A. Syafii Maarif: Amerika, Iran, Israil, dan Saudi (2)

Amerika, Iran, Israil, dan Saudi (2)

SUMBER: http://epaper.republika.co.id/main/landingShare/94978/tw

Oleh Ahmad Syafii Maarif

Ahmad Syafii MaarifDalam persaingan politik kekuasaan, sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Maka tuan dan puan jangan terkejut jika suatu saat Arab Saudi main mata dengan Israel demi menghadapi Iran. Terbetik berita pertemuan berkali-kali Kepala Intelijen Saudi Pangeran Bandar bin Sultan dengan Kepala Intelijen Israel (Mossad) pada 27 November di Jenewa adalah indikator awal dari permainan mata itu.

Alangkah sulitnya kita menggunakan perintah agama yang sangat tegas tentang doktrin persaudaraan universal antara sesama bangsa Muslim. Saudi Muslim, Iran Muslim, apapun mazhab teologi yang dianut. Konflik karena perbedaan mazhab yang telah berusia ratusan tahun itu, mengapa tetap saja dilanjutkan, bahkan diberhalakan? Di mana kita menempatkan Alquran, sebuah kitab suci yang tidak ada duanya di muka bumi, mengapa pesan-pesannya tentang persaudaraan hanya dianggap sebagai angin lalu? Manakala ajaran agama tentang hubungan baik sesama Muslim tidak lagi dihiraukan, janganlah bermimpi bahwa dunia Islam akan diperhitungkan pihak lain.

Kita akan tetap saja berada di kawasan pinggir peradaban, karena suasana batin umat ini masih saja rapuh di tengah-tengah jumlah mereka pada tingkat global yang semakin membengkak secara kuantitatif. Jumlah besar minus kualitas bisa menjadi beban sejarah, dan kenyataan semacam itulah yang berlaku selama ini.

Al-Afghani sepanjang karier hidupnya yang selalu diincar bahaya telah diabdikannya untuk penyatuan dunia Islam, tanpa mau diributkan oleh gesekan mazhab yang berketiak ular. Mengapa faksi Sunni dan faksi Syiah tidak mau mencontoh sosok pemersatu ini? Bukankah sunnisme dan syiisme semata-mata buatan sejarah yang tidak pernah hadir di zaman Nabi?

Kembali ke masalah persetujuan nuklir Iran yang diapresiasi dunia itu, tetapi yang dilawan oleh Israel. Gilad Atzmon (nama yang sudah sering muncul di ruang ini), mantan Zionis, via TV, memberikan kritik keras kepada Israel dan kekuatan lobinya di Amerika karena mereka “Gagal memahami bahwa dunia sedang mengatakan kepada mereka `enough is enough(cukup sudah). “Kami tak ingin lagi melihat perang Yahudi. Kami tidak akan mengebom Iran untuk kepentinganmu (Israel).”

Gilad juga mengomentari sikap umat Yahudi Iran yang dinilai patriotik dan autentik karena mendukung program nuklir Iran. Menurut Gilad, sikap Yahudi Iran yang semacam ini jarang terjadi.

Tokoh Yahudi lain yang tak kurang garangnya adalah Uri Avnery, mantan anggota parlemen Israel, anti Zionisme, dan sahabat Yasser Arafat. Dalam The Palestine Chronicle, tertanggal 2 Desember 2013, Avnery menulis, “Bahaya terbesar bagi Israel bukanlah bom nuklir Iran yang diduga itu. Bahaya terbesar adalah kebodohan pemimpin-pemimpin kita.” Dilanjutkan, “…Benjamin Netanyahu dan hampir seluruh politisi mapan Israel telah meraih rekor baru dalam kebahlulan (foolishness).”

Kemudian Avnery memuji sikap Iran di bawah Presiden Rouhani yang telah membuka diri bagi pro gram nuklirnya. Kita kutip, “Iran adalah pemenang besar. Ia telah disambut hangat karena telah kembali ke lingkungan keluarga bangsa-bangsa beradab. Mata uangnya, rial, membubung. Prestise dan peng aruhnya di kawasan itu melonjak tinggi. Musuh-musuhnya di dunia Islam, Saudi Arabia dan negara-negara Teluk, telah terhina. Serangan militer apapun, oleh siapa pun atasnya, termasuk oleh Israel, menjadi tidak masuk akal.”

Tokoh tua dalam usia kepala delapan, se misal Avnery, telah lama risau dengan Zionis Israel yang buta sejarah, tidak hirau dengan pendapat dunia. Pertanyaan krusial yang segera muncul adalah apakah Amerika Serikat, demi menjaga hubungannya dengan bangsa-bangsa beradab di dunia, mau mengorbankan Israel yang dimanjakan selama ini? Belum bisa dijawab, masalahnya kompleks sekali. Tetapi yang pasti, sikap berbaik dengan Iran haruslah dibaca dalam konteks kepentingan nasional Amerika, tidak lebih dari itu.

Bangsa-bangsa Muslim semestinya harus tetap waspada terhadap negara imperialis ke siangan ini. Saudi dan Iran semestinya lebih mementingkan Islam di atas segala-galanya, bukan memberhalakan nasionalisme masing-masing yang telah melumpuhkan suasana persaudaraan umat dalam kurun waktu yang panjang. Al-Afghani, `Abduh, dan para penerusnya sangat terluka oleh persaingan biadab antar bangsa Muslim yang tidak kunjung reda.

e-Paper Republika 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: