamenei, “این عالمِ مظلوم نه مردم را به حرکت مسلحانه تشویق می‌کرد و نه به صورت پنهانی اقدام به توطئه کرده بود، بلکه تنها کار او، انتقاد علنی و امر به معروف و نهی از منکرِ برخاسته از تعصب و غیرت دینی بود.” (Ulama mazlum ini [Syekh Nimr] tidak memprovokasi rakyat untuk melakukan gerakan bersenjata, dan tidak pula secara sembunyi-sembunyi melakukan konspirasi; satu-satunya yang dilakukannya adalah mengkritik secara terang-terangan, serta amar ma’ruf nahi munkar yang didasari kecintaan pada agama).[1]

Di sinilah POIN PENTING-nya: Iran tidak mengkritik model hukuman mati, tetapi ALASAN Syekh Nimr dihukum mati. Iran menerapkan hukuman mati, seperti juga di Arab Saudi, Indonesia, atau AS (ada 58 negara di dunia yang menerapkan hukuman mati).

Kemudian, AA mengambil rujukan utamanya dari Iran Human Rights. Dalam situsnya, IHR menyatakan Iran Human Rights condemns the death penalty for any crime (IHR mengutuk hukuman mati untuk SEMUA KEJAHATAN). [2] Artinya, dalam pandangan IHR, kejahatan terorisme, upaya kudeta, pembunuhan, bandar narkoba, atau apapun, tidak boleh dihukum mati. Dan karena AA mengakui IHR sebagai sumber valid, seharusnya dia tak perlu menulis “Terlepas dari tepat tidaknya eksekusi yang dilakukan pemerintah Saudi,…”. AA seharusnya tak perlu malu-malu mengakui bahwa dia sepakat dengan IHR: Arab Saudi salah karena menghukum mati Syekh Nimr.

Manipulasi Informasi

Dalam tulisan singkat ini, saya tidak membahas tepat/tidaknya hukuman mati. Saya sekadar ingin membuktikan benar atau salahnya klaim AA bahwa di Iran, “ada ribuan Al Nimr di Iran” dan “kaum Sunni dihukum mati karena memiliki hubungan dengan kelompok Salafi.”

Tuduhan ini terlihat didasarkan (dan dimanipulasi) dari info situs IHR yang menulis, “[Shahram Ahmadi dituduh] having relations with Salafi groups and assassinating Sanandaj’s Sunni Friday Prayer Imam” (memiliki hubungan dengan kelompok Salafi dan membunuh Imam Sholat Jumat SUNNI di Iran).[3] Di tulisannya, AA sama sekali tidak menyebut bahwa Imam Sholat Jumat yang syahid itu SUNNI, namanya Syekh Mamosta Borhan Ali.[4]

Siapa kelompok Salafi? Semua tahu, Al Qaida, ISIS, dan kelompok-kelompok teror sejenisnya indentik dengan paham Salafisme/Wahabisme. Namun AA (dan IHR) “memperhalus” kata “terorisme” dengan “Salafi”. AA menulis “Menjadi salafi atau berhubungan dengan kalangan salafi tampaknya di Iran dianggap sebagai suatu kejahatan, satu bentuk moharebeh.” (kata “tampaknya” jelas opini subjektif).

Definisi moharebeh yang digunakan oleh AA jelas bersumber dari sumber sekunder. Bila kita merujuk langsung ke Kitab UU Hukum Pidana Islam 1370, «محاربه و افساد فی الارض» “moharebeh dan perusakan di muka bumi” dinyatakan sebagai salah satu kejahatan dengan hukuman pidana maksimal (hukuman mati). Dalam pasal 183, dinyatakan bahwa “barang siapa yang menggunakan senjata dengan tujuan menciptakan ketakutan dan atau menghilangkan kebebasan dan keamanan di tengah-tengah masyarakat, dia dinyatakan sebagai mohareb dan pelaku kerusakan di muka bumi.”

Ayat 1: Jika seseorang menggunakan senjata dengan tujuan tersebut, tapi karena ketidakmampuannya, tidak sampai menimbulkan ketakutan seorang pun, dia tidak disebutmohareb.

Ayat 2: Jika tujuan penggunaan senjatanya itu murni masalah pribadi dengan target satu atau beberapa orang, dan tidak sampai menimbulkan ketakutan pada pihak lain yang tidak terlibat, dia juga tidak disebut mohareb.

Ayat 3: Senjata yang dimaksud meliputi senjata api dan ataupun senjata tajam. [5]

Jadi, moharebeh tidak ada urusan dengan “salafi” seperti diklaim AA.

Aksi-Aksi Terorisme di Iran

Iran, terutama di kawasan perbatasan dengan Irak dan Pakistan, sering diganggu oleh aksi-aksi terorisme. Iran adalah negara dengan jumlah korban akibat aksi teroris TERBANYAK di dunia. Sejak kemenangan Revolusi Islam 1979 sampai tahun 2014, jumlah korban tewas akibat aksi teror yang dilakukan berbagai kelompok teroris mencapai angka 17.180 orang. Sebagian yang menjadi korban tewas itu adalah para pejabat tinggi negara seperti Presiden Rajai, PM Bahonar, Ketua MA Beheshti, Panglima Angkatan Bersenjata Shirazi, dll. [6] Ayatollah Khamenei sendiri adalah korban teror yang dilakukan kelompok Furqan. Hingga kini, tangan kanannya kisut dan tak bisa digerakkan akibat terkena serpihan bom saat sedang berceramah di Masjid Abu Dzar, Teheran (1981).

Di antara kelompok-kelompok teror yang berkali-kali menyerang Iran adalah Mujahideen-e-Khalq/MEK (berbasis di Irak, sudah “mati” dan pentolannya mendapat suaka di Barat) dan Jundullah (berbasis di Pakistan). Sejak Desember 2005 – Oktober 2009, ada 98 warga Iran yang meninggal akibat aksi teror Jundullah. Di antaranya adalah aksi teror yang terjadi pada tanggal 14 Februari 2007, yang menewaskan 13 orang. Aksi ini secara resmi disebut “aksi teror” oleh Uni Eropa dan Dewan Keamanan PBB. [7] (Bersambung ke bagian kedua)

[1] http://farsi.khamenei.ir/news-content?id=31802

[2] http://iranhr.net/en/articles/2349/

[3] http://iranhr.net/en/articles/2349/

[4] http://www.tabnak.ir/fa/pages/?cid=63955

[5] http://law.tabrizu.ac.ir/article_2083_320.html

[6] http://www.irna.ir/fa/News/81741947/

[7] http://en.people.cn/200702/17/eng20070217_350759.html

______________

 *Dina Y. Sulaeman adalah kandidat Doktor Hubungan Internasional Unpad, peneliti ICMES (Indonesia Center for Middle East Studies)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: