Logika AS: Ada Diktator Baik dan Buruk

Logika AS: Ada Diktator Baik dan Buruk

SUMBER: Irib

AS benar-benar kebingungan menyikapi fenomena yang terjadi akhir-akhir ini di negara-negara Arab. Ini merupakan problema utama AS. Jika mendukung diktator-diktator Arab, Washington akan kehilangan kredibilitasnya di mata dunia. Pada saat yang sama, bila Gedung Putih menentang mereka, itu sama halnya dengan mendiskreditkan kroni-kroni mereka sendiri.

Apa yang harus dilakukan AS di tengah krisis seperti ini? Dalam logika politik Washington, ada istilah diktator baik dan diktator buruk. Logika inilah yang membuat AS harus bersikap standar ganda dalam menyikapi gejolak di negara-negara Arab.

Di Bahrain, AS bersikap lebih lembut dalam menyikapi gejolak rakyat negara ini. Meski demikian, Washington tetap mengkritik rezim Bahrain yang bersikap anarkis dalam mereaksi para pendemo pro-demokrasi. Namun kadar kritikannya hanya sekedar basa-basi.

Mengapa Bahrain tidak disikapi keras oleh AS? Jawabannya sangatlah jelas. AS menganggap Bahrain sebagai mitra baik. Apalagi rezim Bahrain menfasilitasi AS untuk mendirikan pangkalan militer. Tentunya, gejolak di Bahrain akan merugikan kepentingan AS. Dualisme Washington juga dapat disaksikan pada sikap para pejabat Washington yang cenderung pro-kontra menyikapi Revolusi Rakyat di negara-negara Arab.

Kepada Bahrain, Presiden AS, Barack Obama memilih bungkam dalam menyikapi rezim Bahrain. Sementara itu, Libya menjadi sasaran kritik dan kecaman langsung dari Presiden AS.

Beluma lama ini, Penasehat Keamanan Nasional AS mengontak Raja Bahrain dan mengapresiasi langkah rezim Bahrain dalam menyikapi para pendemoa. Dikatakannya, “Bahrain termasuk mitra baik AS, dan di negara ini ada pangkalan angkatan udara AS.”

Terkait Libya, para diplomat Washington dalam pertemuannya dengan para pejabat Tripoli menyampaikan kritik pedasnya atas kekerasan Muammar Gaddafi dalam menyikapi unjuk rasa para pendemo pro-demokrasi. Philip Crowley, Jubir Kemenlu AS, termasuk pejabat yang bersikap keras dalam menyikapi gejolak akhir-akhir ini di Arab.

Meski AS menuding Libya sebagai negara yang mendukung terorisme, tapi Washington tetap menjalin hubungan diplomatik dengan negara ini pada tahun 2009. Yang jelas, kritikan-kritikan keras Washington terhadap dunia Arab membuat AS kehilangan keseimbangan. Menurut analisa pengamat Timur Tengah, Dina Y Suleiman, Gaddafi adalah tipe lain mitra AS yang berkesan anti-imprealisme. Hal itu juga jelas dengan pidato Gaddafi beberapa hari lalu. Dalam pidatonya. Gaddafi malah menakut-nakuti Barat bahwa gejolka di Libya akan melahirkan kekuatan Islam baru. Dengan cara ini, Gaddafi berupaya menjustifikasi pemberantasannya terhadap para pendemo di Libya.

Menyusul gejolak di Tunisia setelah beberapa dekade di bawah rezim Ben Ali, Gedung Putih mengeluarkan pernyataan anti-rezim ini. Padahal sebelumnya, tidak ada suara sumbang terkait Tunisia dari Negeri Paman Sam. Setalah Ben Ali tergulingkan, AS menyatakan bahwa masalah yang harus diperhatikan di negara ini adalah pelanggaran hak-hak asasi manusia oleh rezim Ben Ali.

Dari sisi lain, dualisme Washington terhadap femonena di negara-negara Arab menimbulkan ketegangan tersendiri dengan Arab Saudi. Raja Arab Saudi, Abdullah bin Abdul Aziz menyatakankecewa atas sikap Washington malah memojokkan posisi Hosni Mubarak. Semenjak awal, Arab Saudi bersikap membela diktator-diktator Arab, bahkan negara ini bersedia menjadi tempat perlindungan para diktator.

Menanggapi gejolak di Bahrain, Riyadh meminta Manama supaya memberantas para pendemo pro-demokrasi. Lebih dari itu, Riyadh bahkan menggandeng Qatar masuk ke wilayah Bahrain memberantas para pendemo. Hal inilah yang membuat AS lebih memilih bungkam dalam menyikapi Revolusi Rakyat di Bahrain.

Di tengah kondisi seperti ini, AS terpaksa harus menklasifikasi rezim di negara-negara Arab menjadi diktator baik dan buruk . Dengan cara ini, politik dualisme AS dapat diterapkan di negara ini. Akan tetapi klasifikasi ini jelas tidak valid dari sisi politik sehat yang menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi dan hak asasi manusia. Diktator tetaplah diktator. Barang buruk tetaplah buruk. Untuk itu, diktator tidak dapat dipaksakan untuk menjadi barang yang bukan buruk. Apalagi diktator ini dipaksakan menjadi diktator baik dan buruk. (IRIB/AR/SL)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: