Kasus Sampang: Ini Bukan Masalah Sunni – Syiah

Ini Bukan Masalah Sunni – Syiah

SUMBER: Islam Indonesia

Kericuhan yang terjadi pada Minggu (26/8) memunculkan rasa ketidakpastian dan kesedihan yang mendalam di kalangan 178 pengungsi yang kini mendiami Stadion Indoor Sampang. Mereka yang terdiri dari lelaki tua, anak-anak dan perempuan, mengaku sudah lelah mengalami peristiwa yang mengerikan tersebut. Seperti apa cetusan hati mereka, Ahmad Jayadi dari Islam-Indonesia.com mewawancara  salah satu pimpinan mereka. Namanya Iklil Almilal (40 ), warga asal Desa Blu’uran, Kecamatan Karang Penang, Kabupaten Sampang. Berikut kutipannya:

Bisa cerita Pak, awalnya penyerangan kemarin terjadi?

Ceritanya saat itu, kami mau mengantarkan anak-anak kembali ke pondok pesantren. Kami lantas nyarter mobil asal Pamekasan. Pukul 8 pagi, kami ada di jalan. Pukul 8 lewat, kami sudah ada di Omben. Tiba-tiba salah seorang dari kami mendapat ancaman lewat hp. Mereka bilang  kami harus pergi dari Omben, jika tidak, rumah-rumah kami akan dibakar. Kemudian untuk menyiasati, maka kami antar satu per satu. Kami antar duluan yang perempuan. Begitu para perempuan sudah pergi, tiba-tiba mereka datang dan  mengepung kami. Kami menghindari mereka dengan memutar lewat tambak. Tapi sesampai di rumah ternyata sudah ada yang luka. Orang tua kami bahkan ada yang pingsan karena tidak tahan melihat darah.

Siapa saja yang melakukan penyerangan itu?

Yang menyerang kami adalah warga sekitar situ juga. Beberapa adalah tetangga kami. Mereka datang disertai serombonganan  orang dari Proppo (Pamekasan) dan Tabata (Pamekasan). Perbandingan antara orang asli Blu’uran dengan yang dari luar (Proppo dan Tabata) adalah 50 : 50. Dalam kondisi dikepung dan didesak kami sebenarnya sudah mengalah, mundur dan sabar. Jatuhnya korban meninggal (Hamamah) adalah karena dia sudah tidak tahan lagi. Dia didesak untuk melawan  dan akhirnya tewas. Tohir (adik kandung Hamamah) tentu saja tak tinggal diam lalu membantu kakaknya. Akibatnya dia juga terkena sabetan clurit di bagian punggungnya. Untung Tohir masih selamat. Kami sudah mundur tapi tetap dikejar.

Berapa perbandingan antara orang Bapak dengan penyerang?

Kami cuma ada 13 orang, sedang mereka ada sekitar 6 truk, termasuk yang dari Proppo dan Tobiah

Bapak tahu alasannya kenapa mereka menyerang?

Kami dituduh menjalankan ajaran sesat. Beberapa tuduhan misalnya: kami hanya mendirikan shalat 3 waktu sehari semalam. Kami dituduh memiliki al-Qur’an yang berbeda dari mushaf yang biasanya. Katanya juga kami mewajibkan untuk membenci para sahabat Rasulullah (kecuali Ali r.a) serta mewajibkan nikah mut’ah.

Bapak merasa tuduhan itu benar?

Kami sudah coba membuktikan di pengadilan beberapa waktu lalu bahwa kami tidak merasa melakukan itu semua. Tapi mereka tetap ngotot.

Ini kan kejadian yang kedua kali setelah Desember tahun lalu, lantas mengapa sampai terjadi lagi?

Pasca kejadian pertama, kami dijanjikan keselamatan oleh aparat. Tapi ternyata terulang lagi hari ini. Kami merasa ada pembiaran. Aparat seperti Kades dalam hal ini tidak netral sama sekali, bahkan Kades ada di depan saat penyerangan dan tidak melakuan apa-apa. Depag dan MUI juga tidak memberikan jaminan keamanan pada kami. Sebenarnya pada tanggal 27 Ramadhan kami sudah mendapat ancaman. “Setelah syawal kalian akan kami bunuh” kata mereka. Kami tidak menanggapinya.

Apakah ini murni konflik antara Syiah dengan Sunni?

Sebenarnya ini bukan masalah Sunni-Syiah. Diantara kami yang mengungsi ini (yang menjadi korban) ada juga yang Sunni. Bahkan 70% dari kami adalah Sunni. Kami sangat beragam. Diantara kami ada yang menantunya sunni. Intinya dalam satu keluarga kami macam-macam. Yang membuat saya kasihan, ada satu keluarga diantara warga kami yang dipaksa cerai karena salah satunya Syiah. Padahal mereka masih memiliki bayi umur 4 bulan. Yang perempuan Syiah, yang laki laki sunni. Pihak laki-laki (yang dari luar) memaksa anaknya untuk cerai.

Jadi kalau begitu apa sebenarnya penyebab utamanya? Apakah ada kepentingan lain?

Dulu orangtua saya pernah ditahan. Sebabnya karena orang tua saya melawan terhadap perampasan tanah dan penjarahan aset. Kami melawan atas ketidakadilan. Saya sendiri juga sering mengkritik pemerintah atas ketidakadilan, misal soal tidak sampainya raskin (beras miskin) pada warga yang berhak. Mungkin inilah alasan kami selalu disingkirkan. Sikap kritis kami tidak disenangi.

Sebenarnya siapa pelaku utama kerusuhan kemarin?

Mereka sebenarnya ustadz-ustadz yang sudah paham agama. Bukan warga awam. Yang menjadi pimpinan justru para ustadz ini. Padahal sebagian dari mereka adalah bekas santri orang tua saya.

Berapa jumlah rumah yang terbakar saat ini?

Menurut pemerintah 35 rumah, tapi menurut hitungan kami ada 37 rumah. Tidak ada yang tersisa samasekali. Rata dengan tanah. Jika ada barang yang terselamatkan dan tersisa, tetap mereka ambil dan mereka bakar.

Apa harapan Bapak ke depan?

Relokasi bukan penyelesaian masalah. Walaupun aparat dan pemerintah menjanjikan keamanan di luar (tempat relokasi) tapi kami tidak yakin. Bagaimana kami bisa aman di tempat lain sedangkan di kampung kami sendiri kami tidak aman? Kami ingin agar pelaku tindak kriminal ditindak. Tidak boleh ada lagi intimidasi antar warga atas nama agama. (Islam-Indonesia/Hendi Jo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: