Saudi dan ISIS, Bak Pinang Dibelah Dua

Saudi dan ISIS, Bak Pinang Dibelah Dua

SUMBER: http://liputanislam.com/opini/saudi-dan-isis-bak-pinang-dibelah-dua/

.

Mengamati pola gerakan ISIS yang sangat radikal dan paham ke agamaannya yang keras (ekstrim) membuat saya teringat dengan sejarah berdirinya Kerajaan Arab Saudi ( KAS) di Jazirah Arabia ( Semenanjung Arab). Saya mencoba kembali membuka sejarah KAS, dan setelah saya amati, terdapat dua sisi kesamaan antara ISIS dan KAS;

1. Paham keagamaan yang ektrim. Paham keagamaan yang dianut ISIS adalah paham penafikan (ilgha’) terhadap paham yang lain, atau yang biasa disebut dengan takfiri, sebuah paham yang menyatakan bahwa paham lain yang tidak sama dengan dianggap sesat, kafir dan murtad, dan praktek-praktek keagamaan yang menurut mereka menyimpang dianggap sebagai perbuatan musyrik. Karena itu, mereka mengganggap kafir dan musyrik orang-orang dan kelompok Islam yang tidak sejalan dengan mereka. 

Mungkin, kita  semua telah tahu bahwa paham keagamaan resmi KAS seperti itu. Sehingga setiap jamaah Umrah dan Haji tidak akan mendapatkan situs-situs sejarah Islam yang mempunyai nilai sejarah yang tinggi di tempat-tempat suci ( Mekah dan Madinah). Kalaupun situs-situs itu masih ada, maka terdapat di sekitarnya board besar yang bertuliskan dengan beberapa bahasa (termasuk bahasa Indonesia) dan isinya peringatan akan kemusyrikan.

Lebih dari itu, para jamaah haji dan umrah merasakan tidak nyaman ketika berziarah ke kuburan Nabi saw. Mereka dihardik dan dibentak dengan kata-kata musyrik, haram dan bid’ah oleh paramuthawwi’ dengan cara yang kasar. Konon, sebelum KAS berdiri, di mesjidil Haram dibentukhalaqah-halaqah (kelas-kelas) yang diisi oleh para ulama dari berbagai mazhab dan aliran dalam Islam, tapi sejak KAS berdiri hingga saat ini, halaqah-halaqah itu hanya diisi oleh satu paham keagamaan saja, yaitu paham keagamaan resmi KAS.

Mazhab dan aliran yang lain dilarang bahkan sebagian darinya dianggap sesat dan kafir (seperti aliran tasawwuf). Penganut paham keagamaan seperti ini jelas tidak akan toleran dan tidak akan bersahabat dengan penganut paham lain.

2. Gerakan dakwah yang radikal. ISIS dibangun di atas teritorial yang dikuasai oleh mereka dengan cara perampasan wilayah Aleppo ( Suria) dan Mosul ( Irak ) yang secara de facto dan de jure berada dalam kekuasaan dua negara tersebut. ISIS secara semena-mena mengklaim dua wilayah itu sebagai kekuasaannya. Mereka memaksanya penduduk dua wilayah itu mengikuti paham keagamaan mereka secara paksa. Mereka tidak segan-segan membunuh dan membantai orang-orang yang tidak menerima paham mereka, seperti kelompok Muslim Syiah dan umat Kristiani.

Demi menjaga keutuhan paham keagamaan, mereka menghancurkan kuburan orang yang disucikan oleh penduduk setempat ( kuburan Nabi Yunus di Mosul dan kuburan sahabat Ammar bin Yasir di Damaskus dan lainnya). Juga gereja kaum Kristiani tidak luput dari penghancuran.

Hal yang sama; pembantaian terhadap penganut paham lain dan penghancuran kuburan orang-orang yang disucikan, telah dilakukan oleh para pendahulu dari pendiri KAS. Sejarah mencatat bagaimana mereka masuk ke Mekkah pada 1806, dan merusak kiswah, kain penutup Ka’bah yang terbuat dari sutra. Kemudian merobohkan puluhan kubah di Ma’la, termasuk kubah tempat kelahiran Nabi Saw, tempat kelahiran Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Ali, juga kubah Sayyidatuna Khadijah, dan masjid Abdullah bin Abbas.

Mereka juga mencaci-maki ahli kubur bahkan sebagian mereka kencing di kubur kaum salihin tersebut. Kekejaman mereka lainnya adalah meruntuhkan kubah-kubah di atas makam sahabat-sahabat Nabi Saw yang berada di Ma’la (Mekkah), di Baqi’ dan Uhud (Madinah).  Semuanya diruntuhkan dan diratakan dengan tanah dengan mengunakan dinamit penghancur. Demikian juga kubah di atas tanah kelahiran Nabi Saw. Namun karena gencarnya desakan kaum Muslimin International maka dibangun perpustakaan.

Mereka benar-benar tidak pernah menghargai peninggalan sejarah dan menghormati nilai-nilai luhur Islam. Pada puncaknya tahun 1924, mereka menduduki Mekkah, lalu ke Madinah dan Jeddah dengan memanfaatkan kelemahan Turki akibat kekalahannya dalam Perang Dunia I. kemudian mendaklarasikan KAS.

Sejarah terulang kembali, namun yang membedakan keduanya adalah bahwa KAS berdiri saat media informasi belum sehebat dan seluas saat berdirinya ISIS sehingga hanya sedikit dari kaum Muslimin yang mengetahui sejarah KAS. Kalangan umum dari kaum Muslimin menganggap bahwa KAS adalah lanjutan dari kekuasaan Islam jaman dahulu sehingga mereka menganggap KAS adalah refresentatif dari kerajaan Islam yang asli. Sementara ISIS dirikan saat media massa sudah maju dan berkembang pesat, sehingga keburukan mereka mudah terpantau oleh dunia. Keberuntungan saja yang berpihak ke KAS sehingga kekejaman dan keburukan mereka hilang dari pantau umum. (HMA)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: