Aher Gubernur Jabar Dukung Deklarasi Ormas Takfiri Intoleran Yang Halalkan Darah Minoritas Syiah

Kebijakan Anti-Syiah Tuan Gubernur

SUMBER: http://liputanislam.com/berita/kebijakan-anti-syiah-tuan-gubernur/

aherBandung, LiputanIslam.com–Deklarasi Nasional Anti-Syiah yang digagas oleh ormas-ormas intoleran terus menuai kecaman. Setelah IJABI, Komnas HAM, PBNU, menyampaikan kritikan mereka, editorial Tempo pun secara khusus menulis masalah ini. Tempo menyinggung posisi Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, yang justru mendukung acara ini. Dalam UU no 33/2004 tentang Pemerintah Daerah dicantumkan bahwa hak dan kewajiban pemerintah daerah adalah melindungi masyarakat, menjaga persatuan, kesatuan dan kerukunan masyarakat, memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat, serta melaksanakan kehidupan demokrasi. Sikap Aher dalam deklarasi ini mengindikasikan adanya pelanggaran atas UU tersebut. Berikut ini selengkapnya editorial Tempo:

Pernyataan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan yang mendukung deklarasi gerakan anti-Syiah merupakan blunder besar. Sikap itu bisa menjadi bom waktu yang bisa menyulut tindakan kekerasan yang luas. Tindakan tersebut tak bisa ditenggang. Sebagai kepala daerah, Ahmad Heryawan semestinya menjamin hak asasi seluruh warganya, termasuk hak untuk memilih keyakinan.

Yang dilakukan Ahmad Heryawan sungguh tak bisa diterima akal sehat. Senin lalu, dia memang urung hadir dalam acara deklarasi Aliansi Nasional Anti-Syiah di Masjid Al-Fajr, Cijagra, Bandung. Namun Aher–panggilan Ahmad Heryawan–mengirim utusannya, Asisten Kesra Provinsi Jawa Barat Ahmad Hadadi. Dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Ahmad Hadadi, Aher menyatakan,

“Kami dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat memberikan dukungan kepada seluruh umat Islam yang senantiasa memelihara nilai-nilai kebaikan, nilai-nilai keislaman, sehingga nilai-nilai itu tidak ternodai dengan ajaran-ajaran sesat.”

Ajaran sesat menurut siapa? Soal hak asasi berkeyakinan dan jaminan perlindungan terhadap kaum minoritas, semestinya Ahmad Heryawan sudah mafhum. Konstitusi Pasal 28E ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945 jelas menyatakan bahwa kebebasan memeluk agama dan beribadat menurut agamanya merupakan hak yang dijamin oleh negara. Namun, anehnya, Ahmad Heryawan justru menentang hal itu.

Boleh saja secara pribadi Ahmad Heryawan tak sepaham dengan Syiah, namun sebagai kepala daerah seharusnya ia menjalankan tugas melindungi seluruh warganya tanpa kecuali. Yang harus dilindungi negara bukan hanya kelompok mayoritas. Kelompok minoritas, yang justru membutuhkan perlindungan, malah tak diayomi, bahkan dibiarkan jadi obyek tindak kekerasan. Pola pikir seperti itu hanya akan mengekalkan tirani mayoritas. Itulah yang terjadi selama ini. Kelompok yang berkeyakinan berbeda, seperti Ahmadiyah dan Syiah, kerap dizalimi, dan aparatur negara tak melindungi mereka.

Gubernur Jawa Barat harus mencabut pernyataannya itu. Tindakan tersebut telah mengkhianati rakyat dan konstitusi. Dia seharusnya sadar, dukungan seperti itu bisa berdampak fatal. Pengusiran warga Syiah dari Dusun Nangkernang, Sampang, telah menjadi buktinya. Diamnya pemerintah dianggap sebagai dukungan terhadap tindak kekerasan atas warga Syiah. Rumah mereka dibakar, warga diusir bak pesakitan selama berbulan-bulan, jatah makan dan akses air bersih bagi ratusan orang dibatasi. Laporan empat lembaga negara–Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Komisi Perlindungan Anak Indonesia, serta Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban–Agustus tahun lalu sampai menyatakan bahwa penindasan atas kelompok Syiah ini bisa mengarah ke genosida.

Keputusan Ahmad Heryawan ini bisa mengirim sinyal mengkhawatirkan: negara sekali lagi sudah tak mampu memberikan perlindungan terhadap kelompok minoritas. Negara tunduk kepada desakan segerombolan orang yang tidak paham makna toleransi dan punya nafsu mengebiri hak asasi manusia. (dw/tempo.co.id)

.

__________

Dalam Acara tersebut Seorang Orator bernama Abu Jibril menyatakan bahwa Syiah wajib di bunuh

Situasi tambah ‘menyeramkan’ karena salah satu orator bernama Abu Jibril menyatakan bahwa mengkafirkan Syiah adalah wajib dan wajib pula dibunuh. Abu Jibril bahkan mengklaim itu adalah hadis Nabi Muhammad.  Abu Jibril dalam orasinya  mengulang-ngulang klaim-klaim kesesatan-kesesatan Syiah,  “Quran-nya tidak sama, rukun imannya tidak sama, nabinya tidak sama!”  Beberapa orang menyambut pernyataannya itu dengan teriakan “Syiah kafir!”, “Syiah sama dengan Yahudi!”, atau “Syiah Setan!”

Klaim tersebut sebenarnya sudah berulang kali dibantah oleh ulama Ahlussunnah sekaliber alm. Gus Dur, KH Quraish Shihab, KH Said Aqil Siradj, KH Din Syamsuddin, atau oleh organisasi umat Syiah, ABI dan IJABI.

Abu Jibril juga menyerukan agar para hadirin mengambil langkah nyata, “Orang-orang Syiah tertawa bertepuk tangan hanya kita berkumpul mencerca mereka, menuduh mereka berbagai-bagai dengan tuduhan, tetapi tidak melakukan apa-apa! Dan mereka tertawa itu. Sedang mereka tidak banyak melakukan apa yang kita lakukan namun mereka bertindak, dan kita tidak bisa berbuat apa-apa!”

Video orasi hate speech Abu Jibril:

.

.

Selanjutnya baca di sini

Deklarasi Anti-Syiah: Siapa yang Menebar Kebencian?

http://liputanislam.com/liputan/deklarasi-anti-syiah-siapa-yang-menebar-kebencian/

dan disini

Benarkah Syiah Halal Darahnya?

http://liputanislam.com/tabayun/benarkah-syiah-halal-darahnya/

 

3 Tanggapan

  1. Bagaimana mungkin negara ini bisa tentram damai kalo pemimpin nya semacam aher, malah mendukung aliansi perpecahan masyarakat…

    Seorang tokoh yg layaknya memberikan kedamaian utk rakyatnya malah sebaliknya…

    Bagi manusia normal yg berakal sehat, tdk peduli agamanya apa, pasti cenderung kpd perdamaian dan ketentraman….

    Sudah saatnya masyarakat indonesia sadar jika ingin mewujudkan perdamaian di negri qt tercinta ini…

    • @haidar husein

      Kalo negeri ini dipimpin orang macam Aher.. maka akan tamat dalam waktu dekat, seperti Moersi di Mesir yang sama2 dari ikhwan seperti PKS baru memerintah nggak ada dua tahun… sudah menindas minoritas, memberi angin takfiri dan jihadis salafy menindas minoritas…
      apa jadinya mesir? kacau…,! nggak lama militer kembali berkuasa. orang2 ikhwan semacam Aher dan PKS tidak bisa mengambil pelajaran itu..

      masyarakat mesir itu hampir mirip dengan indonesia yang homogen, mulai islam santri, abangan, sekuler, sosialis dll

      dari contoh Aher dan kiprah PKS makin lama makin keliatan kedok partai ini yang sektarian dan partai golongan…

      amit2 pilih partai model begituan… ini partai cuman jual agama, elitnya sama saja dengan yang lain maling..

      mending maling yang tidak atas namakan agama, darpiada maling yang atas namakan agama… apalagi ditambah agenda nya yang cuman mementingkan golongannya

  2. syah emang kafir,yg mgkafirkan alquran dan hadis,maju terus pak aher.jgn hirau kan org org yg pengen hidup damai di dunia,hidup damai itu cuma di surga.agama alloh pasti menang segera!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: