Ini Wawancara Khusus dengan Kolonel Adjie Suradji

Ini Wawancara Khusus dengan Kolonel Adjie Suradji

SUMBER: Tribun Medan

Selasa, 7 September 2010 | 20:55 WIB

Kolonel Adjie Suradji pernah menjadi Komandan Lapangan Udara Sjamsudin Noor Banjarmasin periode 1997-1999.

TRIBUN-MEDAN.com, JAKARTA – Nama Kolonel Adjie Suradji sedang melejit bukan karena penerbangannya yang spektakuler atau atraksi di udara cemerlang. Tapi karena tulisannya di media nasional menggemparkan Tanah Air.

Pasalnya, Kolonel Adjie adalah tentara aktif dan belum pensiun tapi menyampaikan kritik secara terbuka kepada Presiden yang tidak lain adalah Panglima Tertinggi TNI.

Fenomena ini seolah menyedot perhatian publik tidak hanya terfokus pada Polri yang segera berganti pimpinan atau TNI AL dengan kasus perbatasan dan penangkapan kapal dan TNI AD tapi “mengangkat” TNI AU yang selama ini sering terdengar pesawatnya jatuh karena berusia tua.

Dari seorang kolonel Adjie Suradjie ini, kata TNI AU menjadi hit di dunia maya dan bahkan nama dia sendiri juga sempat menjadi hit dalam pencarian di google. Sayang biografi maupun dokumen foto foto tentang kolonel yang vokal ini kurang terpublikasikan.

Selasa (7/9/2010) tribunnews.com berhasil mewawancarainya walau Kolonel ini sedang diawasi ketat untuk tidak bicara kepada media.

Dia saat ini sedang diawasi ketat oleh kesatuannya, dalam hal ini adalah Pimpinan TNI AU.

“Apa pun pergerakan saya harus sepengetahuan atasan. Kondisi saya sedang tidak bisa memberi keterangan,” kata Adjie, perwira menengah dengan melati tiga itu saat wawancara via phone dengan tribunnews.com.

Demi menjaga kedisiplinan dan ketaatan kepada atasan, saat ini Kolonel Adjie pun merahasiakan dimana dia tinggal.

“Saya tidak bisa memberi keterangan kepada wartawan. Saya sekarang sedang di rumah. Tetapi segala gerak gerik saya diawasi oleh kesatuan saya. Terutama Pimpinan TNI AU. Saya tidak bisa bebas bicara apalagi memberi keterangan kepada media,” ujar dia kepada wartawan.

Kolonel Adjie Suradji adalah mantan Komandan Lanud Syamsuddin Noor  Banjarmasin, Kalsel.  Walau dia rajin menulis dan tergolong vokal di kesatuannya melalui tulisan tulisan, tapi belum membuatnya terkenal.

Namanya melambung tanpa dia sadari, sejak tulisannya  mengenai kondisi terkini pemerintahan Indonesia dimuat di rubrik OPINI di Surat Kabar Harian Kompas, Senin (6/9/2010). Dia pun langsung dimintai pertanggungjawaban dan mendapat tanggapan dari berbagai kalangan.

Bahkan sejak Selasa ini, dia juga dilarang memberi tanggapan lanjutan terkait tulisannya sendiri. Dia dilarang memberi keterangan pers walau banyak wartawan memburu dan mencari alamat tinggal Sang Kolonel TNI AU ini.

“Kami sudah membuat komitmen segala sesuatunya, silakan berghubungan dengan Kadispen TNI AU,” kata Adjie.

Adjie juga seorang penulis buku TERORISME yang diluncurkan  di Istana Wapres 13 Oktober 2009. Saat itu, Adjie dinas selaku Staf Operasi Markas Besar TNI Angkatan Udara.

Ajie menuliskan buah pemikiran berupa harapan terhadap pemimpin bangsa Indonesia, dalam hal ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Buah pemikiran dan gagasan Adjie yang membandingkan prestasi para presiden dari Soekarno, Soeharto hingga SBY tersebut dimuat Kompas, edisi Senin, 6 September 2010.

Adjie Suradi dalam tulisan bertajuk Pemimpin, Keberanian, dan Perubahan mengatakan Indonesia sudah memiliki lima mantan presiden dan tiap presiden menghasilkan perubahannya sendiri-sendiri. Soekarno membawa perubahan besar bagi bangsa ini. Disusul Soeharto, Habibie, Gus Dur, dan Megawati.

Menurutnya, Soekarno barangkali telah dilupakan orang, tetapi tidak dengan sebutan Proklamator. Soeharto dengan Bapak Pembangunan dan perbaikan kehidupan sosial ekonomi rakyat. Habibie dengan teknologinya. Gus Dur dengan pluralisme dan egaliterismenya.

Megawati sebagai peletak dasar demokrasi, ratu demokrasi, karena dari lima mantan RI-1, ia yang mengakhiri masa jabatan tanpa kekisruhan. Yang lain, betapapun besar jasanya bagi bangsa dan negara, ada saja yang membuat mereka lengser secara tidak elegan.

“Sayang, hingga presiden keenam (SBY), ada hal buruk yang tampaknya belum berubah, yaitu perilaku korup para elite negeri ini. Akankah korupsi jadi warisan abadi? Saatnya SBY menjawab. Slogan yang diusung dalam kampanye politik, isu “Bersama Kita Bisa” (2004) dan “Lanjutkan” (2009), seharusnya bisa diimplementasikan secara proporsional,” demikian tulis Adji.

Di dunia maya, kritik yang disampaikan oleh kolonel ini mendapat tanggapan beraneka ragam. Ada yang mendukung tapi juga banyak yang menyalahkan karena statusnya kolonel masih aktif di kesatuan TNI AU sehingga dinilai melanggar kode etik. Berbeda bila dia sudah pensiun atau non aktif dari tentara.

Terkait dengan materi kritik yang ditulisnya, juga ditanggapi banyak macam karena moment penulisannya ini sangat dekat dengan situasi di negeri ini tentang kritik mengkritik terkait hubungan Indonesia dengan Malaysia yang memanas, kemudian pidato Presiden dalam mengambil langkah penyelesaian hubungan bilateral.

Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso pun telah memerintahkan Kepala Staf TNI AU untuk memeriksa Kolonel penerbang Adjie Suradjie. Dia pun dinilai melanggar kode etik sebagai seorang prajurit.

Sebelum muncul tulisan kritik dari seorang kolonel TNI AU, ada juga seorang Mayor TNI AL yang menyampaikan kelihan kondisi “pengerukan kekayaan alam” di Papua oleh pihak Amerika yang sangat merugikan NKRI.

Bedanya, sang Mayor meminta untuk dirahasiakan identitasnya karena menghormati kesatuan dan kritik yang disampaikan lebih banyak menyoroti kondisi negeri secara keseluruhan dengan tidak membanding-bandingkan kepemimpinan Presiden. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: