Indonesia Vs Malaysia: Bukan Hanya Bola

Indonesia Vs Malaysia: Bukan Hanya Bola

SUMBER: http://syafiqb.com

Kekalahan tim Garuda dari Malaysia pada SEA Games ke-26 mengingatkan kita pada berbagai persaingan antara Indonesia dan Negeri Jiran itu.

Belum lama berselang, masih hangat dalam ingatan kita, muncul isu soal bergesernya garis batas negara kita di Kalimantan. Kemudian juga masalah TKI, dan kasus Sipadan dan Ligitan tempo hari.

Bukan hanya itu. Lomba antar-tetangga itu berada dalam berbagai sektor. Dalam urusan seni dan budaya harus diakui Indonesia unggul, sehingga kita sewot saat Malaysia mengklaim hak cipta hasil karya orang Indonesia. Namun di bidang kesehatan, pariwisata dan pendidikan, jiran yang satu ini jauh meninggalkan kita. Mari kita jenguk.

Dalam bidang pendidikan, harus diakui sejak lama banyak orang Malaysia belajar di Indonesia. Hingga kini pun mahasiswa Malaysia mendominasi jumlah mahasiswa asing di Indonesia, yang jumlahnya mencapai 6000-an orang.

Lazimnya mengambil mata kuliah di bidang kedokteran, farmasi, agama Islam dan teknik, di antara perguruan tinggi yang banyak disasar mahasiswa asing itu adalah UI, IPB, ITB, Universitas Padjajaran, UIN Syarif Hidayatullah, dan ITS Sepuluh November.

Namun jumlah itu jauh di bawah angka mahasiswa Indonesia di Malaysia, yang hingga tahun 2010 lalu diperkirakan mencapai 9800-an, nomor dua terbanyak setelah mahasiswa asal Iran.

Data yang ada menunjukkan hingga 2007 saja, sekurang-kurangnya ada 45 ribu mahasiswa asing di Malaysia, hampir dua kali lipat dari jumlah pada tahun 2002 (sekitar 27 ribu). Bukan mustahil jumlahnya kini mendekati 80 ribuan.

Maka tidak heran bila saat ini berbagai universitas besar dan kecil dipadati muda-mudi dari berbagai negara di dunia – utamanya dari dunia ketiga. Sebutlah umpamanya Multimedia University (MMU), yang mulai beroperasi sekitar 12 tahun lalu.

Kini perguruan tinggi swasta pertama di Malaysia — yang dibangun oleh mantan Perdana Menteri Mahathir Mohammad — itu telah memiliki lebih dari 20 ribu mahasiswa , sekitar 4200-an di antaranya adalah mahasiswa asing dari 70-an negara seperti Iran, Indonesia, Arab Saudi, Kazakhstan, Sudan, China dan Thailand.

Di bidang kesehatan pun Malaysia juga piawai, mengikuti Thailand dan Singapura. Hingga tahun 2005 lalu jumlah pasien asing yang berobat ke Malaysia mencapai 400 ribuan orang.

Menurut data tahun 2007, sekitar 72% pasien asing di Malaysia berasal dari Indonesia. Diperkirakan tahun 2010lalu Malaysia menangguk tidak kurang dari RM 2 miliar (sekitar Rp.5,6 triliun) dari pasien asing yang berobat ke sana.

Bila angka itu benar, dan jumlah pasien asing asal Indonesia tetap di angka 70 prosen, maka artinya tahun lalu kita menyumbang sekitar Rp.3,9 triliun kepada sejumlah Rumah Sakit di Malaysia.

Brand dan promosi

Mengapa Malaysia begitu maju dalam bidang pendidikan dan wisata kesehatan?

Faktor bahasa Inggris, kata sebagian orang. Baiklah, memang bahasa Inggris menjadi bahasa kedua di sana, sehingga penting artinya dalam bidang pendidikan.

Tapi dari sisi kedokteran dan kesehatan, bukankah dokter kita tidak kalah pandai dari dokter Malaysia? Sementara mahasiswa Malaysia masih banyak yang belajar di sini.

Rupanya di antara penyebab utama adalah karena lembaga pemerintahan dan swasta Malaysia gencar berpromosi ke seluruh dunia. Selain itu, mereka secara serius memanfaatkan Internet efektif sehingga seolah ada satu Malaysian.Inc yang sangat kompak.

Tidak sia-sia usaha promosi ke dunia yang mereka lakukan selama ini. Bahkan sudah sejak 1990 Mahathir Muhammad meluncurkan Visi Malaysia 2020, yang bertujuan menjadikannya negara industri yang mandiri (self-sufficient industrialized nation). Di antara hasilnya, GDP perkapita Malaysia pada 2006 berhasil mencapai $12.155, jauh di atas Indonesia ($ 4.251).

Promosi melalui Internet juga sangat diandalkan. Berbagai universitas Malaysia, misalnya, mengembangkan situs universitymalaysia.net yang memberikan informasi mengenai apa dan bagaimana negeri dengan 13 negara bagian (federal) dan penduduk 28,5 juta itu, menampung sejumlah besar mahasiswa asing dari 100-an negara.

Sebaliknya, Indonesia masih tertinggal. Cobalah cari ’international students in Indonesia’ di Google, maka yang Anda peroleh justru lebih banyak promosi berbagai perguruan tinggi di luar negeri yang hendak menarik mahasiswa kita ke sana.

Dalam upaya promosi bagi pendatang, turis, investor dan expatriate, Malaysia juga melangkah beberapa tahap di depan kita. Cobalah berjalan-jalan di sekitar Bukit Bintang di Kuala Lumpur. Dari ujung ke ujung Anda akan mendapati ratusan turis asing, utamanya dari Timur Tengah.

Pemerintah kota juga menyulap suasana di tengah Kuala Lumpur sehingga menjadi seolah ‘Timur Tengah Kecil’.

Lalu perhatikan situs Alloexpat ini.  Sekali masuk laman itu, seseorang yang ‘asing’ dengan negeri itu secara mudah akan bisa mengeksplorasi apa pun yang dia ingin ketahui.

Situs itu juga memberi tautan kepada ‘Layanan Imigrasi Malaysia’ – suatu hal yang paling mendasar bagi seseorang yang hendak merantau atau berlibur ke Negara lain.

Lewat situs seperti itu juga, seorang ekspatriat bisa mendapat informasi seperti restoran, hotel dan perumahan, guide belanja, sekolah, olahraga, jasa relokasi, jasa keuangan, informasi kesehatan, dan rekreasi.

Promosi atau iklan yang gencar dan dikelola secara strategis dan terintegrasi menjadikan brand atau reputasi Malaysia di dunia terus meningkat. Boleh jadi, bahasa menjadi salah satu alasan orang kuliah di luar negeri.

Tapi reputasi negara itu juga amat berperan.Brandsebuah negeri itulah misalnya yang menyebabkan orangtua suka mengirim anaknya tidak saja berkuliah ke negara berbahasa Inggris seperti AS atau Australia, melainkan juga ke Jerman, Prancis atau Jepang – yang tidak berbahasa Inggris.

Negara-negara itu punya brand yang tertanam di benak audience di seluruh dunia. Itu pula sebabnya Thailand ramai dikunjungi turis dan pasien dari manca negara yang hendak berobat.

Sejatinya memang kita bisa menggunakan branding sebagai alat untuk menemukan, mendesain, dan mengkreasikan berbagai produk dan jasa; juga, sampai batas tertentu, bagi ’sebuah negara’. Lewat branding itulah sebuah negara dapat mempertajam dan memengaruhi audiensnya di tingkat global.

Ia dapat memperkuat persepsi audiens karena branding di dalam hati (benak) adalah mengenai penciptaan koneksi-koneksi dan asosiasi dengan orang dan berbagai benda

Ia menyebabkan orang pergi ke dunia lain, untuk menemukan sesuatu yang baru, dan pada gilirannya juga menjadi ’ditemukan’. Ia adalah sebuah perjalanan terus menerus.

Salah satu kebenaran emosional yang tersembunyi di belakang kekayaan dan dampak branding adalah bahwa orang ingin menjadi bagian dari ’sesuatu yang lebih besar’ dari dirinya.

Kita, misalnya, ingin bergabung dengan mendiang Steve Jobs, dan kita melakukannya dengan membeli produk Apple.

Demikian pula, kita ingin bergabung dengan negara yang dalam benak kita dipotret sebagai ’maju’ seperti Jepang dan Inggris, sehingga membeli produk mereka, mengirim anak sekolah atau berobat di sana. Ringkasnya, kita ingin masuk dalam bagian brand-brand itu.

Lewat strategi marketing dan PR modern, Malaysia berhasil menciptakan keinginan (desire), menjanjikan mimpi-mimpi dan identitas yang diharapkan audience global. Mereka tahu, reputasi yang dibangun dan diakselerasikan melalui promosi akan menjadikan audiens merasa senang, ’muda kembali’, segar, maju dan progresif.

Penulis adalah Konsultan Komunikasi, dosen di Program Pascasarjana UniversitasParamadina, dan alumnus MA in Journalism, UTS (Australia).

Satu Tanggapan

  1. waduh, makin rame aja nih..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: