Republik Tempe

Republik Tempe

SUMBER: http://indonesian.irib.ir/headline2/-/asset_publisher/0JAr/content/republik-tempe-1

Muhammad Dudi Hari Saputra*

Tempe Secara Konseptual

Tempe, bagi kebanyakan orang Indonesia telah menjadi bagian dari dirinya. Inilah nama makanan khas orang Indonesia. Dinikmati dari kelas rakyat melarat sampai pejabat. Dari ujung timur sampai ujung barat, dari yang diolah ala warung sederhana sampai ala chef-chef kelas bintang lima. Ya, itulah tempe!

Di luar itu, tempe punya makna lain. Nama jenis makanan ini diasosiasikan untuk kalimat black-labeling atau pelekatan stigma negatif pada suatu peristiwa atau manusia. Misalnya “Ah dasar tempe lu !” atau “Mukamu tempe !” Dulu waktu masih kuliah ada teman saya yang jika mendapati kondisi yang sulit (tidak nyaman) seperti kalah tanding winning eleven menggunakan kalimat; ah Tempe!! Sebagai ekspresi kekesalannya sampai-sampai sebagian besar teman dikelas terpengaruh dan menggunakan kata Tempe sebagai bentuk lain dari kata Sialan.

Tampaknya, pengasosiasian ini mungkin dikaitkan dengan tempe yang dianggap sebagai makanan murah dan proses pembuatannya yang konon diinjak-injak. Jadi seolah-seolah kata tempe ini mengekspresikan kondisi yang terinjak-injak atau malah ingin menginjak-injak.

Di sisi lain, tempe adalah makanan yang sangat memasyarakat dan dinikmati oleh semua kalangan (bandwagon). Tak jarang tempe dijadikan komoditi glittering (pencitraan). Misal calon gubernur makan tempe suoaya dipandang merakyat. Jadi tempe pun bisa dilekatkan untuk sesuatu yang positif, seperti bentuk kesederhanaan dan merakyat, walau mungkin ini hanya bagian dari propaganda belaka.

Tempe secara Faktual

Lalu, bagaimana tempe secara faktual. Tempe sebagai simbol makanan khas orang Indonesia merupakan makanan olahan dari kedelai. Tapi ironisnya, kedelai sebagai bahan utamanya hampir 60% impor, dan mayoritas berasal dari Amerika Serikat. Paradoks, ketika tempe yang digambarkan sebagai makanan rakyat ternyata kedelainya diimpor dari Negeri Paman Sam yang merupakan negara kapitalis utama dunia.

Bukan itu saja, Republik Tempe ini tidak hanya di tempe itu sendiri, bahkan melintasi itu semua. Misalnya sektor migas dan tambang milik kita ini ternyata juga tak kalah palsunya dibanding tempe, sebab hampir 70% lebih usaha migas dan tambang kita dikuasai oleh asing, sebut saja beberapa nama perusahaan-perusahaan seperti; Chevron, Total, Conoco Philips, ExxonMobil, British Petroleum, Petro China, Newmont, dan Freeport.

Di sektor telekomunikasi pun tak kalah mengenaskan. Sebutlah nama-nama seperti Telkomsel yang sebagian sahamnya dikuasai oleh Singtel dari Singapore, Indosat yang mayoritas sahamnya dikuasai Q tel dari Qatar dan juga XL yang dikuasai mayoritasnya oleh Asiata-Etisalad yaitu pembeli gabungan dari Malaysia dan Emirat Arab.

Belum lagi perusahaan air terkenal kita yaitu Aqua yang sudah dikuasai Danone asal Perancis, Susu SGM yang dikuasai Numico asal Belanda, dan Rokok Sampoerna yang dikuasai oleh Phillip Morris dari Amerika Serikat. Bahkan industri semen nasionalpun juga dikuasai asing seperti Semen Holcim yang sekarang dikuasai oleh Swiss Holcim dan Indocement yang dikuasai Heiderberg dari Jerman.

Bagaimana dengan sektor perbankan kita. Tampaknya, tidak jauh mengenaskan juga. Bahkan 50% lebih sekarang sudah dikuasai asing (sumber; Kontan, 2011), sebut saja bank Danamon yang dikuasai Temasek (Singapura), Bank NISP yang dikuasai OCBC (Singapura), CIMB Niaga yang dikuasai CIMB Malaysia, BII yang sekarang dikuasai Maybank (Malaysia), Bank Permata dikuasai Standard Chartered (Inggris) dan BTPN yang dikuasai oleh Texas Pacific (Amerika Serikat).

Di luar itu, sektor andalan lain kita seperti perkebunan sawit, karet, teh, tembakau telah dikuasai asing. Bahkan Sawit Indonesia yang merupakan penghasil CPO terbesar di dunia, sudah 50% lebih  dikuasai oleh asing baik itu dari negara seperti Malaysia, Singapura, Belgia dan Amerika serikat (Sumber; Republika,2011)

Beberapa sektor yang dikuasai asing tadi tidak hanya berada pada ranah sektor hulu (belum jadi) seperti minyak mentah, tetapi juga sudah merambah semakin jauh ke sektor hilir. Misalnya semakin bertebarannya SPBU milik perusahaan-perusahaan asing di dalam negeri dan tentu juga masih banyak di bidang lain yang tidak bisa disebutkan saking banyaknya.

Kesimpulan, Sebuah Kepalsuan

Kondisi mengenaskan ini membuat kita bertanya-tanya, benarkah kita ini sudah merdeka dalam artian bahwa kemajuan yang kita peroleh karena usaha dan kemandirian kita sendiri. Ataukah kita ini selayaknya masih seperti anak bayi, untuk menyusu dan mengompol pun masih butuh pertolongan orang lain. Mungkin ada yang menilainya wajar, karena kita di era globalisasi. Tapi pertanyaannya kemudian apakah era globalisasi itu berarti menggadaikan harta kekayaan alam kita sendiri. Bukankah pasal 33 UUD kita menegaskan kekayaan alam adalah milik negara bukan pihak swasta, terlebih lagi swasta asing?

Lalu, sejauh mana kemandirian kita di era global ini. Jangan sampai kita masuk menjadi negara yang kebablasan dalam liberalisasi dan kapitalisasi yang pada akhirnya membuat kita secara tidak langsung sudah terjajah, Penjajahan seperti ini adalah penjajahan yang paling berbahaya, yang menurut Ayatullah Baqir Sadr diistilahkan dengan penjajahan terhadap kesadaran, sehingga menimpa pada suatu masyarakat yang merasa dirinya merdeka tapi tanpa disadari sedang terjajah.

Itu baru dari sisi kemandirian negara dan bangsa. Kemudian, bagaimana dilihat dari sisi kesejahteraan masyarakat? Angka kemiskinan Indonesia menurut data BPS tahun 2012 masih berkisar 11%-12%, artinya tidak terjadi penurunan angka kemiskinan yang signifikan. Bahkan  menurut data Global Hungry Index selama rentang pemerintahan SBY dari 2004-2012 angka kemiskinan berkutat pada angka yang sama yaitu 11%-13%. Fakta ini membuat kita bertanya-tanya apa yang sudah dilakukan oleh pemerintah kita? Dan yang lebih utama apa dampak kesejahteraan bagi rakyat atas pengelolaan kekayaan alam kita oleh pihak asing? Dengan tegas bisa saya katakan tidak ada.

Lebih parah dari itu adalah nilai koefisien gini juga meningkat. Nilai koefisien gini adalah standard untuk menghitung sejauh mana ketimpangan ekonomi yang nilai diukur dari 0-1 kalau 0 berarti merata sempurna sedangkan kalau 1 berarti timpang sempurna. Nilai Indonesia dari 2010 yang 0,3% meningkat menjadi 0,4% pada 2011. Ini menandakan gap yang semakin meningkat antara si kaya dan si miskin yang bisa berpengaruh pada kehidupan sosial, seperti maraknya aksi kejahatan maupun ketimpangan sosial.

Dan akhir kesimpulan, kita ditempatkan pada kondisi dimana kita tidak bisa berkata ini milik Indonesia lagi. Sebab BBM yang kita pakai, kendaraan bermotor yang kita pakai setiap hari, Semen yang digunakan untuk membangun rumah, Bank tempat kita menabung, Pasar Modern yang kita datangi, susu, daging, tempe, sayur dan buahan yang kita beli, peralatan kantor kita, bahkan peralatan mandi, permainan anak-anak hingga peniti sekalipun sudah berasal atau dimiliki oleh pihak asing. Maka pantaslah saya bertanya, masihkah kita merdeka? (IRIB Indonesia/PH)

*Mahasiswa S2 International Trade Studies, Universitas Gajah Mada Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: