Ibnu Taimiyyah Dan Doktrin Ideologi Bengis Ekstrimis Salafi Wahabi (Bag: 1)

Ibnu Taimiyyah Dan Doktrin Ideologi Bengis Ekstrimis Salafi Wahabi (Bag: 1)

SUMBER: abusalafy.wordpress.com

Persembahan Buat Salafi Wahhabi Taimi Takfiri

Pengantar

hasan_FarhanArtikel ini akan menyoroti dasar-dasar ideologis sikap bengis dan haus darah yang ditampakkan kaum Salafi Wahabi di sepanjang fase perjalanan keberadaan mereka, khususnya ketika mereka Berjaya dan berkesempatan menjalankan secara harfiyah ajaran bengis yang didoktrinkan oleh para arsitek ajaran haus darah ini.

Tulisan ini akan menghadirkan paparan seorang Salafi Moderat yang paling tahu apa dan bagaimana dakwah dan kaum Salafi, karena selain ia sendiri seorang Salafi yang telah menyelami doktrin para Masyâikh Salafi Wahabi di negeri kemunculan sekte sempalan ini… ia juga hidup di tengah-tengah dan bersama mereka… menyaksikan langsung tingkah para Salafi dan mengetahui langsung isi pikiran dan cita-cita mulia mereka dalam mengkafirkan dan kemudian menghalalkan darah-darah kaum Muslimin selain mereka!

Demi singkatnya waktu saya akan sajikan tulisan Syeikh Hasan bin Farhan al Maliki –seorang Pemikir Salafi Moderat yang banyak mengkritisi doktrin dan sikap ghuluw/Ekstrim para Salafi Wahabi.

Syeikh Hasan bin Farhan  Al Maliki Berkata:

Ibnu Taimiyyah Memfatwakan Kaum Asy’ari Harus Dibunuh!

Ibnu Taimiyyah menukil pernyataan sikap Ibnu Khuzaimah dan sekaligus menjadikan dasar pandangannya:

“Barangsiapa mengingkari bahwa Allah beristiwa’ (bersemayam) di atas tujuh langit maka ia KAFIR. HALAL DARAHNYA, DAN HARUS DIMINTA BERTAUBAH (jika ia mau bertobat, maka dibiarkan hidup) jika tidak maka HARUS DIPENGGAL KEPALANYA dan dilempar bangkainya ke tempat sampah.” (Majmû’ Al Fatâwa, Jilid: 5/Hal: 319)

Ibnu Taimiyyah Dan Paswod Rahasia Terang!

Fatwa di atas ditujukan kepada: kaum Asy’ari, kaum Maturidiyah, Adz Dzâhiriyah, Syi’ah Zaidiyah, Abadhiyah dan Syi’ah Imamiyah dan setengah dari kaum bermazhab Hanbali sendiri.

Kaum lugu menganggapnya fatwa itu hanya ditujukan kepada kaum Jahmiyah saja, dan mereka adalah sekte yang telah punah!

Tidak! Para santri tau persis bahwa kaum Jahmiyah adalah julukan yang dialamatkan kepada setiap kaum Muslimin selain Mujassimah (yang memposturisasi dan meyakini Tuhan berbentuk)! Ia adalah kode rahasia yang sengaja mereka rahasiakan di chanel-chanel TV agar orang-orang tidak mengetahui kedalaman batin ajaran Salafi. Dan dengan kode-kode seperti itu dan semisalnya mereka meledakkan dan mengkafirkan kita! Pihak-pihak yang sok menasihati (agar kita tidak menyalahkan ajaran Salafi atau menasehati para Ektrimis Salafi agar tidak membabi buta dalam keekstriman mereka) boleh jadi tidak mengetahui kode-kode ini atau mereka sengaja berkhianat kepada ilmu, agama dan tanah air (dengan menutup-nutupi kenyataan sebenarnya). Kita harus bersikap transparan dan membuka kedok kelompok Takfiri yang haus darah karena bahaya mereka bersifat umum. Saya tidak ingin membantah Ibnu Taimiyyah atau Ibnu Khuzaimah dalam fatwa-fatwa mereka, itu hal mudah sekali. Tetapi ringkas kata, bahwa seluruh kelompok kaum Muslimin –selain Ekstrimis Salafi- dianggap Jahmiyah.

Andai mereka membatasi diri terikat dengan nash Qur’ani (Kemudian Dia Beristiwâ’ di atas Arsy) pasti mereka tidak boleh menghalalkan darah-darah, lalu bagaimana sedangkan mereka itu telah menambah-nambahi dengan memasukkan redaksi: DI ATAS TUJUH LANGIT-NYA dan mereka memposturisasi Allah. Penggambaran kaum Salafi yang lugu tentang Allah ditegakkan di atas dasar-:

1)      Menambah-nambah firman Allah.

2)      Memposturisasi makna nash.

3)      Mengkafirkan siapapun yang tidak sepaham dengan mereka

4)      Membunuhnya.

Dasar Pertama: Menambah-nambah nash firman Allah. Itu nyata sekali. Allah berfrman: {Kemudian Allah BERISTIWÂ’ di atas Arsy} sedangkan mereka berkata: Allah bersemayam di atas tujuh langit. Ini jelas-jelas merubah-rubah firman Allah!

Dasar Kedua: Mereka memposturisasi makna dan menjadikan Allah DUDUK di atas Arsy seperti layaknya duduk seorang manusia di atas kusri atau singgasana, sampai-sampai terdengar suara krieeet krieeet seperti suara kursi baru (yang keberatan bobot muatan) dan Allah menyisakan kira-kira empat jari untuk mendudukkan Nabi saw. (kelak di hari kiamat)!

Maha suci Allah dari penggambaran seperti itu. Sementara itu makna nash itu jauh sekali dari manka dungu yang mereka tetapkan untuk Allah, tindakan dan sifat-sifat-Nya.

Kemudian para ekstrimis Salafi di antara mereka adalah Ibnu Taimiyyah bahwa: ALLAH SEPERTI POSTUR SEORANG ANAK REMAJA YANG BELUM TUMBU BULU JANGGUTNYA, BERAMBUT KERITING DAN MENGENAKAN SEPASANG SANDAL TERBUAT DARI EMAS. Setelah itu mereka mengkafirkan siapapun yang tidak mengakui kegilaan akidah itu!

Mereka adalah kaum DUNGU membanding-bandingkan Allah dengan manusia! Mereka berpegang dengan makna yang tertanam dalam pikiran mereka dari kata-kata itu kemudian mengqiyaskannya dengan yang kasat mata. Lalu mereka mengkafirkan yang tidak sependapat dengan mereka. Lalu merembukkan/membincangkan cara terbaik untuk membunuh! Dari semua ini bisa saja seorang dari mereka berkata: ALLAH LUPA berdasarkan firman Allah:

نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ

“Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka.” (QS. At Taubah [9];67)

Bukankah Allah menetapkan sifat lupa untuk diri-Nya! Kamu kafir karena tidak mengakui sifat Allah MAHA PELUPA!

Sampai mereka sepakat! Setelahnya mereka berselisih tentang cara membunuhnya, apakah dengan dilempar dari apartemen… dipenggal dengan pedang atau dibakar hidup-hidup…! Mereka dengan mudahnya mencampr-adukkan urusan secepat kilat. Mereka mengambil dzahir sebuah ayat tanpa merenungkan ayat-ayat lain, lalu membelokkan maknanya dengan cepat setelahnya memfatwakan bahwa kamu KAFIR juga dengan cepat setelahnya mereka segera membunuhmu!

Para pengikut Ibnu Taimiyyah menganggap bahwa fatwa-fatwanya kokoh sekali dasarnya. Akidahnya kokoh. Ia didukung oleh nash-nash yang shahih tanpa penambahan atau pengurangan! Dahulu keyakinanku seperti itu, sehingga ketika seorang Syeikh dari Suria bernama Abdul Fattâh Abu Ghuddah semoga Allah merahmatinya) membangunkanku dari kelalaian itu. Ia membongkar bagaimana Ibnu Taimiyyah sering menambah-nambah nash! Kemudian setelahnya aku juga temukan adz Dzahabi -murid Ibnu Taimiyyah sendiri- di masa akhir hidup Ibnu Taimiyyah mengecam AKIDAH Ibnu Taimiyyah dalam memposturisasi Allah, dalam menambah-nambah dan mengurangi nash, dalam mengkafirkan kaum Muslimin dan keangkuhannya … dll. Ini adalah kenyataan dalam seluruh akidah Ibnu Taimiyyah yang di atasnya ia mengafirkan kaum Muslimin Ahlsuunnah. Ia tidak mengkafirkan mereka melainkan dengan dasar (ia) menambah atau mengurangi nash! Dalam fatwa di atas, misalnya, ia merubah sedikit demi sedikit. Ia mengambil omongan Ibnu Khuzaimah sebagai dalil dan meninggalkan FIRMAN ALLAH. Lalu apa perbedaan antara FIRMAN ALLAH dan omongan Ibnu Khuzaimah?!

Firman Allah berkata: {Kemudian Allah BERISTIWÂ’ di atas Arsy} tanpa menambahkan penetapan sanksi apapun. Sedangkan omongan Ibnu Khuzaimah: {Allah beristiwâ’ di atas tujuh langit} dengan disertakan sanksi aneh dan sangat menghinakan kemuliaan manusia! Andai mereka berkata: {Seorang Muslim wajib meyakini Allah BERITIWÂ’ di atas Arsy} pasti tidak seorang pun dari kaum Muslimin yang berselisih. Tetapi mereka (kaum Salafi) merobah-robah makna seperti telah lewat dan mereka MENGKAFIRKAN DAN MENGHALALKAN DARAH SIAPAPUN YANG TIDAK MENGIKUTI FAHAM MEREKA!

Ini adalah doktrin Salafi sejak zaman kekuasan Mu’awiyah. Mu’awiyah menamakan praktik PELAKNATAN atas Imam Ali sebagai SUNNAH kemudian ia mengharuskan membunuh yang tidak menjalankan SUNNAH tersebut. Kaum awam berlari di belakang SUNNAH para penguasa Tiran!

Kaku dan terpaku hanya pada makna dzahir saja tidak boleh, khususnya yang terkait dengan Dzat Allah. Tidak boleh kamu berkayakinan Allah itu LUPA dengan dasar ayat: {Mereka melupakan Allah maka Allah melupakan mereka}! Tidak boleh kamu berkeyakinan bahwa Allah berada di perut bumi karena kaku dalam makna dzahir yang disimpulkan oleh akal dungu tentang firman Allah:

وَ هُوَ الَّذي فِي السَّماءِ إِلهٌ وَ فِي الْأَرْضِ إِلهٌ

Dan Dia-lah Tuhan di langit dan Tuhan di bumi. (QS. Az Zukhruf [43];84 (

Allah adalah pencipta waktu dan ruang. Dia tidak dirangkum oleh ruang dan tidak berlaku untuk-Nya waktu. Wujud-Nya mendahului waktu. Maha Suci Allah Dzat Yang Maha Agung.

Ringkas Kata: di sini Ibnu Taimiyyah memilih fatwa untuk memberikan kode rahasia bagi para pengikutnya, jika kalian telah kuat dan kamu memiliki kekuasaan maka bunuhlah seluruh ulama mazhab Asy’ari dan yang sependapat dengan mereka! (Tweet  Syeikh Hasan bin Farhan al Maliki. Bulan Mei 2012 M.)

(Besambung insyaAllah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: