TDL Naik Selangit Asosiasi Pertekstilan Indonesia Memilih Lebih baik impor barang Cina

Lebih baik impor barang Cina

Sumber : Harian Terbit

Tanggal : 20 Jul 2010

JAKARTA – Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Benny Soetrisno mengungkapkan anggotanya lebih memilih menjadi pedagang barang-barang impor dari Cina, jika pemerintah tidak merevisi aturan soal kenaikan tarif dasar listrik (TDL) yang baru.

Pasalnya, kata dia, Peraturan Menteri ESDM No 7 Tahun 2010 telah membuat kenaikan TDL yang harus dinikmati industri tekstil rata-rata di atas 35%.

Kenaikan tarif listrik itu akan berpengaruh terhadap biaya produksi dan secara otomatis akan berimbas pada kenaikan harga jual tekstil.

Dengan kondisi ini, lanjut dia, tentu saja produk ini tidak akan bisa bersaing dengan produk Cina yang harganya lebih stabil.

“Kalau begini lebih baik kita impor produk dari Cina, kemudian buruh akan kami kurangi sehingga akan banyak yang kena pemutusan hubungan kerja,” ujar Benny, di Jakarta, Senin (19/7).

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sofjan Wanandi mengaku akan melakukan hal yang sama. Ia mengatakan kenaikan TDL ini tidak sesuai dengan janji yang disampaikan pemerintah pada awal tahun ini, pada saat implementasi China Asean Free Trade Agreement (ACFTA) pemerintah mengatakan tidak akan ada kenaikan TDL agar produk Indonesia bisa bersaing dengan Cina.

Namun pada pertengahan tahun, Menteri Keuangan menyampaikan subsidi PLN harus dikurangi sehingga tarif listrik harus dinaikkan dan ini dibebankan kepada kalangan industri.

Pada dasarnya pengusaha tidak mempermasalahkan kenaikan TDL tersebut asalkan pemerintah bisa menepati janjinya bahwa kenaikan TDL untuk kalangan industri sebesar 6-15%.

Namun, kenyataannya perbandingan perhitungan rekening listrik berdasarkan Keputusan Presiden No.104/ 2003 dengan Permen ESDM No 7/2010, justru telah membuat tarif listrik industri menjadi 39-101 persen.

“Yang penting bagi pengusaha adalah besarnya tagihan rekening listrik setiap bulan, bukan apa yang diterima PLN. Permen ini perlu diubah agar hitung-hitungannya cocok,” kata dia.

Sofyan menyatakan, jika pemerintah tidak mau merubah Permen tersebut maka ia tidak menjamin tidak ada kenaikan harga menjelang puasa dan lebaran. (akhir)

.

***************************

.

BERITA TERKAIT

.

Sofyan Wanandi: Tak peka

Sumber : Harian Terbit

JAKARTA – Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofyan Wanandi menilai kebijakan pemerintah menaikkan tarif dasar listrik (TDL) seka-rang ini menunjukkan pemerintah tidak peka terhadap kesulitan beban hidup rakyat.”Pemerintah mestinya belum menaikkan TDL karena masyarakat baru saja mengeluarkan banyak uang untuk anak sekolah dan sebentarlagi mau memasuki bulan puasa.”

Dampak psikologis dari kenaikan TDL ini kenyataan dilapangan harga sembako berlomba-lomba menaikkan harga. Apalagi kalau kebijakan tersebut tidak ditinjau khususnya tarif listrik untuk industri akan terjadi PHK besar-besaran. “Saya kira lebih dari sejuta pekerja terancam PHK jika TDL untuk industri tidak diturunkan,” tegas Sofyan.

Menurut Sofyan, kenyataan sekarang ini tarif listrik untuk industri seperti tekstil naik antara 35-40 persen. Ini berarti produk tekstil harus menaikkan harga sekitar 15 persen agar dapat menutupi tambahan biaya akibat kenaikan TDL dan itu tidak mungkin dilakukan karena akan kalah bersaing dengan produk impor. Jalan harus ditempuh mau tak mau menghentikan produksi dengan risiko mem-PHK karyawan.

Ketua Serikat Pekerja (SP) PLN , A Daryoko dihubungi terpisah mengatakan ada agenda tersembunyi di balik kebijakan pemerintah menaikkan TDL. Dia menuding kebijakan itu dalam upaya ingin menjual listrik kepada swasta karena pemerintah sudah tak mau lagi mensubsidi listrik.

Biaya produksi listrik sekitar Rp 1200/ KWH dan dijual kepada rakyat sekitar Rp 700/ KWH. Pemerintah nampaknya tidak mau lagi memberikan subsidi sehingga memilih swasta mengelola tenaga listrik di Indonesia. Kalau ini terjadi tarif listrik di Indonesia akan sama dengan Pilipina menjadi termahal di kawasan Asia.

Namun, pengurus YLKI Tulus Abadi melihat kenaikan sembako sekarang ini bukan karena kenaikan TDL, tapi lebih disebabkan memasuki bulan puasa. Karena itu pemerintah harus turun ke pasar-pasar untuk mencegah ada pedagang yang menimbun sembako menjelang puasa ini. (wilam)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: