Mr SBY lebih memilih selamatkan dirinya

Mr SBY lebih memilih selamatkan dirinya

SUMBER: Harian Terbit

JAKARTA – Pemerintah dinilai lumpuh dan tidak berwibawa dalam mengendalikan kenaikan harga-harga. Juga dinilai tidak menguasai ekonomi Indonesia secara penuh. Hanya sebagian kecil saja yang dikuasai. Tidak seperti Malaysia yang bisa mengendalikan harga dan mampu menjamin produksi, kualitas, pemasaran, dan pasar yang kuat.

“Indonesia? Tidak punya wibawa sama sekali. Tidak bisa mengendalikan pasar. Tidak mampu mengintervensi harga-harga, lemah dalam menentukan harga. Ini sama saja pemerintah lumpuh,” tandas pengamat politik dari Universitas Indonesia, Arbi Sanit, saat dihubungi Harian Terbit, sabtu (17/7), di Jakarta.

Menurutnya, semua itu penyebabnya karena tidak adanya kestabilan politik. Polisi kita main cakar-cakaran sehingga memunculkan konflik-konflik. Ini yang membuat Presiden SBY terjebak untuk menyelamatkan diri. Tidak ada waktu untuk mencurahkan permasalahan-permasalahan yang dihadapi rakyat. Tidak ada waktu untuk memecahkan permasalahan ekonomi yang kian membelit. “Waktunya habis untuk menyelamatkan diri,” tukasnya.

Menteri perdagangan dan menteri perekonomian juga tidak mampu menjalankan fungsinya untuk mengendalikan pasar. Sama seperti Presiden, yang tidak memiliki waktu untuk mengatasi masalah-masalah seperti ini. Waktunya habis untuk membahas hal-hal yang bukan wewenangnya di DPR. “Berapa kali dipanggil DPR untuk membahas dan mengkaji undang-undang. Untuk apa dipanggil. Bukankah sudah ada perwakilan fraksi-fraksi di DPR. Jadi kapan ada waktu untuk memikirkan ekonomi rakyat,” tandasnya.

Operasi pasar yang digelar juga tidak akan menjanjikan. Itu hanya buat pamer pada rakyat bahwa pemerintah peduli dan punya cara tersendiri untuk mengatasi kenaikan harga. “Berapa komoditi yang di-OP? Apa semua dikontrol? satu dua komoditi saja tidak bisa mengontrol. Bulog yang hanya fokus pada beras saja tidak bisa mengontrol harga beras,” ujarnya.

Politisi kita, lanjut Arbi, diminta untuk tidak lebih mengedepankan ego kepentingan partainya. Kondisi seperti ini justeru membuat perekonomian tidak baik. Produsen jadi seenaknya menaikkan harga jika dinilai kerugian sudah di depan mata. “PLN katanya rugi, tinggal naikkan saja TDL, Pertamina merugi, ya tinggal naikkan saja harga BBM. Begitu seterusnya,” ujarnya.

Hal senada dikemukakan pengamat politik Boni Hargens, menurutnya, pemerintah saat ini sedang asyik dengan dirinya sendiri sehingga tidak memperhatikan nasib rakyat yang sedang kesusahan akibat kenaikan harga sembako dan harga lainnya.

“Sebenarnya Presiden SBY sudah mengetahui adanya kenaikan harga-harga sembako ini. Namun karena dianggap tidak penting, sehingga dibiarkannya saja,” kata Boni.

Mereka menganggap, urusan penurunan harga ini tidak mudah, karena membutuhkan koordinasi dengan menteri-menterinya terlebih dahulu sehingga membutuhkan waktu yang cukup. Sementara, saat ini para menteri-menteri sedang sibuk dengan masing-masing partainya. “Mana ada waktu mereka melakukan koordinasi untuk mengurusi rakyat kecil ini. Mereka sedang terlena dengan kesibukan dan kepentingan diri sendiri,” tegas Boni.

Padahal, tandasnya, rakyat miskin saat ini sedang meronta-ronta minta tolong karena harga sembako menjadi naik. Bukan itu saja, bahkan listrik dan kebutuhan hidup lainnya pun ikut naik.

“Rakyat sudah jatuh ketiban tangga lagi, dua atau tiga kali jatuhnya. Sedangkan bagi elit politik dengan kenaikan harga itu tak menjadikan masalah karena tak berpengaruh terhadap kehidupannya,” tuturnya.

Pendapatan elit politik, katanya, berlipat-lipat lebih besar dari rakyat miskin. Semua kenaikan harga dianggap biasa, namun bagi rakyat miskin tidak demikian. “Banyak rakyat miskin yang stress, ada yang gantung diri, mengganti kembali bahan bakar dari gas ke kayu serta ada yang membuang anak-anaknya karena tidak bisa membiayai hidupnya, ini ironis,” tegasnya lagi.

Sementara itu, pengamat ekonomi Rizal Ismail mengemukakan, kenaikan TDL tak urung membuat harga sembako semakin mencekik leher masyarakat kelas bawah. Akibat ‘cekikan’ ini makin banyak rakyat yang senggsara. Karenanya pemerintah harus mengkaji ulang kenaikan TDL itu.

“Kenaikan TDL ini berimbas sedikitnya pada 20 sektor. Tidak hanya sembako, tapi juga transportasi, biaya kesehatan, dan lainnya. Jika ini tak ditangani, akan terjadi inflasi,” tandasnya saat dihubungi Harian Terbit, Sabtu (16/7), di Jakarta.

Dihubungi terpisah, Revrisond Baswir menandaskan, satu-satunya cara untuk menghentikan harga-harga yang semakin menggila, ya dengan membatalkan kenaikan TDL itu. “Tidak ada cara yang lain. Ini yang paling pokok,” katanya.

Menurut Rizal Ismail, seharusnya kenaikan TDL itu tidak akan terjadi jika saja manajemen PLN yang bobrok segera dibenahi. Ini persoalan klasik yang hingga kini belum mendapat jawaban pasti. “Inilah bentuk arogansi menteri ESDM yang tidak mau membenahi persoalan ini,” ujarnya.

Meski pemerintah melakukan operasi pasar, menurutnya, tidak berpengaruh terhadap kenaikan harga sembako. Mengingat apa yang dilakukan pemerintah itu menjelang bulan puasa, yang biasanya harga ikut membumbung. (tety/junaedi)

*****************************

.

BERITA TERKAIT

.

Mr SBY, kok diam aja harga-harga pada naik

Sumber : Harian Terbit

JAKARTA – Harga kebutuhan pokok dan kebutuhan rakyat lainnya terus melonjak. Rakyat menjerit, namun Presiden SBY, para menteri, dan petinggi negeri lainnya hingga saat ini tak juga bergeming, tak ada langkah-langkah konkret untuk mencegah kenaikan harga itu.

“Mr SBY kok diam aja sementara rakyat saat ini menjerit gara-gara harga pada naik. Menteri-menterinya kemana aja,” kata pengamat ekonomi politik Rizal Ismail menjawab Harian Terbit di Jakarta, Kamis pagi (15/7).

Hal senada juga dikemukakan pengamat politik Universitas Indonesia Prof Dr Iberamsyah, menurutnya, kPresiden SBY dan menteri-menterinya sudah tak peduli lagi dengan rakyat. “Semua harga-harga naik sehingga banyak rakyat kecil yang menjadi depresi kehilangan harapan. Hidup rakyat seperti tak berharga, sementara Presiden SBY dan menteri-menterinya asyik dengan kemewahan, jalan-jalan ke luar negeri, berkaroke dan mengarang lagu di Istana yang mewah,” kata Iberamsyah dihubungi terpisah tadi pagi.

Rizal Ismail, pengamat ekonomi MRI Research mengatakan, kinerja Presiden SBY dan menteri-menterinya saat ini buruk. Banyak rakyat dan Usaha Kecil Menengah (UKM) banyak yang menderita karena kenaikan harga.

“Presiden SBY saat ini sedang asyik dengan kemewahan dan pemberitaan artis. Ketika berita artis, beliau berani tampil, namun ketika ada penderitaan Presiden mengumpat dibelakang,” kata Rizal.

Menurutnya, semua kebijakan yang dijalankan kelihatan sangat ngawur. Tidak ada satupun kebijakan yang mengarah untuk memperhatikan rakyat kecil.

“Presiden asyik dengan selebritas dan para partai politik sedang sibuk dengan politik praktisnya. Sementara, rakyat kecil sedang menjerit-jerit kelaparan tidak diperhatikan,” katanya.

Berbeda dengan kepemimpinan Soeharto dulu yang mempunyai sikap kepemimpinan, perencanaan dan monitoring. Sementara Presiden SBY tidak mempunyai kemampuan seperti itu.

“Untuk itu saya berharap agar seluruh komponen rakyat dan LSM bersatu padu untuk mengkritisi pemerintahan SBY. “Jangan kita biarkan rakyat kelaparan,” ungkap Rizal.

Iberamsyah mengemukakan, kinerja pemerintahan SBY masih memiliki rapor merah. Pemerintahannya tak peduli dengan rakyat kecil, cenderung membela pengusaha besar. “Ppengusaha-pengusaha besar dilindungi, rakyat kecil disingkirkan. Ini merupakan kegagalan seorang presiden,” tegasnya.

Menurutnya, pecat saja menteri-menteri yang bermasalah dan berhentikan saja Kepala Bulog sekarang. Mereka semua tidak profesional dan hanya mementingkan diri sendiri. “Bisa- bisanya menteri salah hitung mengenai TDL. Apakah dia tidak lulus SD, bisa salah hitung,” Iberamsyah mempertanyakan.

Iberamsyah membandingkan dengan zaman Soeharto dulu. Harga-harga masih bisa dikendalikan dan rakyat kecil masih dilindungi.

“Kok berbeda dengan jaman sekarang. Bahkan sekolah SD dan SMP yang katanya termasuk program wajib belajar nyatanya masih memungut biaya mahal, ini namanya keblinger,” kata Iberamsyah geram.

Hingga hari ini masyarakat masih terbebani dengan harga sembako yang melonjak menyusul kenaikan tarif dasar listrik (TDL). Harga beras di Pasar Induk Cipinang Jakarta, juga terus bergerak naik.

Kepala Data dan Informasi Pasar Induk Cipinang (PIC) Jakarta, Suminta dimintai keterangannya Rabu (14/7) mengatakan, kenaikan harga beras itu terjadi karena mengikuti tren harga yang saat ini masih tinggi. “Sekalipun ada panen raya yang terjadi di beberapa daerah, hal itu tak bisa meredam kenaikan harga jenis beras tersebut, jadi ini tren kalau harga barang kebutuhan lainnya naik, harga beras pasti ikutan naik,” ujar dia.

Harga beras IR yang naik adalah IR I dari Rp6.600 menjadi Rp6.750, IR II menjadi Rp6.100 dari Rp6.050 per kg, dan beras IR III dari Rp5.350 menjadi Rp5.400 per kg. “Sedangkan beras IR 42 naik tajam dari Rp8.250 menjadi Rp8.500 per kg.”

Di Depok, harga sembilan bahan kebutuhan pokok mulai naik di beberapa pasar tradisional Kota Depok, Jawa Barat, sejak sepekan terakhir. Beberapa pasar tradisional seperti Depok Lama, di Jalan Dewi Sartika, Rabu, aktivitas perdagangan relatif stabil, namun harga beberapa komoditas sembako mulai naik.

“Untungnya semakin berkurang mas, kami sebagai pedagang kecil makin terjepit, modalnya cukup besar tapi keuntungan justru kecil,” kata Mardiono, pedagang sembako di Pasar Depok Lama.

Harga sembako yang mengalami kenaikan yaitu beras jenis IR 42 naik dari Rp6.500 menjadi Rp7.500 per kg, jenis IR 64 naik dari Rp 7.100 menjadi Rp7.600 per kg, IR 24 dari Rp8.000 menjadi Rp8.500 per kg. Begitu juga dengan beras Ramos dari Rp7.000 menjadi Rp7.700 per kg.

Harga cabai merah mengalami kenaikan cukup tinggi yaitu dari Rp37 ribu menjadi Rp50 ribu per kg. Cabai hijau besar naik dari Rp15 ribu per kg menjadi Rp25 ribu per kg.

Para pedagang mengeluhkan kenaikan harga sembako tersebut karena menyebabkan pendapatan mereka menurun.

“Tidak tahu kenapa naik, yang pasti harga dari pemasok sudah naik, jadi saya juga harus menaikkan harga,” kata Yanti, pedagang sayur mayur.

Di pasar tradisonal Depok Jaya harga minyak goreng mencapai Rp10.000 per kilogram dari sebelumnya Rp9.500 per kilogram. Begitu juga dengan cabai merah dari Rp10 ribu per kilogram merangkak hingga mencapai Rp13 ribu. (junaedi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: