Selamat Datang Israel! (Surat untuk Pak Tifatul)

Selamat Datang Israel! (Surat untuk Pak Tifatul)

SUMBER: Kajian Timur Tengah

Assalamualaikum Pak Tifatul,

Saya masih ingat betapa ramainya kerumunan massa partai Bapak yang berjubel sambil meneriakkan jargon-jargon keadilan di beberapa sudut jalan Jakarta pada masa kampanye pilpres yang lalu. Berbagai spanduk mereka bawa untuk mengekspresikan kecaman pada kekejaman Israel dalam serangannya Ke Gaza pada tahun 2009 silam. ‘Save Palestine’, ‘Zionism Destroy Humanity: Act Now’, ‘One Man One Dollar to Save Palestine’, adalah di antara spanduk yang saya ingat persis.

Walau aksi ini dianggap kalangan tertentu sebagai pemanfaatan tragedi kemanusiaan dalam meraih simpati publik dalam masa kampanye politik, namun Bapak dengan gagah berani tetap istiqamah dalam meneriakkan aksi dukungan pada pejuang kemanusiaan Palestina. Apalagi, aksi ini adalah salah satu bentuk manifestasi dari salah satu misi partai Bapak, yaitu:

Ikut memberikan kontribusi positif dalam menegakkan keadilan dan menolak kedhaliman khususnya terhadap negeri-negeri muslim yang tertindas.

Karena itulah, partai Bapak dengan penuh keberanian mengecam agresi Israel ke Gaza yang diberi nama “Operasi Menuang Timah” (Cast Lead) itu. Bahkan, tak hanya sekedar kecaman, partai Bapak juga menginstrusikan para calegnya agar menyisihkan sebagian dana kampanye untuk disumbangkan ke Palestina. Bapak pun berkata kepada media:

“Insya Allah kita akan menghidupkan kembali ‘one man one dollar to save Palestine’.”

Tak lupa, Bapak pun mengecam Presiden Amerika Serikat George W Bush, yang mendukung serangan Israel. Bapak mengatakan, Amerika juga berada di balik ketidakjelasan nasib Palestina selama ini. “Bush sudah ditolak oleh pemerintah internasional, Bush jangan bicara sepotong-potong. Siapa yang merusak perjanjian dari awal? Siapa yang memecah belah antara Hamas dan Fatah? Bertahun-tahun bantuan diboikot, suplai listrik ke Palestina dilarang,” kecam Bapak waktu itu.

Pak Tifatul yang baik,
Alhamdulillah, Bapak akhirnya mendapat amanah untuk menduduki salah satu posisi penting di Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II. Sebagai Menteri Komunikasi dan Informasi, Bapak memiliki program yang visioner untuk meningkatkan kompetensi BUMN yang sering dikatakan tidak profesional oleh kalangan tertentu. Salah satu program adalah membenahi sistem IT dalam PT. TELKOMSEL.

Namun ada yang aneh dalam proses ini….

Mengapa Bapak biarkan ada dua musuh kemanusiaan yang turut serta dalam proses program yang sangat mulia tersebut? Dua musuh itu bernama Convergyst dan Amdocs.

Ah, saya yakin, Bapak dengan mudah bisa melacak siapa Convergyst: perusahaan asal Israel yang selama ini berpengalaman menangani tagihan existing, didirikan tahun 1991, kantor pusatnya berada tepat di Israel. Bapak juga bisa menyuruh staf Bapak untuk mencari tahu siapa Amdocs: perusahaan yang didirikan di Israel oleh Aurec Group, sebuah korporasi bisnis milik milyarder Yahudi, Morris Kahn. Ia termasuk 10 besar orang terkaya di Israel. Bahkan situs yang dikelola orang bule pun melaporkan siapa sesungguhnya Amdocs:

Amdocs is a provider of software and services for billing, customer relationship management and operations support systems. It is reported as having a turnover of 2.8 billion dollars in 2007, and is a key player in the Israeli economy, encouraged and supported by the Israeli government. Amdocs has over a quarter of its workforce in Israel and has declared its support for the so-called ’security’ policies of the Israeli government.

Aktivis Solidaritas Palestina (Palestine solidarity activists) menyerukan kepada Eircom untuk tidak bekerja-sama dengan Apartheid Israel

Atau, yang paling gampang, staf Bapak tinggal membaca majalah Gatra yang berbahasa Indonesia. Ini sebagian laporan Gatra:

Indikasi bahwa Amdocs adalah perusahaan Israel yang memangku kepentingan negara zionis itu terlihat pada jajaran direksi. Terungkap di situs http://www.reuter.com, beberapa direktur Amdocs tercatat pernah menduduki pos penting di Pemerintah Israel.

Ayal Shiran, yang menjabat sebagai Senior Vice President dan Head of Customer Service Business Group Amdocs Limited sejak 2008, adalah jebolan Angkatan Udara Israel. Ia bertanggung jawab atas proyek pengembangan sistem komputer untuk jet tempur F-15 dan pengembangan perangkat lunak untuk F-15 di Boeing.

Sedangkan Zohar Zisapel yang menduduki kursi dewan direksi Amdocs sejak Juli 2008 dan kini menjadi kepala komite inovasi dan teknologi pernah mengenyam karier di Departemen Pertahanan Israel dari 1978 hingga 1982. Ia juga menjadi Ketua Asosiasi Industri Elektronik Israel dari 1998 hingga 2001.

Anehnya Pak, penolakan terhadap Amdocs justru datang dari negara yang mayoritasnya non muslim:

Di beberapa negara, kehadiran Amdocs sempat diboikot lantaran dianggap sebagai kaki tangan Pemerintah Israel. Di Irlandia, misalnya, beberapa politikus mengirim petisi agar Eircom selaku perusahaan “halo-halo” nasional negeri itu menolak proposal yang diajukan konsorsium pimpinan IBM, lantaran konsorsium tersebut membawa serta Amdocs untuk menangani billing system.

“Konsorsium yang menggandeng Amdocs kami persilakan mundur dari kontrak dengan Eircom. Sebab perusahaan itu penyokong kebijakan pertahanan Israel, yang membunuh 1.400 orang Palestina dalam invasinya ke Jalur Gaza,” ungkap Kevin Squire, juru bicara Kampanye Solidaritas Palestina-Irlandia (IPSC) dan Gerakan Anti-Perang Irlandia

Lalu, mengapa kita yang mayoritas muslim justru membiarkan Amdocs menangani Telkom??

Ah, taruhlah kita bersikap pragmatis “Apa urusannya Palestina dengan kita?”Tapi, bahkan dengan sikap pragmatis pun, keterlibatan Amdocs tetap saja membahayakan keamanan dalam negeri. Menurut Gatra, Amdocs berpengalaman dalam menyadap telepon dan pencurian data penting intelijen AS untuk diserahkan ke Israel. Apa Bapak akan membiarkan data penting negara kita juga disadap Israel?

Mengapa Bapak mengatakan,Kami sudah meminta klarifikasi dari Telkomsel dan Kedutaan Besar Amerika, ternyata Amdocs terdaftar di New York Stock Exchange dan berkantor di Missiouri… Indonesia memang tidak punya hubungan diplomatik dengan Israel. Karena itu, Indonesia tidak memiliki hubungan dagang dengan Israel dan tidak ada kantor perdagangan Israel di Indonesia. Tapi, kalau berdomisili di Amerika Serikat, meski sahamnya dimiliki orang Israel, sulit ditolak kehadirannya di sini.” ??

Mungkin saya yang bodoh dan kurang mengerti,  namun izinkanlah saya menanyakan tiga hal ini:
1. Jika organisasi kemanusiaan Irlandia saja menentang hubungan dengan perusahaan Israel ini, mengapa Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia dengan sila Pancasilanya “kemanusiaan yang adil dan beradab” ini rela membuka diri untuk ditunggangi oleh sebuah rezim penjajah?

2. Bukankah di era globalisasi ini wilayah tak lagi jadi masalah? Sebuah perusahaan bisa saja punya kantor pusat di mana saja, terdaftar di  bursa saham di mana pun. Yang penting dilihat adalah:  siapa pemiliki sahamnya, darimana karyawannya, kemana keuntungannya mengalir? Bukankah jelas-jelas Convergyst dan Amdocs dimiliki pengusaha Israel, karyawannya sebagian orang Israel, dan keuntungannya mengalir ke Israel?

Bukankah dalam selebaran-selebaran yang dibagi-bagikan kader-kader partai Bapak jelas-jelas tertulis: setiap rupiah yang kita belanjakan untuk membeli produk Zionis akan menjadi peluru untuk bangsa Palestina?

Kenapa logika yang sedemikian sederhana ini, dijungkirbalikkan dengan logika lain yang aneh “karena kedua perusahaan Israel itu listing di AS, kita tak bisa menolak kehadirannya di Indonesia”?

3. Bapak juga mengatakan tidak ada kantor perdagangan Israel di Indonesia. Apakah Bapak tidak tahu bahwa sejak tahun 2002, di Jakarta Selatan sudah dibuka kantor Indonesia-Israel Public Affairs Committee (IIPAC), dan IIPAC pada 29 Januari 2010 telah meresmikan peluncuran Indonesia Business Lobby? Mengapa tak ada tanggapan dari Bapak?

Sungguh, saya tak paham Pak. Saya mohon penjelasan dari Bapak.

Wassalamualaikum ww.

NB: surat ini ditulis oleh blogger bernama Muhammad Hendra S, dan dimodifikasi atas seizin penulisnya oleh Dina Y. Sulaeman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: