KTT Keamanan Nuklir, Tujuan dan Hasilnya

KTT Keamanan Nuklir, Tujuan dan Hasilnya

Sumber: Irib Indonesian Radio

Dalam beberapa bulan terakhir, muncul sebuah isu baru yang menambah daftar ancaman internasional, isu itu adalah ancaman terorisme nuklir. Yang dimaksud dengan istilah terorisme nuklir adalah kelompok teroris yang mempersenjatai diri dengan senjata nuklir dalam menjalankan misi terornya. Korbannya tentu warga sipil yang tak berdosa. Tak syak bahwa fenomena ini dapat disebut sebagai tragedi kemanusiaan yang mengerikan jika terjadi. Apalagi kemajuan teknologi saat ini telah membuka pintu bagi siapa saja untuk membuat bom-bom dahsyat yang bisa merenggut nyawa manusia dalam jumlah besar. Menyusul adanya kekhawatiran seperti itu, digelar sebuah konferensi di Washington DC yang mengangkat tema Keamanan Nuklir. Konferensi ini digelar di tingkat tinggi yang menghadirkan para pemimpin dari sejumlah negara.

Presiden AS Barack Obama dalam pidatonya di KTT Keamanan Nuklir mengatakan, ancaman terbesar bagi masyarakat dunia adalah ketika bahan-bahan nuklir sampai ke tangan kelompok teroris. Dengan alasan itu, Obama mendesak negara-negara di dunia untuk melaksanakan ketentuan terkait nuklir untuk menjamin keamanan persenjataan nuklir dan instalasi-instalasi nuklir.

Isu keamanan nuklir punya kaitan erat dengan nasib semua orang. Karena itu isu ini dipandang sebagai isu yang sangat mencemaskan bagi masyarakat dunia. Selama, dunia masih merasakan adanya ancaman senjata nuklir, ancaman terorisme nuklir juga tak akan pernah hilang. Di antara negara-negara bersenjata nuklir, AS adalah satu-satunya negara yang pernah menggunakan senjata pembunuh massal ini. Saat ini, AS tercatat sebagai negara yang memiliki senjata nuklir dalam jumlah terbesar di dunia. Negara ini tentu punya kewajiban dan tanggung jawab yang lebih besar terkait senjata nuklir. Yang menjadi masalah dari penyelenggaraan KTT Keamanan Nuklir di AS adalah dari seluruh negara di dunia yang berjumlah lebih dari 150 negara, hanya 50 pemimpin negara yang diundang. Jika memang konferensi ini ditujukan untuk mencari penyelesaian bagi isu keamanan nuklir seyogyanya seluruh negara hadir di dalamnya. Karena itu, muncul kecurigaan bahwa KTT Keamanan Nuklir di Washington tak lebih dari sekedar akal-akalan segelintir negara adidaya, khususnya AS, untuk memperdaya masyarakat dunia.

Mengenai terorisme nuklir ada sejumlah masalah yang mengemuka. Diantaranya adalah hubungan langsung dan tak langsung kelompok-kelompok teroris dunia dengan salah satu negara adidaya dunia. Bukan rahasia lagi bahwa negara-negara adidaya tak punya kejujuran yang bisa dipertanggungjawabkan. Dalam bertindak mereka selalu mengedepankan standar ganda. Salah satu contohnya adalah sikap AS terhadap kelompok teroris al-Qaeda dan Taliban. Kedua kelompok yang dikenal dengan kelompok teroris itu, dibentuk dengan dukungan AS. Osama bin Laden, pemimpin al-Qaeda dan Mulla Umar pemimpin Taliban di Afganistan berhasil menguatkan posisi bahkan merebut kekuasaan di Afganistan berkat bantuan dana, fasilitas dan senjata AS. Kedua kelompok ini telah melakukan berbagai kejahatan sadis yang mengguncang dunia.

Akibat dari sikap-sikap dan kebijakan standar ganda tadi, ada kekhawatiran tersendiri terkait kemungkinan kelompok teroris mendapat suplai senjata pemusnah massal dari adidaya dunia. Sebab bagi negara adidaya semisal AS, kepentingan diri lebih utama dibanding apapun juga. Jika kepentingan menuntut, tak mustahil negara ini mempersenjatai kelompok teroris dengan senjata nuklir. Bukti yang paling aktual adalah rezim teroris Israel. Rezim ini memiliki gudang senjata nuklir didapatkan berkat kemurahan hati AS dan Prancis.

Selain masalah terorisme nuklir, di KTT Keamanan Nuklir di Washington DC, negara-negara adidaya mengupayakan revisi terhadap perjanjian larangan pengembangan senjata nuklir NPT. Tujuannya adalah supaya hasil revisi nantinya bisa memenuhi selera negara-negara tersebut dalam melakukan diskriminasi terkait nuklir. Sebab, NPT yang ada saat ini mengakui hak pengembangan teknologi nuklir untuk keperluan damai termasuk hak memproduksi bahan bakar nuklir. Negara-negara adidaya sampai saat ini belum bersedia melaksanakan isi perjanjian NPT bahkan cenderung memonopoli proses produksi bahan bakar nuklir.

AS sebagai negara nuklir terbesar sengaja mengumbar isu terorisme nuklir. Tujuannya adalah untuk membuka jalan bagi dilakukannya revisi terhadap isi traktat NPT. Sebelum ini, George W Bush saat menjadi Presiden AS mengusulkan agar hak memproduksi bahan bakar nuklir hanya dimiliki oleh segelintir negara dalam jumlah yang terbatas. Sedangkan negara-negara lain tidak diberi hak dan hanya bisa mendapatkan bahan bakar tersebut dari negara-negara produsen. Tak syak, umat manusia sangat bergantung kepada energi. Ketika persediaan energi fosil habis, maka negara yang memiliki kendali bahan bakar nuklir akan menguasai dunia.

Di akhir KTT, petinggi AS mengaku bahwa konferensi berjalan sesuai harapan dan telah menghasilkan keputusan yang diinginkan soal pengawasan aktivitas nuklir. Hanya saja, transformasi yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir mengindikasikan bahwa tidak mudah bagi negara-negara adidaya tidak akan melaksanakan idenya merevisi NPT dan perjanjian internasional. Sebab, salah satu faktor paling menentukan dalam memberantas terorisme nuklir adalah dengan menghapuskan senjata nuklir dari dunia secara penuh. Dan ini adalah keharusan pertama. Tentu saja negara adidaya seperti AS tidak akan pernah mau melucuti dirinya dari senjata nuklir.

Selain dari apa yang sudah disebutkan, sikap diskriminasi dan standar ganda yang diperlihatkan oleh negara-negara adidaya juga harus diakhiri. Selagi sikap itu masih ada dan AS misalnya masih mendukung kelompok teroris, maka kemungkinan jatuhnya bahan-bahan nuklir ke tangan teroris tidak bisa dihindari. Jadi, kalkulasi yang ada menunjukkan bahwa KTT Keamanan Nuklir yang belum lama ini berlangsung di Washington tidak membuahkan hasil yang signifikan.

Sejalan dengan KTT ini, Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Nalategawa mengatakan bahwa Indonesia menjaga agar fokus pengamanan nuklir pada KTT Washington tidak sampai mengganggu prinsip-prinsip pokok NPT. Menurut Marty, jangan sampai alasan jatuhnya materi nuklir ke pihak-pihak tidak bertanggung jawab menjadi penghambat yang disengaja atau tidak disengaja terhadap penggunaan energi nuklir untuk maksud damai.

Nuklir adalah teknologi canggih yang punya banyak kegunaan. Alangkah indahnya jika nuklir dimanfaatkan secara utuh untuk keperluan damai yang salah satunya adalah pengadaan energi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: