Puisi Anis Matta Ini Membahayakan NKRI (Puisi Pujian Kepada Bin Laden)

Puisi Anis Matta Ini Membahayakan NKRI

SUMBER: http://hankam.kompasiana.com/2013/06/03/puisi-anis-matta-ini-membahayakan-nkri-565365.html

.

gatotOleh Gatot Swandito

Pagi ini (03/05/2013) sekitar pukul pukul 08.00 terjadi aksi bom bunuh diri di Mapolres Poso. Waktu dan tempat yang dipilih pelaku adalah senin pagi di mana biasanya anggota polisi melakukan apel pagi. Beruntung apel pagi itu ini tidak dilakukan di tempat biasanya yaitu di depan mushola, tapi dilakukan di halaman belakang Mapolres Poso.

Aksi pemboman di Malpolres Poso sangat mirip dengan aksi yang terjadi pada 15 April 2011 lalu di mana Muhammad Syarif sebagai pelaku meledakkan bom saat berlangsung shalat Jumat di Masjid Az Zikra Mapolresta Cirebon di mana saat itu masjid dalam kondisi penuh. Akibatnya sejumlah korban luka berjatuhan termasuk Kapolres Cirebon Kota AKBP Herukoco.

Pertanyaannya, mengapa harus Poso (lagi)? Apakah Poso, juga Ambon sudah difatwakan sebagai ladang jihad di mana para mujahid menemukan lorong menuju surga? Apa salah Poso?

Yang menarik dalam puisinya yang berjudul “Jawaban Osama” Anis Matta, saat itu masih menjabat Sekjen PKS mengobarkan semangat pendukungnya untuk terus berjihad di Ambon, Ternate, serta Poso. Berikut penggalan puisi Anis Matta yang utuhnya bisa dilihat di beritapks.com. (dibawah kami muat puisi Anis Matta secara lengkap dengan merujuk sumber yang diberikan penulis _red.myartikel). 

.

anis matta

Inilah puisi ‘imajiner’ Anis Matta tentang Osama bin Laden:

SUMBER: http://beritapks.com/keagungan-osama-bin-laden-dalam-puisi-anis-matta/

.

“Surat Untuk Osama”

Osama,
Kamu tidak pernah bilang padaku
Kalau kamu mau meledakkan WTC dan Pentagon
Bush juga tidak punya bukti sampai sekarang
Jadi aku memilih percaya
Pada cinta yang terpancar
Di balik keteduhan matamu
Pada semangat pembelaan yang tersimpan
Di balik lebat janggutmu.

Osama,
Kamulah yang mengajar
Bangsa-bangsa yang bisu untuk bisa bicara
Maka mereka berteriak.

Kamulah yang menanam bibit-bibit keberanian,
Di ladang jiwa orang-orang penakut
Maka mereka melawan.

Kamulah yang menebar nikmat kemerdekaan,
Di renung kalbu orang-orang tertindas
Maka mereka berjuang.

Kamulah yang mengobarkan harapan di langit
Hati orang-orang terjaga
Maka mereka memberontak.

Osama…
Kamulah yang mengunci mulut bangsa-bangsa adidaya,
Supaya mereka terdiam
Maka mereka hanya bisa mengamuk.

Kamulah yang meruntuhkan keangkuhan
Dari jidat bangsa-bangsa arogan
Maka mereka terbungkam.

Kamulah yang merampas rasa aman
Dari jiwa bangsa-bangsa tirani
Maka mereka tak pernah bisa tidur nyenyak.

Kamulah yang merenggut selera hidup
Dari langit hati bangsa-bangsa makmur itu
Maka mereka tak lagi menikmati hidup.

Osama oh Osama… Osama oh Osama…
Mari kita nyanyikan lagu kemenangan
Bersama nurani anak-anak manusia
Yang telah menemukan kehidupannya.

Osama oh Osama… Osama oh Osama…
Mari kita senandungkan lagu keabadian
Bersama nurani anak-anak manusia
Yang merindukan taman surga.

“Jawaban Osama”

Saudaraku,
Surat ini sudah kuterima
Aku baik-baik saja di sini
Aku masih minum teh di pagi hari
Dan menikmati sunset di sore hari
Aku juga masih mengendalikan bisnis
Dan mengontrol jaringan Al-Qaidah
Dari balik gua-gua Afghanistan.

Tenanglah saudaraku,
Karena jadwal kematianku
Tidak ditulis di Pentagon atau Gedung Putih.

Saudaraku,
Aku menonton aksi-aksi kalian di TV Al-Jazirah
Aku senang kalian mulai berani berbicara
Aku suka kalian sudah bisa bikin Bush marah-marah
Aku gembira kalian sudah bisa bilang tidak
Aku bahagia kalian mulai belajar jadi singa
Aku terharu kalian miskin-miskin tapi mau nyumbang…
Aku terheran-heran kalian kecil-kecil
Tapi mau jihad ke Afghanistan
Aku pikir kalian ini anak-anak ajaib.

Saudaraku aku mau buka rahasia sama kamu
Tapi kamu jangan bilang siapa-siapa.

Kamu tahu nggak,
Kenapa orang-orang Taliban sayang sama aku
Kata mereka ternyata karena aku lucu
Bocah-bocah Afghan juga senang padaku
Kata mereka karena aku bawa mainan
Pesawat-pesawat Amerika untuk mereka
Para pemulung Afghanistan juga suka padaku
Kata mereka karena roda-roda lama mereka itu
Bisa jadi besi tua yang laris.

Orang-orang Amerika itu terlalu serius
Padahal kita cuma sedang bermain di halaman surga.

Saudaraku,
Kalau nanti Allah memilihku jadi syahid
Utusanku akan datang menemuimu
Membawa sebuah pundi kecil
Itulah darahku,
Siramlah taman jihad di Ambon, di Ternate dan Poso
Tapi kalau aku bisa mengubur keangkuhan Amerika di sini
Aku akan datang ke Indonesia
Kamu tahu apa yang akan aku lakukan
Aku hanya mau investasi di negerimu.

.

.

“Jawaban Osama” sendiri merupakan sekuel dari puisi “Surat Untuk Osama” yang ditulis Anis Matta pada 2011. Dalam dua puisinya itu Anis membayangkan dirinya berkirim surat kepada Osama lalu menerima balasan suratnya. Presiden PKS Anis Matta memang dikenal sebagai pengagum tokoh teroris Osama bin Laden. Osama baginya adalah teladan mujahid yang gagah berani melawan tirani bangsa-bangsa adidaya. Keberaniannya melawan kesewenang-wenangan AS menginspirasi para aktivis di seluruh penjuru dunia untuk memberontak terhadap kesewenang-wenangan bangsa adidaya yang arogan.

Menulis puisi merupakan bagian dari ekspresi yang tidak berbatas. Puisi tentang pembunuhan Tuhan pun sah-sah saja ditulis. Ekspresi baru membentur batasannya saat dihadirkan ke hadapan publik. Saat itulah publik akan menilai sebuah karya cipta. Saat itulah publik memilih untuk menerima atau menolak buah dari ekspresi.

Demikian juga dengan Anis Matta, ia bebas mengekspresikan buah pikirannya ke dalam banyak “kanvas”. Puisi “Surat Untuk Osama” dan “Jawaban Osama” jelas merupakan pengagungan Anis terhadap aksi terorisme dunia sekaligus perestuan kepada aksi serupa di tanah air. Dan sebagai manusia, tidak ada satu pun larangan bagi Anis untuk tidak menuliskannya. Tetapi, sebagai sekjen sebuah partai besar yang sekaligus bagian dari koalisi seyogyanya Anis Matta memilah karya mana yang pantas dipublikasikan dan mana yang hanya ditumpuk di laci mejanya.

Di sinilah timbul pertanyaan, mengapa Anis Matta memublikasikannya dan kenapa puisi tersebut disebarluaskan oleh banyak situs yang memiliki kedekatan dengan partai yang sekarang dipimpinnya. Apakah Anis Matta dan juga situs-situs tersebut sudah mengetahui pasti kalau pendangan Anis Matta atas terorisme tidak berbeda dengan sikap para kadernya? Karena adanya kesamaan sikap pandang tersebut maka bagi Anis Matta puisi tersebut merupakan pengikat soliditas dan gizi bagi militansi kader-kadernya.

Jika memang benar sikap Presiden PKS Anis Matta dan para kadernya sebagai pendukung terorisme, maka wajib bagi bangsa Indonesia lainnya untuk mewaspadai gerakan partai dakwah ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: