Mutu Siaran TV Kita

Mutu Siaran TV

SUMBER: Inilah.Com

Oleh: Syafiq Basri Assegaff

Bocah sembilan tahun di Manokwari, Papua Barat, baru-baru ini diajukan ke pengadilan karena membunuh seorang teman bermainnya. Pada 25 Juli silam ia menusuk leher temannya dengan pisau.

Kepada penyidik, ia menyatakan ide membunuh itu didorong kekerasan yang sering ia tonton di televisi.

Kita tidak tahu apakah akibat tontonan di televisi juga, maka para siswa SMA 6 Jakarta melakukan kekerasan terhadap wartawan? Tapi tidak salah kiranya bila ada yang berasumsi demikian, mengingat derasnya siaran tentang kekerasan di televisi (TV) belakangan ini.

Coba simak saja berbagai kanal TV yang ada di rumah Anda. Tayangan berita yang muncul hampir selalu berkaitan dengan urusan kekerasan.

Memang, rupanya, seperti kata teman yang bekerja di stasiun TV swasta, penonton kita suka dengan kekerasan.

Selain itu, sinetron – yang meski ceritanya terlalu dibuat-buat, klise dan sama sekali tidak membumi – dan acara banyolan merupakan program yang banyak diminati pemirsa.

Entahlah,kita tidak tahu apa ukuran besarnya minat penonton itu selain ‘rating’ — yang konon juga masih harus dipertanyakan validitasnya. Yang jelas, bulan puasa lalu seorang teman sempat kesal pada acara televisi yang ada. Meski sudah berlangganan TV Cable, toh ia memprioritaskan menonton acara bernuansa Ramadhan di dalam negeri.

Tapi ia sering kecewa, khususnya karena terlalu banyaknya acara lawak atau dagelan yang secara jelas-jelas menurunkan mutu spiritual malam-malam Ramadhan. “Apa kita ini negeri dagelan?” tanya kawan itu.

Saya tidak bisa menjawab. Saya hanya bilang,”Kecuali program tafsir Dr.Quraisy Shihab (di Metro TV) atau Mamah Dedeh (di Indosiar), saya lebih suka memindahkan kanal TV ke saluran televisi asing seperti BBC Knowledge, Al-Jazeera, History atau Discovery.”

Kekesalan kawan tadi — dan mungkin banyak dari kita juga — makin bertambah ketika menonton berita malam hari – baik sebelum lebaran maupun sesudah Iedul Fitri berlalu — yang isinya didominasi urusan kekerasan, kericuhan, perseteruan dan bentrokan yang sejatinya tidak terlalu penting untuk dikonsumsi penonton.

Bicara kekerasan, mungkin kawan itu tidak tahu bahwa di antara pedoman sementara awak TV adalah ‘makin berdarah sebuah peristiwa, makin menarik untuk ditayangkan,’ seolah mengamini praxis bahwa ‘bad news is good news’.

Kalau sebuah kereta hanya anjlok dari rel tanpa korban, maka itu tidak menarik untuk diliput. Tapi jika sebuah tabrakan kereta memakan korban puluhan orang, dan ada scene (gambar) darah-darah yang berceceran, atau organ tubuh berserakan, itu baru ‘dramatis’, baru boleh dibilang menegangkan. Nah, makin dramatis sebuah peristiwa berarti ia makin menegangkan, dan makin menarik atau ‘sexy’ untuk disiarkan TV.

Efek Negatif

Sebagaimana kita tahu, dampak TV itu beraneka ragam. Penelitian secara psikologi menunjukkan bahwa menonton program yang penuh tekanan emosi meninggalkan jejak jangka panjang (yang tak mudah hilang) pada jiwa seseorang.

Tayangan (scene) horor, hantu, dan tayangan menakutkan yang disuguhkan di TV memiliki dampak negatif pada jiwa yang melihatnya. Demikian pula aksi kekerasan, pembunuhan, perkelahian fisik dan pertumpahan darah yang dipertontonkan mempengaruhi pikiran dan emosi pemirsanya.

Sebuah penelitian pada 3.000-an anak balita menemukan bahwa mereka yang terlalu sering menonton TV, secara langsung atau pun tidak, akan berisiko memamerkan perilaku agresif.

Para peneliti juga menyatakan bahwa penyakit kurangnya perhatian (attention deficit disorders) pada anak-anak terjadi akibat menonton TV. Mereka menyatakan bahwa memirsa TV mendorong berkembangnya kelainan di sebagian orang, yang berperan pada kecakapan bahasa.

Anak-anak yang banyak menonton TV dan (akibatnya) sedikit membaca, sulit memberi perhatian dan berkonsentrasi. Nah, jika mereka terlalu lama duduk di depan TV, maka mereka menjadi lebih rentan ditimpa penyakit itu.

Harus diakui bahwa TV adalah sebuah media yang efektif, yang digunakan untuk propaganda segala macam jenis produk. Anak-anak yang menonton TV tanpa supervisi akan memaparkan (ekspose) mereka kepada demikian banyak variasi barang. Iklan di TV mungkin sekali mempengaruhi anak-anak untuk memilih kesimpulan-kesimpulan yang tidak semestinya.

Iklan mengenai makanan cepat saji, minuman tak bergizi atau produk lain yang tidak sehat mendorong munculnya dampak pada anak-anak yang memirsanya. Iklan-iklan yang disajikan secara attraktif dan kisah berbagai film, termasuk sinetron (yang sering tidak membumi), membawa dampak yang dalam pada jiwa kaum muda, sehingga memengaruhi cara berpikir dan perilaku mereka.

Jelas bahwa orang yang menonton TV, khususnya anak-anak dan kaum muda, akan mulai mengidentifikasi diri mereka dengan apa yang dipertunjukkan. Mereka menghubungkan berbagai tayangan, berita, show dan film itu sedemikian rupa sehingga mereka bisa menjadi bosan pada kehidupan normal dan sederhana yang dialami.

Repotnya, secara sadar atau tidak sadar mereka kemudian memimpikan ketenaran dan hidup kaya; bercermin pada kehidupan yang dijalani lakon utama acara-acara TV favorit. Ini semua bisa bermuara pada tingginya kekecewaan masyarakat.

Sementara kehidupan nyata sangat kontras dengan hidup yang digambarkan dalam TV, para pecandu TV menjadi ‘lapar’ pada kekuasaan (atau popularitas), uang dan status.

Banyaknya siswa lulusan SMA yang belakangan menyerbu ke sekolah broadcasting, menjadi presenter, boleh jadi merupakan salah satu pertanda itu. Jurusan komunikasi di berbagai universitas sering menjadi pilihan favorit dibandingkan jurusan atau fakultas lain – sebuah fenomena yang menarik untuk dikaji dalam kaitannya dengan pengaruh televisi.

Meski seolah tampak sebagai sarana pelepas stres, TV sebenarnya menambahkan tekanan mental pada banyak orang. Meski kelihatannya menghilangkan tekanan jiwa, sesungguhnya ia menambahkan beban pada otak Anda. Ia jelas membawa dampak negatif kepada jiwa pemirsanya.

Memang tidak semua yang ditayangkan TV jelek. Namun, berhubung rata-rata anak-anak usia dua hingga 11 tahun menonton lebih dari 27 jam berbagai acara ’remeh’ atau ’tidak bermanfaat’ setiap pekan (lalu tidur di sela-sela waktu) dan karena orang tua tidak sadar kebebasan binal yang ’diajarkan’ televisi terhadap anak, Anda selayaknya mengontrolnya dengan bijak.

Di antara yang disarankan para ahli untuk menyiasati hal ini adalah: jangan biarkan anak-anak sekedar ’asal nonton TV’: ajarkan agar mereka memilih program yang Anda sudah setujui; arahkan agar mengerjakan pekerjaan rumah (PR) lebih dulu; jangan boleh ‘berselancar kanal’ yang biasanya berujung pada acara yang mungkin memuat seks atau penuh kekerasan; ajak anak memirsa TV bersama, mendiskusikan acara yang ditonton dan belajar mengkritisinya.

Oh ya, satu lagi: jangan jadikan TV sebagai pengganti babysitter, atau penjaga anak, dan jangan pernah menjadikan TV untuk meredakan tangis anak – apalagi tangis Anda sendiri…

Penulis adalah konsultan komunikasi, Peneliti di Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Universitas Paramadina; dan alumnus MA in Journalism, UTS (Australia).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: