Turki, Pengusung Misi Barat untuk Suriah

Turki, Pengusung Misi Barat untuk Suriah

SUMBER: Irib Indonesia

Salah satu langkah terbaru Ankara terhadap pemerintah Damaskus dan atas nama demokrasi untuk rakyat Suriah, adalah sepakat untuk membuka kantor kelompok oposisi Suriah di Istanbul. Hubungan kedua negara bertetangga itu diperkeruh lagi dengan pernyataan para pejabat Turki baru-baru ini tentang kepemimpinan Suriah. Mereka telah mengeluarkan peringatan untuk memotong ekspor listrik ke Suriah dan bahkan menyatakan Bashar al-Assad akan bernasib seperti mantan penguasa Libya Muammar Gaddafi

Turki benar-benar berhasil memainkan perannya sebagai negara berpengaruh pada tingkat regional dan internasional dalam percaturan global. Ada banyak contoh keterlibatan Ankara dalam isu-isu regional dan ekstra-regional, di mana negara itu telah mencoba untuk memperluas hubungan, terutama dengan negara-negara tetangganya, membantu mengakhiri konflik seperti di Afghanistan dan Pakistan atau meredakan selama puluhan tahun ketegangan, seperti antara Turki dan Armenia, Yunani dan bahkan Suriah.

Namun, peran Turki dalam menghadapi pemberontakan Arab saat ini telah menyisakan banyak tanda tanya, apakah itu sejalan dengan sikap sebelumnya atau telah mengalami perubahan total? Mengapa Turki rela mengorbankan peran regionalnya yang telah banyak memperoleh dukungan? Bukankah peran-peran itu, terutama kerjasama dengan Damaskus, akan membantu Ankara melawan ancaman konstan mereka, Partai Pekerja Kurdistan (PKK)?

Negara senantiasa dituntut untuk bertindak sesuai dengan kepentingan nasionalnya. Namun, apa yang diperebutkan Turki di Suriah dengan mempertaruhkan peran-peran positif regionalnya? Setidaknya ini menjadi tidak jelas. Benar, pemerintah Assad memiliki pembangkang, tapi ia juga memiliki banyak pendukung.

Ankara mencoba memposisikan dirinya sebagai pembela demokrasi, menunjukkan dukungan bagi gerakan pencari demokrasi di Suriah. Namun yang mengherankan,Turki memilih bungkam atas kebangkitan rakyat di negara-negara Arab lain, seperti di Bahrain, Yordania, Yaman, dan bahkan Arab Saudi. Sebelumnya, Turki juga memilih diam atas pemberontakan di Tunisia, Mesir, dan Libya. Ankara tidak menunjukkan keprihatinan yang sama dan juga tidak memposisikan dirinya sebagai pembela demokrasi dalam menyikapi gejolak di negara-negara tersebut.

Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan mengunjungi Libya dan Mesir pada bulan September. Dalam kunjungan ke Kairo, Erdogan berbicara tentang perlunya sekularisme dalam menyusun konstitusi baru Mesir. Selain mengganggu Ikhwanul Muslimin, yang dianggap sebagai kekuatan terbesar dan Islami di Mesir, pernyataan itu juga telah mengejutkan banyak kalangan di Turki.

Ankara menggunakan retorika yang sama dalam kasus Suriah, dengan mendukung orang-orang seperti Burhan Ghalioun, yang dikenal liberal. Ironisnya, Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) berutang kepada suara umat Islam Turki, yang muak dengan partai-partai kiri dan kanan. Erdogan tahu betul bahwa mereka adalah aset yang tak ternilai bagi AKP. Bahkan lebih ironis lagi bahwa beberapa tahanan politik di Turki, adalah pendukung sekularisme yang mengkritik demokrasi versi AKP.

Isu-isu tersebut ternyata tidak murni dari Turki, tapi pesanan Barat, yang telah lama menentang aturan agama di kawasan dan resistensi. Mereka takut Islam akan menjadi tulang punggung dalam sistem politik negara-negara pasca revolusi. Turki berharap bisa mempermulus jalannya menuju Uni Eropa dengan mengusung misi Barat di Suriah. (IRIB Indonesia/RM/MF)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: