Kritikan untuk Paket Bali

Kritikan untuk Paket Bali

SUMBER: https://dinasulaeman.wordpress.com/2014/01/01/kritikan-untuk-paket-bali/

OlehDina Y. Sulaeman*

Sepanjang konferensi, nyata terlihat, AS lah yang paling ngotot menentang keinginan India menaikkan subsidi bagi para petaninya sendiri. AS mewakili kubu negara-negara maju, sedangkan India mewakili grup negara-negara berkembang kelompok G33. Negara-negara miskin ini juga mengekor India. Meski mewakili G33 dan negara-negara miskin, uniknya, tinggal India yang masih bertahan melawan kubu negara maju. Yang lain sudah tumbang dan menyerah demi kata sepakat.

Ketua WTO Roberto Azevedo mengklaim, “Kesepakatan ini akan meningkatkan perdagangan dunia sebanyak US$ 1 triliun (sekitar Rp 12.000 triliun).” Tapi pertanyaannya, siapa yang akan menikmati kue senilai US$ 1 triliun itu? Jawabannya; pasti yang menang di arena tempur perdagangan bebas. Yang kalah, bersiaplah digempur barang-barang impor dalam memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papannya.  Dan kita bisa jadi salah satunya

____________

Dari sekian banyak liputan media (internet) soal Paket Bali, penjelasan yang mudah dipahami dan kritis saya dapatkan dari Nefosnews.com

Berikut beberapa poin yang saya temukan dari liputan Nefosnews:

1. Dua isu yang gagal disepakati dalam pertemuan General Council WTO di Jenewa, pada 26 November 2013:

(a) Soal fasilitas perdagangan:  WTO yang dimotori Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa, ingin pelabuhan di tiap negara terbebas dari hambatan.

(b) Soal pertanian: mencakup penimbunan stok untuk ketahanan pangan, persaingan ekspor produk pertanian dan administrasi Tariff-Rate Quota (TRQ);  agenda yang diusung negara-negara maju adalah mendorong efisiensi dan efektivitas para anggota WTO dalam pendistribusian barang dagangan. 

2. Dalam Konferensi Bali, kedua isu itu dibawa kembali.  Kali ini, India yang melawan keras. Meski sebenarnya, yang diminta India hanya izin penambahan batas cadangan pangan negara dari 10% menjadi 15%. Pemerintah India sadar, tanpa subsidi yang memadai, mereka tak akan mampu mencukupi urusan perut 1,2 miliar rakyatnya. Bisa-bisa mereka bakal terus bergantung pada pasokan hasil bumi negara-negara maju. Negara-negara maju awalnya menentang karena menganggap cadangan pangan yang terlalu banyak akan mengganggu keseimbangan harga internasional.

3. Sepanjang konferensi, nyata terlihat, AS lah yang paling ngotot menentang keinginan India menaikkan subsidi bagi para petaninya sendiri. AS mewakili kubu negara-negara maju, sedangkan India mewakili grup negara-negara berkembang kelompok G33. Negara-negara miskin ini juga mengekor India. Meski mewakili G33 dan negara-negara miskin, uniknya, tinggal India yang masih bertahan melawan kubu negara maju. Yang lain sudah tumbang dan menyerah demi kata sepakat.

Isi proposal G33 yang berkaitan dengan sektor pertanian menyangkut tigal hal. Yakni, Export Competition, yaitu produk ekspor pertanian dibebaskan dari kandungan subsidi ekspor. Tariff Rate Quota, jenis fasilitas perdagangan yang digunakan untuk melindungi produk komoditi domestik atas produk impor. Dan Stockholding For Food Security, yaitu pembelian stok pangan oleh pemerintah untuk ketahanan pangan yang dilakukan secara transparan dan sejalan dengan tujuan atau pedoman secara terbuka.

4. Konferensi WTO ke-9 ternyata membuat kita harus merogoh kocek dalam. Kesekjenan WTO hanya mau mengeluarkan dana untuk memenuhi sebagian kecil pembiayaan yang dibutuhkan guna terselenggaranya konferensi .

Entah apa yang ada di pikiran pemerintah sehingga mau memfasilitasi kumpul-kumpul WTO ini. Padahal, dari agenda yang diajukan negara-negara pengekspor hasil tani yang besar, seperti AS, Uni Eropa,  dan Australia, misi mereka jelas mengincar negara-negara berkembang dan miskin sebagai pasar. Makanya mereka ngotot diadakannya pasar terbuka.

5. Ketua WTO Roberto Azevedo mengklaim, “Kesepakatan ini akan meningkatkan perdagangan dunia sebanyak US$ 1 triliun (sekitar Rp 12.000 triliun).” Tapi pertanyaannya, siapa yang akan menikmati kue senilai US$ 1 triliun itu? Jawabannya; pasti yang menang di arena tempur perdagangan bebas. Yang kalah, bersiaplah digempur barang-barang impor dalam memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papannya.  Dan kita bisa jadi salah satunya.

6. India akhirnya melunak dan mau tanda tangan Paket Bali, setelah AS memberi keistimewaan bagi India, yaitu menyetujui negara ini menaikkan subsidi pertanian menjadi 15%, tapi hanya untuk waktu empat tahun. Di pihak lain, India kokoh pada pendiriannya bahwa subsidi 15% tidak dibatasi durasi waktu. “Bagi India, ketahanan pangan adalah harga mati,” tegas Sharma.

Yang menyedihkan adalah tanggapan Indonesia. Indonesia sebagai tuan rumah dan sangat berharap terwujudnya sejarah melalui Pakta Bali, juga ngotot agar India dan AS segera ‘akur’. Bayu Krisnamurthi, Wakil Menteri Perdagangan Indonesia, sekaligus Pimpinan Delegasi Indonesia untuk WTO, ingin India agar lebih fleksibel. “Jika tak ingin empat tahun, oke berapa? 100 tahun?” ujar Bayu sinis.

7. Negara-negara maju akhirnya setuju untuk mengurangi subsidi pertanian, serta mengizinkan negara berkembang menaikkan subsidi dari 10% menjadi 15% dari total produksi pertanian.

Gita Wirjawan, Menteri Perdagangan, percaya dengan adanya pengurangan subsidi pertanian di negara-negara maju, dapat membangkitkan gairah petani kita. Apalagi, negara-negara maju juga memperbolehkan negara berkembang dan miskin untuk menaikkan subsidi pertaniannya. “Secara langsung atau tidak langsung, ini membantu semangat untuk lebih banyak lagi orang mau menjadi petani,” ujar Gita.

Padahal, komitmen tersebut disampaikan setelah kondisi pertanian mereka memang sudah tak perlu disubsidi. Negara-negara maju seperti Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa selama ini memberikan subsidi yang sangat besar kepada para petaninya. Subsidi pertanian AS sekitar US$ 100 miliar per tahun, sementara Uni Eropa sekitar EUR 80 miliar per tahun. Subsidi yang besar tersebut membuat sektor pertanian mereka maju pesat. Dari yang semula mengimpor hasil tani dari negara berkembang, kini justru menguasai pasar pangan negara berkembang.

Sebaliknya, banjirnya produk pangan impor, sudah terlanjur membuat sektor pertanian Indonesia terpuruk. Jumlah rumah tangga tani terus melorot. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), dalam 10 tahun terakhir angkanya berkurang sebanyak  5,1 juta rumah tangga tani. Hampir semua bahan pangan kita diimpor. Pengurangan subsidi tidak akan banyak manfaatnya, jika kita tetap mengikuti sistem dagang WTO. Jangan lupa bahwa meski ada penambahan subsidi, tapi ada klausul perjanjian lain di WTO yang semakin membuka banjir impor (lihat poin 8).

8. Tambahan dari Bonnie Setiawan (pengamat ekonomi):  Paket Bali sebenarnya tidak mencapai hasil apa-apa di bidang pertanian. Konsesi yang diberikan negara maju di bidang pertanian hanya menjadi semacam hiasan saja agar pantas untuk disetujui, karena yang sebenarnya menjadi tujuan Paket Bali adalah Trade Facilitation (Fasilitasi Perdagangan), dan hal ini sebenarnya sudah terbaca sejak WTO masih dipegang oleh Pascal Lamy. Dalam sidang General Council WTO bulan Mei 2013, Pascal Lamy menyatakan bahwa “The discussion focused on the systemic conditions under which global value chains can work better, including the importance of trade facilitation measures, the blurring frontier between goods and services.”

Menurut Bonnie, dengan disepakatinya Trade Facilitation ini, Indonesia akan menjadi menjadi ‘pelayan’ dari rantai pasokan global, yaitu sebagai pensuplai bahan mentah, pasar bagi sektor jasa dari luar dan pasar yang besar bagi barang-barang import dari luar.

Sumber:

http://nefosnews.com/post/opini/kurangi-subsidi-pertanian-komitmen-telat-negara-maju

http://nefosnews.com/post/opini/india-versus-as-indonesia-ikut-siapa

http://nefosnews.com/post/opini/paket-wto-itu-disahkan-di-indonesia

http://nefosnews.com/post/opini/wto-jauh-dari-cita-cita-berdikari-ekonomi

Tulisan Bonnie Setiawan bisa dibaca di sini:

http://ekonomi.kompasiana.com/bisnis/2013/12/13/paket-bali-wto-kemenangan-korporasi-bagi-rantai-pasokan-multilateral-618265.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: