Panggung Politik Mesir Pasca Mubarak

Panggung Politik Mesir Pasca Mubarak

SUMBER: Irib

Lengsernya Presiden Hosni Mubarak telah membuka peluang partisipasi lebih besar bagi berbagai partai dalam kancah politik Mesir dan struktur kekuasaan. Meski di panggung politik Mesir ada 24 partai politik, namun selama ini Partai Demokrasi Nasional (NDP) menjadi satu-satunya partai yang aktif dan berkuasa di negara itu. Berdasarkan undang-undang kepartaian tahun 1977, kegiatan partai politik di Mesir sah dan satu-satunya faktor pembatas dalam bidang itu adalah unsur-unsur agama dalam partai.

Sebagaimana di negara-negara lain, partai-partai politik di Mesir juga diklasifikasi dalam bentuk sayap kanan, sayap kiri dan moderat. Namun partai-partai itu tidak dapat leluasa melakukan kegiatannya karena kediktatoran penguasa. Batasan-batasan itu antara lain, dominasi tanpa batas Partai Demokrasi Nasional (NDP), perpanjangan kondisi darurat pasca pembunuhan Anwar Sadat dalam tiga dekade lalu, dan juga friksi internal dan di tengah partai. Kelompok dan partai-partai politik Mesir tidak dapat memainkan peran dominan dalam transformasi politik di negara itu.

Ikhwanul Muslimin, sebagai oposisi paling berpengaruh di Mesir dan termasuk gerakan terlarang selama beberapa tahun telah mampu mendemonstrasikan kekuatannya dalam kancah politik Negeri Piramida itu. Kelompok politik ini pada pemilu parlemen tahun 2005, berhasil meraih 88 kursi atau 20 persen dari seluruh kapasitas lembaga tersebut, dengan mengajukan kandidat-kandidat independen dan mendukung calon-calon dari partai lain.

Partai al-Amal, merupakan partai kedua yang dicabut izin aktivitasnya pada tahun 2000, karena menjalankan pendekatan Islamis. Saat ini, kebanyakan analis dari Ikhwanul Muslimin yang dipimpin oleh Mohammed Badie dan Front Nasional untuk Perubahan di bawah pimpinan Mohammed Elbaradei, menyebut kedua organisasi ini sebagai gerakan yang paling berpengaruh di tengah rakyat Mesir.

Kendati media-media asing berupaya membesar-besarkan beberapa kelompok yang baru muncul seperti Front Nasional untuk Perubahan, ketimbang gerakan yang sudah mengakar seperti Ikhwanul Muslimin, akan tetapi para pengamat meyakini bahwa Ikhwanul Muslimin sebagai kelompok politik paling penting di Mesir dan punya basis massa yang sangat kuat.

Secara geopolitik, Mesir mempunyai posisi yang sangat strategis, dan menjadi kekuatan utama dalam dunia Arab.Tumbangnya rezim Mubarak tentu akan sangat berpengaruh secara regional, termasuk hubungan dengan Israel dan Barat. Lalu siapa yang akan menentukan panggung politik di Mesir? Dan bagaimana corak kekuasaan yang akan datang? Adakah militer akan tetap mendominasi kekuasaan Mesir? Ini akan menjadi pertanyaan yang akan terus berlangsung dan dunia pun menanti jawabannya. (IRIB/RM/NA)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: