Krisis Syria, Cara Para Konspirator Asing Menumbangkan Assad

Krisis Syria, Cara Para Konspirator Asing Menumbangkan Assad

SUMBER: The Global Review

Oleh Novendra Deje *)

*Penulis adalah Ketua Komunitas Studi Agama dan Filsafat (KSAF – Aceh), tinggal di Banda Aceh.

Gerakan transformasi di Timur Tengah (Timteng) yang dimulai dipenghujung tahun 2010, sejauh ini sudah menumbangkan rezim-rezim despotik yang telah berkuasa berpuluh tahun dibeberapa negara Kawasan. Dimulai dari rezim Zein El Ebidine Ben Ali di Tunisia yang tumbang oleh gerakan protes rakyat, dipicu oleh aksi membakar diri seorang warga negara itu, Mohamed Bouazizi. Pengaruh dari itu, tidak berapa lama gelombang demonstrasi rakyat di Mesir pun berhasil menumbangkan rezim Husni Mubarak. Kemudian rezim diktator di Libya pun berakhir sangat tragis, dengan terbunuhnya Muamar Khadafi oleh pemberontak. Aksi demonstasi besar-besaran rakyat menuntut para rezim despotik dukungan Barat juga menimpa Yaman, dengan lengsernya Presiden Ali Abdullah Saleh, yang kemudian digantikan oleh wakilnya. 

Kecuali Libya, rezim-rezim itu telah ditumbangkan dengan gelombang demonstrasi rakyatnya masing-masing secara besar-besaran. Sedangkan rakyat Bahrain hingga hari ini terus berjuang menyuarakan protes menuntut reformasi politik dinegara yang dikuasai oleh rezim Al Khalifa itu. Fenomena trasformasi yang melanda Timteng yang disebut oleh Barat dengan Istilah “Arab Spring” itu ternyata ikut membuat Syiria menuai dampaknya. Meskipun yang terjadi di Negara bertetangga dengan Israel itu adalah transformasi politik yang dipaksakan dari luar negerinya, tetapi itu jelas memiliki hubungan dengan memanfaatkan momentum Arab Spring. Untuk rancangan penyesuaian peta baru Timteng, agar tetap dalam kendali kekuatan-kekuatan hegemonik yang selama ini bercokol di Kawasan.

Berbeda dengan cara-cara yang terjadi di negara-negara lain Kawasan, Pemerintahan Presiden Bashar Assad di Syria hingga saat ini berhadapan dengan para pemberontak bersenjata yang menghendaki keruntuhan kekuasaannya. Situasi di Syria dapat dikatakan sama dengan model yang dihadapi Libya saat menumbangkan kekuasaan Muamar Khadafi. Tidak ada gerakan demonstrasi massif rakyat di Syria, kecuali protes-protes massa berskala kecil menuntut transformasi politik dan penegakan demokrasi. Seperti protes-protes yang terjadi di daerah-daerah perbatasan; Dar’a, Jisr Al Syughur, dan Himsh, yang kemudian beralih pada isu-isu sara (kesukuan dan agama). Selanjutnya yang terjadi adalah masuknya berbagai kelompok milisi bersenjata dari berbagai negara kawasan untuk melancarkan perang terhadap rezim Assad.

Para milisi yang tergabung dalam Syrian National Council (SNC) dan Free Syrian Army (FSA) itu dikampanyekan – oleh para pihak penyokongnya – sebagai ‘mujahidin’ yang berjihad membebaskan rakyat Syria dari kekuasaan diktator Presiden Assad. Mayoritas Rakyat Syria yang Sunni, dan Assad yang berkuasa dari keturunan Alawi yang Syiah, telah dijadikan dalih menyulut isu adanya diskriminasi atas nama perbedaan mazhab dalam Islam. Ini merupakan bagian dari justifikasi (pembenaran) bagi intervensi dan melancarkan perang terhadap pemerintah Syria oleh para pemberontak. Tentunya hal ini untuk menarik simpati dan dukungan dari masyarakat dan negara-negara Muslim di dunia yang mayoritas bermazhab Sunni.

Perang dengan persenjataan lengkap yang dilancarkan para pemberontak untuk menjatuhkan pemerintahaan Assad, telah menciptakan krisis di Syria. Tidak hanya krisis politik dan terganggunya kinerja pemerintahan, namun lebih parah adalah tragedi kemanusiaan yang menimpa rakyat. Ulah para pemberontak menjadikan rakyat sebagai perisai untuk melindungi mereka dari serangan balasan dari militer Syria, telah menjadikan rakyat ikut terbunuh dalam beberapa serangan. Situasi sangat memprihatinkan adalah pembunuhan-pembunuhan oleh para pemberontak sendiri terhadap rakyat yang diindikasi mendukung pemerintah dan tidak menerima kehadiran mereka. Target utamanya adalah rakyat dari keluarga Alawi yang dituduh penyokong utama kekuasaan Assad.

Data PBB menyebutkan korban jiwa rakyat Syria telah mencapai sekitar 70 ribu orang selama perang yang telah memakan waktu dua tahun. Sedangkan John Kerry, Menteri Luar Negeri AS yang baru dilantik itu menyebutkan bahwa korban atas krisis Syria telah mencapai angka 90 ribu jiwa. Ia mengaku data tersebut diperoleh dari Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Saud Al-Faisal. Anehnya, disaat yang sama Kerry langsung meminta Bashar Assad untuk menghentikan pembunuhan yang terus berlangsung terhadap rakyat Syria. Tujuannya adalah menciptakan opini pada masyarakat dunia bahwa pemerintah dan militer Syria lah yang telah melakukan semua itu, tanpa menyebutkan peran dan kehadiran pemberontak yang telah menciptakan krisis tersebut di Syria.

Seperti diketahui, Syria dibawah pemerintahan Bashar Assad dan bersama Iran terus mengganjal banyak kepentingan dan penyempurnaan dominasi Barat dibawah komando AS dikawasan. Terutama kepentingan AS dalam menjaga eksistensi rezim Zionis Israil dan menjadikannya sebagai kekuatan dominan yang akan mengendalikan kawasan. Assad senantiasa konsisten menjadi pendukung utama gerakan barisan-barisan muqawama (pejuang) yang terus melawan Zionis Israil atas pendudukannya terhadap tanah Palestina. Tidak hanya berupa dukungan politik, tetapi sokongan rill berbagai logistik, persenjataan, dan jalur distribusinya telah dimainkan Damaskus kepada Hizbullah dan Hamas, barisan pejuang yang selama ini konsisten menunjukkan perlawanan atas Tel Aviv.

Kenyataan itu meniscayakan rakyat Syria hingga hari ini terus mendukung Bashar Assad, dan menilai ia dan pemerintahannya sebagai benteng kokoh guna menghadapi hegemoni Barat dan AS, serta ancaman arogansi Zionis Israil. Rakyat Syria memang melihat perlindungan dan rasa aman dari hegemoni dan ancaman pihak-pihak tersebut. Karena itu, tatkala ada potensi yang mengancam stabilitas politik dan pemerintahan Assad dengan terjadinya demo-demo kecil di daerah-daerah perbatasan negara ini, maka akan dibalas dengan mengadakan demonstarasi damai dalam skala besar untuk mendukung pemerintahan Assad. Hal ini untuk menunjukkan dukungan rakyat atas pemerintahan yang mereka nilai dapat dijadikan sandaran bagi terjaganya kedaulatan negara dan mengusir intervensi asing.

Konsistensi untuk berdaulat, posisi strategisnya di Kawasan, penentangannya atas eksistensi rezim Zionis Israil, dukungan yang konsisten mereka kepada barisan muqawama, dan dukungan luas rakyat atas pemerintahan yang menjadikan para pihak anti Damaskus melancarkan konspirasi dengan cara-cara yang sangat kejam. Tujuannya adalah menciptakan krisis yang dapat menumbangkan Bashar Assad. Eksistensi pemerintahan Syria dibawah kepemimpinan Assad dan dukungan luas rakyatnya menjadi faktor kunci yang banyak menyandung kepentingan Barat, terutama AS dan para sekutunya di Timteng. Menggantikan pengendali pemerintahan kepada pihak-pihak yang dapat dikontrol oleh para konspirator itu tentunya dianggap langkah tepat. Pilihannya dengan menciptakan krisis yang terus meneror Damaskus melalui tangan-tangan kelompok bersenjata yang biasa melancarkan aksi-aksis terorisme, dengan dalih pemberontakan rakyat.

Kehadiran para pemberontak bersenjata eksporan ke Syria telah benar-benar menciptakan krisis kemanusiaan yang memprihatinkan. Mereka yang mengatasnamakan rakyat Syria telah menempuh cara-cara yang justru membahayakan dan menjerumuskan rakyat negara ini kedalam medan perang yang kejam. Berbagai pembantaian terhadap rakyat telah dilakukan oleh para pemberontak yang mengaku ‘mujahidin’ itu. Selain menjadikan rakyat sebagai tameng menghadapi serangan yang dilancarkan militer Syria untuk melumpuhkan dan mengusir mereka dari Syria.

AS bersama para sekutunya di Barat, juga beberapa negara di Kawasan tentu sangat berkepentingan dengan jatuhnya Assad yang selama ini melawan arus dan menentang skenario Timur Tengah mereka di Timteng. Karenanya, tidak asing untuk melihat peran aktif negara-negara itu dalam merencanakan dan mengontrol Syria melalui aksi-aksi para Pemberontak yang diekspor. Pemeran utama bagi terjadinya krisis Syria adalah AS, Inggris, Prancis, Israil, Qatar, Arab Saudi, dan Turki, mereka mensponsori organisasi-organisasi Islam yang sebagian besar selama ini berperan sebagai gerakan-gerakan teroris internasional, seperti Al Qaeda.

Para milisi sebenarnya berasal dari organ-organ yang berbeda, untuk kemudian bergabung pada dua sayap dominan eksis di Syria, SNC dan FSA. Namun akhir-akhir ini mereka mulai terpecah lagi dalam orientasi ideologinya masing-masing, seperti yang diulas Dina Sulaiman dengan sangat memadai dalam tulisannya “Terungkapnya Jati Diri Para Aktor di Syria” di situs Irib dan The Global Review. Turki adalah tuan rumah pembentukan SNC dan FSA, yang Al Qaeda tergabung didalamnya. Sedangkan afiliasi pimpinan Ikhwanul Muslimin ada dalam National Coalition for Syrian Revolutionary and Opposition Forces, yang dibentuk di Doha, Qatar pada November 2012. Kedatangan para milisi, dukungan financial, dan persenjataan, difasilitasi secara maksimal oleh negara-negara pemeran utama terjadinya krisis di Syria. Sebagaimana laporan yang ditulis New York Times yang kemudian dikutip Press TV (28/2), tentang sebuah informasi yang diperoleh dari seorang pejabat pemerintah AS. Bahwa AS dan para sekutunya turut serta memfasilitasi pelatihan militer bagi pemberontak yang akan dikirim ke Suriah, ditempat-tempat yang tidak tegas disebut namanya.

Media-media mainstream yang memang berada dalam kendali Barat, telah memainkan peran strategis membentuk opini masyarakat dunia. Melalui jaringan informasi itu Pemerintahan Damaskus dan dibawah Assad adalah diktator yang tidak bersedia menegakkan demokrasi. Rezim ini digambarkan sangat kejam dengan membantai rakyatnya sendiri melalui aksi-aksi militer dan penculikan. Media-media alternative yang berafiliasi atau mendukung para pemberontak di Syria pun menjadi alat bagi pemirsa masyarakat Islam dalam mempropagandakan gambaran negatif Pemerintahan Assad. Sembari mengagung-agungkan peran dan capaian-capaian pemberontak, mereka juga menyulut fitnah-fitnah sektarian dalam Islam.

Namun Syria dalam menghadapi konspirasi besar untuk meruntuhkan kekuasaan Assad itu tidak berada dalam kesendirian. Rusia sebagai sekutu dekatnya yang dibantu oleh China, Iran, juga Venezuela telah memainkan peran-peran signifikan dalam menentang intervensi pihak-pihak asing itu dalam urusan internal Syria. Peran-peran politik dan diplomasi ditingkat regional dan internasional mereka tempuh untuk menjaga indevendensi Syria. Juga menghindarkan opsi-opsi militer dari Nato bersama sekutu dikawasan dapat dijalankan dengan mulus.

Begitu pun dengan media-media alternatif lain tidak absen menghadirkan perifikasi fakta yang sebenarnya terjadi di Syria. Banyak analisis yang juga disuguhkan untuk dapat membaca peta masalah secara objektif, dan aktor-aktor yang bermain mengacaukan situasi Syria. Hal ini tentunya untuk mengimbangi kerja-kerja media anti Damaskus yang telah banyak berupaya menyimpangkan fakta-fakta, dan berusaha menebafkan fitnah-fitnah yang menyudutkan Pemerintahan Presiden Bashar Assad.

*Penulis adalah Ketua Komunitas Studi Agama dan Filsafat (KSAF – Aceh), tinggal di Banda Aceh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: