Jihadis Indonesia: Dukung ISIS atau Front al-Nusra?

Jihadis Indonesia: Dukung ISIS atau Front al-Nusra? (1)

SUMBER: http://www.islamtimes.org/vdci35apwt1ayv2.k8ct.txt

isis_indo_3

Islam Times- Jika jihadis Indonesia lebih memihak ISIS ketimbang al-Qaeda, lanjutnya, maka kondisi ini akan mempercepat globalisasi perpecahan dalam gerakan al-Qaeda, dengan semakin banyaknya afiliasi internasional yang berpihak pada ISIS dan karenanya melemahkan [posisi] al-Zawahiri.

Perpecahan terjadi di antara kelompok jihadis Suriah setelah gembong al-Qaeda, Ayman al-Zawahiri, mengumumkan pada 3 Februari lalu bahwa al-Qaeda “tidak memiliki hubungan” dengan ISIS atau Negara Islam Irak dan Syam (lihat: Daily Times, 13 Februari). Pesan yang beredar di situs-situs jihadis, telah memaksa kelompok-kelompok jihadis Suriah memihak ISIS atau afiliasi al-Qaeda di Suriah, Front al-Nusra (fisyria.com, 13 Januari).

Demikian ungkap analis perang Suriah, Jacob Zenn. “Pengumuman itu juga mempengaruhi kelompok jihadis di luar Suriah, seperti yang ada di Indonesia,” katanya.

Jihadis Indonesia memanfaatkan Perang Sipil Suriah sebagai celah untuk membangun kembali hubungan jihad internasionalnya dengan al-Nusra, ISIS, dan organisasi “kemanusiaan” di Suriah yang terhubung dengan kelompok teroris. “Perpecahan yang diumumkan telah menghadapkan jihadis Indonesia dengan keputusan untuk mendukung al- Zawahiri atau ISIS,” papar Zenn.

isis_indo_1

Di medan perang Suriah, sebagian besar pemasok bantuan dan pemberontak asal Indonesia didukung al-Nusra pada awal Perang Sipil Suriah. “Namun kelompok jihad utama domestik Indonesia di pulau Sulawesi serta sebagian besar situs jihad berbahasa Indonesia kini terlihat lebih memihak ISIS,” ujar Zenn.

Jika jihadis Indonesia lebih memihak ISIS ketimbang al-Qaeda, lanjutnya, maka kondisi ini akan mempercepat globalisasi perpecahan dalam gerakan al-Qaeda, dengan semakin banyaknya afiliasi internasional yang berpihak pada ISIS dan karenanya melemahkan [posisi] al-Zawahiri.

Pada 2011, kelompok pemberontak Suriah Ahrar al-Sham memposting secara online pengumuman “martir” pertama militan Indonesia, Reza Fardi (alias Abu Muhammad), yang tewas dalam bentrokan dengan pasukan Presiden Suriah Bashar al-Assad di pinggiran Aleppo. “Sejak itu, para pejabat intelijen Indonesia memperkirakan bahwa 50 orang Indonesia telah bergabung dengan pemberontak di Suriah Jakarta Post, 8 Januari),” terang Zenn.

isis_indo_2

Puluhan warga Indonesia yang tergabung dalam Hilal al-Ahmar Society Indonesia (HASI), yang dianggap sebagai sayap kemanusiaan kelompok terroris Indonesia, Jemaah Islamiyah (JI), juga memberikan bantuan pada para pemberontak, dengan beberapa di antaranya kemungkinan ganti seragam dari pekerja kemanusiaan menjadi memberontak (Jakarta Globe, 30 Januari).

Jakarta khawatir, lanjut Zenn, bahwa warga Indonesia di Suriah dapat memperoleh keterampilan membuat bom dan pengalaman yang diperlukan untuk meniru gelombang serangan yang dilakukan JI di Indonesia antara 1999-2002. “Selama tiga tahun , JI mengebom Masjid Istiqlal di Jakarta, berusaha membunuh duta besar Filipina di Jakarta, dan mengebom gereja di Jakarta, Sumatera (pulau terbesar di Indonesia), Jawa (pulau berpenduduk terpadat), Pulau Lombok (sebelah timur Bali), Batam (jalur pengapalan di Selat Singapura), dan diakhiri pada 2002 dengan serangan bom JI di Pantai Kuta, Bali, yang menewaskan hampir 200 orang,” tuturnya.

“Saat pasukan elit kontra-terorisme Indonesia, Densus 88, mulai menangkap militan kunci JI pada 2005, bermula dari pembuat bom Bali, Dr. Azahari Husin, Indonesia mengamati bahwa sebagian besar jihadis JI adalah warga Indonesia atau Malaysia yang bertempur di Afghanistan pada 1980-an dan 1990-an, terang Zenn. Densus 88 dan intelijen negara lainnya menangkap atau membunuh hampir semua militan yang terlibat dalam pengeboman JI, serta menetralisasi ancaman JI di Indonesia dengan menangkap pendiri JI, Abu Bakar Baashir, pada 2011 (Dawn [Bangkok], 17 Agustus 2003; The Star [Petaling Jaya], 17 Desember 2012).

Elemen-elemen Indonesia di Suriah kini telah membangun jaringan dengan Front al-Nusra, ISIS, serta kelompok-kelompok jihadis Asia Tengah dan Kaukasia, yang memungkinkan mereka membawa pulang pengalaman Suriah ke Indonesia dan menghidupkan kembali JI di bawah payung Mujahidin Indonesia Timur ( MIT ), kelompok teroris paling aktif di Indonesia.

Menurut Zenn, itu menyerupai cara warga Indonesia yang bertempur di Afghanistan pada 1980-an dan 1990-an, memberi kontribusi terhadap JI pada 2000-an. (IT/MTT/rj)

_______

Jihadis Indonesia: Dukung ISIS atau Front al-Nusra? (2)

SUMBER: http://www.islamtimes.org/vdcg3t9wnak9uy4.1ira.html

Islam Times- Ia juga mengatakan, sel [jihadis] itu telah merampok sebuah bank dekat Jakarta pada Desember 2013 untuk membiayai perjalanan mereka ke Suriah, termasuk membeli paspor palsu sekita 1000 dolar AS. Ia juga mengaku bahwa sel itu mengebom sebuah kuil Buddha di Jakarta pada Agustus 2013.

Satu kesamaan antara militan Indonesia di Suriah seperti Reza Fardi dengan kelompok-kelompok seperti HASI dan MIT adalah, mereka semua menerima ilham ideologis dan dukungan operasional dari Abu Bakar Baashir. Kendati mendekam di penjara Indonesia karena terbukti mendanai kamp pelatihan al-Qaeda di Aceh, lanjutnya, Baashir (76 tahun) diperbolehkan merilis pernyataan dan menerbitkan buku.

“Versi kedua dari buku Tadzkirah (Peringatan dan Saran), yang diterbitkan Baashir dari balik penjara pada 2013, menyebut pemerintah Indonesia ‘murtad’ karena bekerjasama dengan ‘kafir’ Amerika Serikat,” papar Zenn. Setelah dimulainya Perang Sipil Suriah, Baashir menulis bahwa Suriah analog dengan Afghanistan dua dekade silam, seraya mengatakan bahwa pengalaman tempur di Suriah dapat menyediakan agi warga Indonesia, “universitas pendidikan jihad” (The Diplomat [Tokyo], 1 Februari 1).

Baashir kemungkinan telah mempengaruhi enam militan yang tewas dalam baku tembak bulan Januari lalu di Jakarta, yang berencana meledakkan kuil Buddha dan Kedutaan Burma setelah Bashir menyerukan Indonesia untuk melawan Burma karena perlakuannya terhadap Muslim Rohingya (Jakarta Globe, 14 Januari). “Seorang jihadis yang berhasil ditangkap mengatakan pada pasukan keamanan bahwa sel itu berencana bertemu dengan sesama militan di Suriah setelah melakukan serangannya di kedutaan,” kutip Zenn.

Ia juga mengatakan, sel [jihadis] itu telah merampok sebuah bank dekat Jakarta pada Desember 2013 untuk membiayai perjalanan mereka ke Suriah, termasuk membeli paspor palsu sekita 1000 dolar AS. Ia juga mengaku bahwa sel itu mengebom sebuah kuil Buddha di Jakarta pada Agustus 2013.

“Bukti dari baku tembak menunjukkan bahwa salah satu militan sel itu telah dilatih merakit bom bersama MIT di Poso, Sulawesi,” papar Zenn. Pemimpin MIT, Santoso, adalah mantan pemimpin Jamaat Ansarul Tauhid (JAT) sayap Poso, sebuah cabang JI yang didirikan Baashir pada 2000-an (Tempo.com [Jakarta], 1 Januari).

HASI, seperti al-Mukmin yang ikut didirikan Baashir dan Abdullah Sungkar, telah menyelenggarakan lebih dari 50 kampanye penggalangan dana publik di 20 provinsi di Indonesia untuk mendukung pemberontak Suriah. “Organisasi takfiri itu juga menjalankan berbagai situs untuk menerima donasi online,” imbuh Zenn.

Kurangnya tranparansi HASI tentang ke mana dana itu mengalir setelah dikumpulkan dan pemanfaatan anggota JI yang dibebaskan dari penjara sebagai juru khutbah dalam penggalangan dana, menyulut kekhawatiran seputar apakah dana tersebut benar-benar digunakan untuk menghidupkan kembali JI (Jihadsyam.blogspot.com, 26 Agustus, 2013).
“Acara penggalangan dana juga mempromosikan intoleransi JI terhadap Syiah (Presiden Assad adalah Alawit, yang diklaim secara keliru sebagai cabang Syiah),” kata Zenn.

Pengalangan dana di Jawa Tengah pada Juli 2013, menggunakan slogan “Pengkhianatan Syiah” untuk menarik minat peserta, sementara di Sukoharjo, pada Mei 2013, yang dihadiri lebih dari 1500 orang, memperingatkan tentang munculnya “Cengkraman Syiah” di Indonesia (VOA-Islam.com, 2 September 2013 dan arrahmah.com, 23 Mei 2013).

HASI dan [kelompok] pemberi bantuan asal Malaysia lainnya di Suriah juga menyaksikan pengiriman bantuan mereka dicegat, dijarah, dan bahkan ditembak ISIS, setelah pekerja bantuan tersebut menolak berbaiat (janji setia) pada pemimpin ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi. “Kondisi ini cenderung mempengaruhi warga Indonesia [takfiri] itu untuk bekerja dengan Front al-Nusra, sekaligus menjelaskan, mengapa pengiriman HASI lebih sering ke benteng Front al-Nusra di barat laut Suriah ketimbang ke benteng ISIS dekat perbatasan Suriah-Irak,” ujar Zenn.

Namun begitu, sebagian besar situs jihad berbahasa Indonesia, seperti almustaqbal.net, mengumumkan “dukungan dan solidaritasnya” pada ISIS. Selain itu, situs populer albusyro.com memblokir keanggotaan siapapun yang memposting pesan yang menentang ISIS. Seorang mantan anggota JI yang kini mendekam di penjara atas perannya dalam pengeboman Kedutaan Besar Australia di Jakarta pada 2004, Rois, mengkritik situs berpengaruh arrahmah.com karena hanya memposting pernyataan Front al-Nusra (tanpa ISIS).

Santoso dan komandan bawahannya di MIT yang dilatih di kamp yang disponsori Baashir di Aceh, mungkin juga lebih cenderung pada ISIS. Santoso, misalnya, dihormati mantan pemimpin al-Qaeda di Irak, Abu Mus’ab al-Zarqawi, dengan memberinya alias “Abu Mus’ab al-Zarqawi al-Indonesi” (arrahmah.com, 15 Oktober 2012).

Video terbaru Santoso, yang memuji pengeboman bunuh diri di sebuah markas polisi di Poso, Sulawesi, ditayangkan situs pro-ISIS (al-mustaqbal.net, 31 Oktober 2013).
“Selain itu, tujuan ISIS untuk menyebarkan syariat di seluruh wilayah Islam mungkin lebih cenderung menarik Santoso dan MIT ketimbang objektif Front al-Nusra yang hanya menggulingkan Presiden Assad dan fokus pada pembentukan negara Islam di Suriah sebelum mengekspor jihad,” ujar Zenn.

Jihadis takfiri Indonesia di Suriah, pelbagai organisasi bantuan “kemanusiaan” seperti HASI dan kelompok-kelompok jihad seperti MIT merupakan bagian dari jaringan yang mengalami kebangkitan akibat Perang Sipil Suriah. “Fondasi utama kebangkitan ini adalah kepemimpinan ideologis berkelanjutan Abu Bakar Baashir, berkembangnya gerakan jihad Santoso di Sulawesi (yang terhubung dengan sel-selnya di Jakarta), dan kesempatan Suriah untuk memungkinkan militan Indonesia dan pekerja bantuan itu untuk berhubungan kembali dengan komunitas jihad internasional,” papar Zenn.

Saat “perang sipil dalam perang sipil” meningkat di Suriah antara ISIS melawan afiliasi yang diakui al-Zawahiri, Front al-Nusra, jihadis Indonesia, seperti militan lain di dalam dan di luar Suriah, mungkin dipaksa untuk berpihak dalam sengketa itu. “Tampaknya MIT dan jihadis Indonesia yang aktif secara online lebih selaras dengan ideologi dan kepemimpinan ISIS ketinbang dengan al-Zawahiri. Namun, para aktor yang konon tanpa kekerasan, seperti kelompok “kemanusiaan” Indonesia, barangkali lebih cenderung pada Front al-Nusra ketimbang ISIS,” papar Zenn.

Dukungan atau afiliasi yang diekspresikan MIT terhadap ISIS kiranya menunjukkan bahwa MIT kemungkinan mulai melancarkan serangan yang menarget warga asing, Kristen, dan Syiah di Indonesia. “Sejauh ini, kebanyakan serangan MIT menyasar aparat keamanan Indonesia,” kata Zenn.

Kemungkinan pula, Abu Bakar Baashir mengeluarkan pernyataan dari sel penjaranya, yang menyerukan para jihadis takfiri Indonesia untuk mendukung salah satu dari kedua belah pihak takfiri yang berkonflik di Suriah. Dalam pernyataan terbaru pada 1 April 2014, Baashir mengatakan bahwa dirinya “menerima berita dari Internet” tentang “pelbagai hambatan” yang ditempatkan “para tiran” di antara “saudara-saudara Mujahidin di Syam” dan bahwa al-Zawahiri tidak akan “melupakan” mereka (Shamikh1.info, Februari 2014).

Menurut Zenn, hal ini menunjukkan bahwa Baashir akan tetap setia pada al-Qaeda seperti ketika dirinya mendirikan JI pada 1990-an dan mengawasi kamp pelatihan al-Qaeda di Aceh pada 2000-an.

Sebuah pernyataan Baashir yang lebih menentukan dukungan pada Front al-Nusra dapat memiliki pengaruh yang signifikan terhadap jihadis takfiri asing Indonesia di Suriah serta MIT di Sulawesi. “Namun, itu juga bisa menyulut perpecahan antara loyalis Bashir dan loyalis Santoso jika Santoso menolak saran Bashir, terus mengeluarkan pernyataan pro-ISIS, dan menghidupkan visi kekhalifahan Islam pan-regional di Asia Tenggara seperti kekhalifahan yang ‘diperjuangkan’ ISIS di Irak dan Suriah.” (IT/MTT/rj)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: