Babak Baru Terbongkarnya Kejahatan Serbia

Babak Baru Terbongkarnya Kejahatan Serbia

Sumber: IRIB

Pengadilan bekas Presiden Serbia-Bosnia, Radovan Karadzic di Mahkamah Kejahatan Internasional memasuki babak baru. Karadzic yang memimpin kaum radikal Serbia Bosnia selama perang Balkan yang brutal awal 1990-an ini menghadapi kesaksian para saksi mata kebiadaban tentara Serbia. Ahmet Zulic, seorang muslim-Bosnia, saksi pertama dan korban selamat pembersihan etnis muslim-Bosnia membeberkan kejahatan Karadzic di depan majelis sidang. Kepada Hakim, Zulic mengungkapkan bahwa mertuanya, yang juga seorang tetua suku, dibakar hidup-hidup oleh pasukan Serbia. Ia menambahkan, “Dia dipenjara di salah satu kamp tahanan maut milik tentara Serbia sejak Juni hingga November 1992. Selama dipenjara, berat badannya menyusut sampai 40 kg”.

Zulic adalah mantan tahanan di satu kamp tahanan yang dioperasikan oleh pasukan Serbia Bosnia di dekat Sanski Most di bagian barat-laut Bosnia Herzegovina. Ia adalah salah satu 410 saksi mata yang diajukan oleh jaksa penuntut, termasuk mantan menteri kehakiman di dalam pemerintah masa perang Karadzic, Momcilo Mandic.

Tentu saja, kesaksian itu dibantah mentah-mentah oleh Karadzic yang terkenal dengan julukan penjagal dari Serbia itu. Ia bahkan berkilah dan menyebut masyarakat muslim-Bosnia sebagai pihak pemicu perang. Tidak hanya itu saja, pria berusia 64 tahun itu menyatakan bahwa genosida yang dilakukannya terhadap muslim-Bosnia merupakan misi suci dan berkeadilan.

Saat ini, Radovan Karadzic menghadapi 11 tuduhan genosida (pembasmian etnis), kejahatan perang, dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Karadzic dituduh bersekongkol dengan mendiang pemimpin Yugoslavia Slobodan Milosevic untuk mendirikan “Serbia Raya” yang termasuk 60 persen wilayah Bosnia. Penduduk Serbia di Bosnia mencapai sepertiga total penduduk Bosnia.

Diantara tuduhan terhadap Karadzic adalah pembantaian Srebrenica tahun 1995 terhadap lebih dari 7.000 pria dan bocah laki-laki Muslim yang tertangkap, dan pengepungan ibukota Sarajevo selama 44 bulan yang berakhir pada November 1995 dengan menewaskan 10.000 orang.

Ia dikenal sebagai pemimpin pembasmian etnis muslim-Bosnia. Selama tiga setengah tahun Perang Bosnia, lebih dari 300 ribu etnis muslim-Bosnia dibantai secara massal. Beragam cara dan teknik pembantaian pun dipraktekkan dengan begitu kejinya oleh anak buah Karadzic. Selain membantai, milisi Serbia juga kerap melakukan pelecehan seksual terhadap perempuan muslim-Bosnia. Puluhan ribu perempuan Bosnia menjadi sasaran massal kebuasan nafsu milisi Serbia. Sampai-sampai hingga kini pun para perempuan teraniaya itu tak mampu menjalani hidupnya secara normal kembali meski perang telah berakhir. Sebagian besar mereka hidup terkucilkan, sebagian lagi mengalami gangguan mental dan sisanya terpaksa hijrah ke negara lain.

Sedemikian kejinya aksi pembasmian etnis yang digalakkan Karadzic sampai-sampai ia mendapat julukan sebagai penjagal Balkan. Puncak kejahatan Serbia terjadi di kota Srebrenica pada bulan-bulan akhir di penghujung perang Bosnia. Kota ini dinyatakan oleh PBB sebagai basis perlindungan warga sipil dan kota aman. Tentara berbaret biru dari Belanda ditugaskan PBB untuk menjaga kota tersebut. Namun dengan brutalnya, tanpa mempedulikan aturan internasional, milisi Serbia di bawah komando Ratco Mladic mengepung kota Srebrenica.

Ironisnya, tentara baret biru PBB asal Belanda yang semestinya melakukan tindakan nyata dan meminta bantuan negara-negara Eropa dan PBB untuk melindungi para pengungsi dan warga ternyata membiarkan begitu saja milisi Serbia membantai mereka dengan kejam. Boleh dikata, milisi Serbia memasuki Srebrenica setelah mendapat lampu hijau dari pasukan Belanda. Kalau saja, milisi Serbia yakin bahwa pasukan PBB dan negara-negara Eropa bakal menghalau serangan mereka ke Srebrenica, niscaya mereka pun tidak akan berani menggempur kota tersebut.

Sebelum meletusnya tragedi pengepungan Srebrenica pun, masyarakat muslim-Bosnia telah menunjukkan kepada dunia betapa buasnya watak rasialis milisi Serbia. Pemerintah Inggris, Perancis, dan Jerman merupakan tiga pemain asing dalam krisis Balkan. Meski mereka tahu nasib yang bakal menimpa Srebrenica, namun tak ada satupun tindakan pencegahan yang mereka lancarkan.

Setelah menyerang Srebrenica, milisi Serbia pun memisahkan kaum lelaki dari perempuan. Setelah itu, sekitar 8000 warga dibantai secara massal hanya dalam tempo 48 jam lantas dipendam dalam 70 kuburan massal. Kini kendati tragedi itu sudah 15 tahun berlalu namun pencarian kuburan massal dan upaya identifikasi korban melalui tes DNA masih berlanjut untuk kemudian diserahkan kepada keluarga korban.

Pembantaian massal Srebrenica terbilang sebagai tragedi Eropa yang paling memilukan semenjak meletusnya Perang Dunia II. Tragedi ini juga berhasil menguak kolaborasi kotor negara-negara Eropa dengan Serbia dalam membantai muslim-Bosnia.

Kendati selama ini, negara-negara Eropa yang terlibat permainan dalam krisis Balkan berupaya menempatkan dirinya sebagai pihak netral dan mengupayakan penyelesaian krisis lewat jalur diplomatik. Pada dasarnya, sikap mereka ini melihat para korban dan pelaku kebiadaban dalam krisis Balkan pada posisi yang sama. Dan lewat kerangka kebijakan semacam inilah, mereka menerapkan embargo senjata kepada kedua belah pihak yang bertikai untuk mempersempit skala perang. Padahal telah nyata jelas bagi seluruh pihak pemantau krisis Balkan, bahwa Serbia telah melakukan pembasmian etnis muslim-Bosnia untuk mendirikan negara Serbia Raya.

Dengan sokongan dana dan persenjataan diktator Yugoslavia, Slobodan Milosevic, penjagal Balkan melancarkan pembantaian massal terhadap warga muslim-Bosnia. Di sisi lain pemberlakuan embargo persenjataan Perancis, Inggris dan Jerman ternyata justru membantu milisi Serbia untuk melanggengkan kejahatannya. Sebab, secara praktis warga muslim-Bosnia yang berada dalam kepungan militer sama sekali tidak memiliki akses untuk memperoleh senjata untuk membela diri. Sementara bantuan makanan lewat jalur udara dan darat bagi warga muslim selalu menjadi target peluru-peluru panas milisi Serbia. Kenyataan ini menunjukkan Radovan Karadzic sejatinya tidak sendirian dalam melampiaskan ambisi brutalnya, negara-negara Eropa yang kerap kali mengklaim dirinya sebagai pembela hak asasi manusia juga turut terlibat dalam kejahatan penjagal Balkan itu. Tragedi Srebrenica merupakan saksi pertautan kepentingan bersama Serbia dan negara-negara Eropa dalam genosida muslim-Bosnia.

Pasca berakhirnya perang, pemerintah Belanda, Perancis, dan PBB masing-masing membentuk tim pencari kebenaran untuk mengungkap fakta sebenarnya di balik perang Bosnia. Namun ketiga tim investigasi itu sama-sama menyimpulkan bahwa negara-negara Eropa dan PBB lalai dalam mencegah terjadinya tragedi Srebrenica. Menyusul dirilisnya laporan tim pencari fakta tragedi Srebrenica, PM Belanda, Wimkok saat itu terpaksa mengundurkan diri. Ironisnya, pihak kejaksaan mahkamah kejahatan perang Yugoslavia berusaha keras menutup-nutupi keterlibatan negara-negara Eropa dalam krisis Balkan. Mereka menilai, tugas untuk mengadili para pelaku langsung genosida muslim-Bosnia merupakan wewenang mahkamah kejahatan perang Yugoslavia.

Meski sudah 15 tahun berlalu, Serbia hingga kini belum sudi juga mengakui kejahatannya. Mereka hanya bersedia meminta maaf atas terjadinya tragedi pembantaian Srebrenica. Namun begitu mereka juga tak mau meminta maaf atas terjadinya genosida atas warga muslim-Bosnia pada selang tahun 1992-1995

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: