GILA: Rakyat Kelaparan, DPR Hamburkan Lebih dari Satu Triliun

Rakyat Kelaparan, DPR Hamburkan Lebih dari Satu Triliun

SUMBER: Irib

Rapat Paripurna DPR yang lenggang, Giliran urusan duit semangatnya luar biasa

Di saat rapor Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) diisi deretan nilai merah, para wakil rakyat ini justru menggulirkan rencana kontroversial membangun gedung baru kantornya senilai lebih dari satu triliun rupiah.

Padahal potret buram DPR periode sebelumnya ternyata masih mendominasi wajah DPR periode 2009-2014. Alih-alih memperbaiki citra, wajah DPR yang 70 persen diisi pendatang baru itu justru semakin memperburuk wajah DPR dengan rencana pembangunan gedung baru yang disertai fasilitas ruang rekreasi, kolam renang, pusat kebugaran, dan ruang spa.

Pembangunan gedung mewah ini akan menguras APBN Rp 1,6 triliun sama dengan biaya Jaminan Kesehatan Masyarakat untuk 22 juta penduduk miskin (Kompas, 1/9/2010). Ini jelas mencederai rasa keadilan masyarakat dan kian mendegradasi kepercayaan publik kepada DPR.

Jika integritas, disiplin, dan empati para wakil rakyat masih dinilai rendah dan belum layak diapresiasi, lalu bagaimana dengan kinerja DPR dalam menjalankan fungsi esensialnya-legislasi, pengawasan, dan penganggaran-sebagai anggota parlemen? Siapa paling bertanggung jawab atas wajah buram DPR hari-hari ini?

Hanta Yuda AR dalam artikelnya di Kompas menilai Kinerja DPR 2009-2014 dalam menjalankan fungsi-fungsi kedewanan masih penuh rapor merah. Analis Politik The Indonesian Institute menyebutkan paling tidak, ada tiga potret masih merahnya rapor dilihat dari aspek fungsi utama parlemen.

Pertama, rendahnya produktivitas dalam menjalankan fungsi legislasi. Delapan bulan pertama 2010, DPR baru menyelesaikan pembahasan tujuh RUU. Itu pun hanya satu RUU, yakni RUU revisi UU No 22 Tahun 2002 tentang Grasi, yang masuk Program Legislasi Nasional.

Kedua, dalam menjalankan fungsi penganggaran, DPR seolah hanya memperjuangkan kepentingan diri sendiri dan kurang berempati terhadap kondisi masyarakat yang sedang mengalami tekanan ekonomi. Hal ini terlihat dari ide kontroversial pembangunan gedung baru DPR senilai Rp 1,6 triliun, dana aspirasi Rp 15 miliar per anggota (Rp 8,4 triliun), serta rumah aspirasi Rp 200 juta per anggota (Rp 112 miliar dan Rp 3,3 triliun untuk infrastruktur). Ironisnya, semua anggaran itu ditanggung rakyat melalui APBN.
Ketiga, fungsi pengawasan seolah hanya jadi alat bagi partai dan DPR bernegosiasi dengan pemerintah. Ketidakjelasan dan ketidaktuntasan kasus Bank Century jadi potret paling terang dari ketidakseriusan DPR. Padahal, gegap gempita skandal ini telah menguras energi bangsa dan mengganggu jalannya pemerintahan.

Ketiga rapor merah ini kian menggerogoti citra kelembagaan DPR yang sebenarnya sudah buruk di mata rakyat. Berdasarkan survei Transparency International Indonesia, DPR dan parpol masih merupakan lembaga terkorup dalam persepsi publik. Hasil jajak pendapat Kompas beberapa bulan lalu menunjukkan, DPR dan parpol memiliki tingkat kepercayaan publik yang sangat rendah.

Pembangunan gedung baru DPR menuai kecaman banyak kalangan. termasuk dari kalangan internal DPR sendiri. Wakil Ketua DPR Pramono Anung Wibowo misalnya menyatakan keberatan atas rencana tersebut. Pramono berencana mengusulkan penundaan.

Dia menilai pembangunan dengan dana sebesar itu mengusik rasa keadilan  masyarakat. Apalagi, di dalam gedung megah itu direncanakan akan dibangun pula fasilitas rekreasi seperti kolam renang dan spa.

Dia meminta segera digelar rapat pimpinan membahas soal itu agar tidak berlarut-larut. Beberapa hal yang rencananya akan diusulkan dalam evaluasi  itu yakni soal pembangunan sarana relaksasi dan ukuran ruangan kerja anggota Dewan.

Ironisnya, tidak semua anggota DPR merasa malu seperti Pramono. Menurut Wakil Ketua Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) Pius Lustrilanang, dengan adanya gedung baru itu anggota DPR tak perlu lagi menggelar rapat di luar. Karena, di dalamnya juga bakal dilengkapi restoran dan ruang lobi kelas satu. Di mata mantan korban penculikan Tim Mawar Kopassus ini, gedung baru tersebut benar-benar diperlukan untuk meningkatkan kinerja anggota DPR.

Dari luar DPR, Indonesia Corruption Watch dan Indonesia Budget Center kebakaran jenggot. Kedua lembaga ini Rabu siang datang ke gedung DPR. Mereka menggelar aksi teatrikal, membawa kolam renang terbuat dari plastik. Para aktivis memerankan anggota DPR yang sedang berenang-renang plus mendapat pijatan ala spa. Menurut Illian Deta Sari dari ICW, “Pembangunan itu menunjukkan tidak sensitifnya DPR yang lebih memprioritaskan kepentingannya ketimbang persoalan rakyat.”

Sekretaris Jenderal Transparansi Internasional Indonesia (TII) Teten Masduki mengakui rencana pembangunan gedung baru DPR merupakan bentuk pengabaian para elit di pemerintah, mulai dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Menteri Keuangan, hingga para elit politik di DPR.

“Kalau para elit politik partai-partai besar sudah jelas, mereka abai. Akan tetapi, pengabaian juga terjadi di tingkat pemerintah. Presiden seharusnya lebih memiliki kesempatan untuk meminta, misalnya Ketua DPR mengingat kesamaan partai politik dan posisi Presiden yang juga sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat.

Menurut Teten, sebagai partai yang memiliki kursi mayoritas di DPR, Presiden juga bisa menggunakan kewenangannya mencegah lolosnya usulan pembangunan gedung baru itu.

Benarkah anggota DPR perlu gedung baru untuk meningkatkan kinerjanya. Penelitian ICW menyatakan bahwa gedung DPR lama masih layak dipergunakan. Dengan anggaran sebesar itu, berarti setiap wakil rakyat menghabiskan anggaran Rp2,8 miliar untuk membangun ruang kerjanya.

Merosotnya citra DPR merupakan potret kegagalan parpol. Rendahnya kualitas dan produktivitas DPR merupakan tanggung jawab partai sebab semua anggota DPR diseleksi melalui mekanisme partai. Di saat rakyat semakin hidup susah, pembangunan gedung baru DPR ini merupakan cara lain menjadikan lembaga legislatif sebagai sapi perahan para anggotanya.(IRIB/kompas/vivanews)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: