Dunia Kita (1)

Dunia Kita (1)

SUMBER: https://dinasulaeman.wordpress.com/2016/06/22/dunia-kita/

.

konflik-timtengUmat Islam Indonesia yang baperan selalu merasa mereka adalah korban dari ‘kekuatan besar di luar sana’ yang anti-Islam. Padahal, di saat yang sama, kalau mau objektif melihat, justru orang-orang berjubah dan berpenampilan saleh-lah yang membawa agenda ‘kekuatan besar di luar sana’ untuk mengacaukan negeri ini. Lihat saja medsos kita penuh oleh perdebatan soal halal-haram, kafir-muslim, sementara hal-hal fundamental jadi terabaikan. Misalnya saja, perdebatan orang soal Ahok, karena diseret ke isu kafir-muslim, sentimen yang muncul menjadi tidak akurat lagi. Kasus-kasus reklamasi (kaitannya dengan lingkungan dan nasib nelayan, tidak hanya di Jakarta, tapi di seluruh Indonesia) yang sebenarnya berakar dari kerakusan para pemilik kapital, sulit terbahas dengan objektif, karena selalu ada unsur sentimen/kepentingan.

Dan sejatinya, seluruh konflik di dunia ini memang muncul akibat kerakusan para pemilik kapital global. Mereka ini sering diistilahkan sebagai ‘imperium’, atau sering juga langsung disebut “Amerika” [sebagai negara representasi imperium, negara yang paling depan menjalankan proyek-proyek Imperium] atau “Barat”. Saya akan pakai istilah Imperium. 

Imperium ingin terus mengeruk kekayaan dari berbagai penjuru dunia, tanpa pernah puas. Yang jadi korban bukan cuma negara-negara muslim. Jadi, kaum muslim ga usah baper-lah lalu membabi-buta mengaku jadi korban kaum kafir. Di belahan dunia lain, Amerika Selatan, misalnya, itu orang-orang ‘kafir’ juga jadi korban Imperium.

Luput dari perhatian kita orang Indonesia, pemimpin-pemimpin pro-kesejahteraan rakyat di Argentina dan Brazil ditumbangkan, digantikan oleh orang-orang pro-Imperium. Kebijakan-kebijakan sosial (pro-rakyat) langsung dilucuti diganti dengan berbagai perjanjian kerjasama dengan Imperium. Venezuela, negara yang selama ini terdepan dalam melawan kekuatan Imperium saat ini juga sedang terjepit [baca penjelasannya di sini ( https://www.facebook.com/notes/rossie-indira/permohonan-kepada-china-dan-rusia-jangan-biarkan-venezuela-jatuh/10153081187652325?hc_location=ufi  )].

Negara-negara yang ingin melawan dominasi keuangan Imperium berusaha membentuk IMF tandingan, yaitu BRICS (didirikan oleh Brazil, Russia, India, China dan South Africa) [ https://dinasulaeman.wordpress.com/2014/11/12/indonesia-keluar-saja-dari-g-20/ ].  Namun kini, BRICS sudah goyah seiring dengan kekacauan politik di Brazil. Di Timur Tengah, negara-negara yang melawan Imperium dihancurkan, yaitu Libya dan Suriah, atau ditekan habis-habisan (Iran). Proses penghancuran rezim-rezim di berbagai negara demi kepentingan Imperium sudah dicatat oleh William Blum dalam bukunya “Demokrasi, Ekspor AS Paling Mematikan”. [ https://dinasulaeman.wordpress.com/2014/12/17/taliban-dan-berpikir-sistemik/]

Terkadang, pemimpin yang ditumbangkan memang tidak disukai rakyatnya. Misalnya, dulu Suharto (jangan naif mengira penumbangan Suharto benar-benar ‘murni’ hasil perjuangan demo mahasiswa) atau Mubarak di Mesir. Tapi tentu, Imperium tidak akan mau mensponsori (dana, terutama) kalau hasil akhirnya bukan untuk mereka. Tak heran segera setelah reformasi, ekonomi Indonesia menjadi semakin neoliberal. Tengok saja perubahan UU yang terjadi di berbagai sektor, yang memberi kesempatan sangat luas kepada asing untuk mencari kekayaan di negeri ini.

Jadi, sekali lagi, berhentilah nyinyir menuduh sana-sini anti-Islam. Rakyat di negara-negara berkembang dan miskin di dunia ini, baik yang Islam maupun non-Islam, semua sama-sama sedang jadi korban Imperium. Khusus untuk umat Islam, ajaran Islam sudah memberitahukan jalan keluarnya, misalnya berani melawan kezaliman, berani menegakkan keadilan, berpikir, berakal (mencari ilmu), menjaga keselamatan lingkungan, berjuang meraih kedaulatan pangan, dll.

Tapi sayangnya, yang dikedepankan oleh kaum-yang-merasa-paling-soleh di Indonesia ini selalu saja permusuhan dan kebencian, yang tak akan membawa kita kemana-mana, selain semakin terpuruk, dan di saat yang sama, Imperium semakin leluasa mengeruk kekayaan kita tanpa perlu repot-repot kudeta atau mengerahkan jihadis (seperti di Timteng). Contohnya, perusahaan-perusahaan semen (yang sahamnya sebagian milik asing), saat ini sedang merangsek tanah-tanah pertanian, sumber kekuatan pangan kita, dan berkonflik dengan para petani. Karena sebagian besar dari kita sibuk sendiri, kasus-kasus tragis ini tak terperhatikan. Para petani berjuang sendiri dalam sepi.

Foto: saya ambil dari FP Syrian Republic” [ https://www.facebook.com/United.Syrian.Republic/?fref=ts ]. Kata si doktor dari ANNAS [baca status saya kemarin ( https://dinasulaeman.wordpress.com/2016/06/22/kisah-mereka-yang-buta-geopolitik/ )], semua konflik yang ada adalah gara-gara orang Syiah. Dan narasi seperti ini disebarluaskan secara masif di seluruh Indonesia. 1 spanduk 200rb, di seluruh Indonesia entah berapa puluh ribu spanduk dipasang. Jutaan eksemplar buku mereka sebar gratis. Butuh uang milyaran itu, darimana? Kalian pikir si pendana tidak memikirkan ‘balik modal’? Dengan cara apa balik modalnya? Kalau saja kalian mau berpikir, kalian akan tahu bahwa semua ini aliran dananya akan balik lagi ke Imperium.

*Let’s Say No To Koplakisme*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: