Konflik di Suriah bukan Konflik Sunni-Syiah

Konflik di Suriah bukan Konflik Sunni-Syiah

SUMBER: Muslim Indonesia Bersatu

Belakangan ini semua media massa baik lokal maupun internasional gencar memberitakan informasi seputar konflik Suriah. Namun sangat disayangkan sebagian besar media massa di Indonesia hanya mengekor pemberitaan mainstream media Arab dan Barat yang mengarahkan konflik ini menjadi konflik sektarian antara Sunni-Syiah. Isu konflik Sunni-Syiah di Suriah juga digaungkan dengan sangat keras oleh sejumlah pihak seperti Mufti Agung Arab Saudi dan Ketua Ulama Senior Sheikh Abdul Aziz bin Abdullah Al-Sheikh, yang berfatwa bahwa mendukung Tentara Suriah Merdeka dan membuatnya lebih kuat seiring dengan semakin lemahnya rezim Suriah adalah bentuk jihad di jalan Allah.

Media massa Barat tak hentinya mempropagandakan informasi yang tidak benar untuk mengobarkan kebencian sesama muslim dan memecah-belah ukhuwah Islamiyah, khususnya diantara Sunni dan Syiah. Faktanya, konflik di Suriah adalah konflik politik dan sama sekali BUKAN konflik antara Sunni dan Syiah. Meskipun berasal dari kelompok Alawi, Bashar Assad dan ayahnya adalah pemimpin yang secara ideologis beraliran Baath yang sekuler. Kelompok Alawi sendiri tidak mengikuti fiqih Ja’fari yang diikuti Syiah, melainkan fiqih Hanafi dan Maliki seperti layaknya Sunni. Perhatikan video yang memperlihatkan cara sahalat Bashar Assad dlm upacara Shalat Idul Fitri.

Tidak adanya warna mazhab Syiah juga dapat dilihat dari komposisi pemerintahan Assad saat ini dimana tiga menteri di kabinetnya berasal dari kelompok kristen. Salah satunya adalah Jenderal Daud Rajhi yang menjadi Menteri Pertahanan.

Sejarah Alawi dan Politik Suriah

Untuk dapat membaca peta konflik Suriah dengan tepat, diperlukan pemahaman yang benar dan menyeluruh tentang kelompok Alawi yang saat ini memerintah di Suriah. Di sebuah perpustakaan di Lebanon, terdapat Kitab al-Mausu’ah al-‘Alawiyyah. Kitab yang berjumlah 15 jilid ini merupakan ensiklopedia sejarah yang lengkap tentang kelompok Alawi. Di dalamnya kita dapat menemukan sejarah panjang Alawi; pembentukan; penderitaan ratusan tahun mereka; akidah, tokoh-tokoh mereka dan sebagainya.

Alawi secara akidah mengakui imamah (kepemimpinan) Imam Ali sampai Imam Husein dan mereka juga mengakui khilafah dari  al-Khulafa Ar-Rasyidin. Selain itu, mazhab fiqih mereka tidak mengikuti Imam Ja’far (yang menajdi mazhab fiqih Syiah), melainkan mazhab oplosan Hanafi dan Maliki. Namun, Alawi pada dasarnya tidak mengenal atau memperkenalkan fiqih karena mereka tidak mewajibkan penganutnya untuk mengamalkan syariat apapun. Alawi menganggap berwilayah (mengakui dan mengikuti kepempinan) kepada Imam Ali akan menjadi jaminan masuk surga. Ajaran terakhir ini yang menyebabkan mereka dianggap zindiq (sesat) baik oleh jumhur Syiah sendiri maupun Sunni.

Sejak dulu Assad Senior menolak menjadikan Suriah menjadi negeri religius. Menurutnya, Alawi lebih baik menjadi sekuler. Lebih baik Alawi di Suriah, Lebanon dan Turki ini tetap menjadi sekuler, bahkan ateis sekalipun. Sebagai gantinya Assad Senior memainkan dua kartu sekaligus semasa berkuasa: memberikan otoritas agama pada kaum Sunni, bahkan yang anti Syiah sekalipun, tetapi memegang erat kendali politik serta beraliansi dengan Iran. Assad pun kemudian mendapat banyak keuntungan dari kebijakan ini.

Setelah Assad Senior meninggal, Bashar Assad mempertahankan kebijakan politik ayahnya. Selain mempertahankan hubungan baiknya dengan Iran, Bashar juga membangun hubungan sangat baik dengan Arab Saudi sejak awal dia memegang tampuk kekuasaan. Bahkan, sampai dengan setahun sebelum konflik terjadi, Arab Saudi dan Qatar juga mempunyai hubungan yang sangat akrab dengan rezim Suriah. Namun rupanya kedekatan politik Bashar dengan Iran ini tak disukai banyak pihak.

Karena itu, konflik Suriah sebenarnya sama sekali tak ada kaitannya dengan mazhab. Isu konflik mazhab Sunni versus Syiah ini sengaja dieksploitasi oleh kelompok oposisi yang sudah gagal secara politik dan militer untuk mendapatkan dukungan dari aktor-aktor regional dan global yang memiliki kepentingan di kawasan. Mereka sengaja mengangkat isu mazhab ini untuk menyamarkan kekacauan yang mereka lakukan sebagai revolusi di saat sejumlah negara Arab lainnya memang telah dan sedang mengalami revolusi.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: