Jundullah, Teror di Iran, dan Catatan untuk Eramuslim

Jundullah, Teror di Iran, dan Catatan untuk Eramuslim

SUMBER: Blog Kajian Timur Tengah

Oleh Dina Y. Sulaeman

Beberapa kali saya membaca artikel di Eramuslim yang menyebutkan bahwa kaum Sunni ditindas di Iran, mesjid-mesjid Sunni dibakar, dan bahkan lebih bombastis lagi, ‘ulama’ Sunni dibunuhi. Sudah pasti, Eramuslim tidak melakukan investigasi sendiri ke Iran, melainkan mengutip dari situs-situs lain yang juga wallahua’lam kredibilitasnya.

Tentu saja, melihat rendahnya kualitas pemberitaan (yang kental sekali nuansa kebencian dan sentimen), saya merasa tak perlu repot-repot menghiraukan artikel seperti itu (dan juga tak mau merendahkan diri untuk me-link artikel2 yang saya maksud itu di sini; silahkan cari sendiri bila berminat). Anyway ini bukan blog Syiah, tapi konsern di bidang kajian timur tengah (dan hubungan internasional). Itulah sebabnya saya suka mendelete komen-komen yang masuk yang menyeret-nyeret perdebatan relijius. Kalau mau, silahkan ribut masalah Sunni-Syiah di blog orang lain saja.

Tapi, kejadian terakhir di Iran, pengeboman oleh Jundullah, membuat saya mau tak mau mengaitkan tuduhan Eramuslim itu dengan fakta Jundullah. Perlu dicatat, saya menulis artikel ini dalam posisi netral, nor Sunni nor Shii; bahkan sumber utama dalam tulisan ini adalah investigasi jurnalis terkemuka AS, Seymour Hersh. So, ketika menyebut ‘Sunni’ dalam mendeskripsikan Jundullah yang kebetulan memang ‘Sunni’ itu hanya pengungkapan fakta semata, bukan dalam rangka menjelek-jelekkan mazhab. Pengindentifikasian Sunni atau Syiah atas aktor-aktor yang terlibat dalam kasus ini tak bisa dihindarkan.
Siapa Jundullah?
Jundullah adalah kelompok garis keras yang akhir-akhir ini paling aktif melakukan serangan ke Iran. Mereka berbasis di Pakistan, dekat perbatasan Baluchistan (dan mereka memang berasal dari etnis Baluch yang mayoritas Sunni), dan mendeskripsikan diri sebaga “gerakan perjuangan hak-hak kaum Sunni”. Para anggota Jundullah adalah orang-orang yang belajar di madrasah-madrasah fundamentalis Sunni di Pakistan; sama seperti kaum Taliban (Taliban=pelajar agama) dan Al Qaida.  Bahkan, salah satu pemimpinnya adalah Khalid Sheikh Mohammed, anggota Al Qaida yang dituduh AS sebagai otak teror 9/11. Ironisnya, bila AS melancarkan perang ke Afghanistan untuk membasmi Al Qaida, AS pada saat yang sama juga menggelontorkan 400 juta dollar untuk membiayai kelompok yang sama, untuk membuat makar di Iran (penjelasan lebih lanjut baca di bawah, “Siapa di Balik Jundullah”).

Jundullah secara sporadis sering melakukan aksi pengeboman di Iran, yang terbesar antara lain pada Februari 2007, ketika Jundallah mengaku bertanggung jawab atas pengeboman bus yang ditumpangi tentara Garda Revolusi Iran dan mensyahidkan minimalnya 11 tentara Iran. Kemarin (18/10), Jundullah kembali beraksi (dan telah mengakui terang-terangan sebagai pihak yang bertanggung jawab) dalam pengeboman di Pishin, provinsi Sistan Baluchistan. Salah seorang komandan Garda Revolusi, Nour-Ali Shoustari beserta 41 orang lainnya gugur syahid. Ironisnya, mereka dibom saat berada di sebuah forum pertemuan kepala suku-suku Sunni dan Syiah (di pelosok Iran memang masih ada suku-suku tradisional) di yang digagas Garda Revolusi demi mempererat persatuan.

Siapa di Balik Jundullah?
Seymour Hersh melaporkan, tahun 2007, Kongres AS menyetujui kucuran dana 400 juta dollar untuk operasi-operasi rahasia peningkatan ketegangan di Iran; dengan tujuan untuk mendestabilisasi kepemimpinan relijius Iran. Operasi rahasia itu dilakukan dengan memanfaatkan kelompok-kelompok teroris, antara lain Jundullah, PJAK (Partai Pembebasan Kurdi), dan MKO (Mujahidin Al Khalq). MKO berbasis di Irak (meskipun para pemimpinnya mendapat perlindungan di Perancis) dan PJAK berbasis di perbatasan antara provinsi Kurdistan dgn utara Irak. MKO sejak awal tahun 1980-an sangat aktif melakukan pengeboman di Iran, termasuk pengeboman di gedung Parlemen Iran (kalau Anda pernah memperhatikan, Ayatullah Khamenei bila bersalaman dan melambaikan tangan selalu menggunakan tangan kiri; hal ini karena tangan kanan beliau lumpuh akibat pengeboman di gedung parlemen itu). Pada bulan Juni 2008, terjadi PJAK meluncurkan serangan yang segera dibalas tentara perbatasan Iran; sekitar selusin anggota PJAK dan empat tentara Iran tewas Sebulan sebelumnya, pertempuran serupa juga terjadi, tiga tentara Garda Revolusi dan 9 anggota PJAK tewas (hm, inikah “ulama” yang dibunuh itu?).

Perlu diingat lagi, anggota Jundullah adalah orang-orang etnis Baluchi. Ada fakta ironis dalam hal ini. Robert Baer, mantan anggota CIA yang bekerja dalam operasi-operasi rahasia di Asia Selatan dan Timur Tengah, mengatakan, “Penggunaan element Baluchi adalah problematic. Orang-orang Baluchi adalah fundamentalis Sunni yang membenci rejim Tehran, tetapi Anda juga bisa mendeskripsikan mereka sebagai Al Qaeda. Mereka adalah orang-orang yang memenggal kepala orang-orang yang tidak beriman—dalam kasus ini, orang Syiah Iran. Adalah ironi bahwa kami kembali bekerja sama dengan fundamentalists Sunni, sama seperti apa yang kami lakukan di Afghanistan pada tahun 1980-an.” (Pada waktu itu, AS demi mengusir Uni Soviet dari Afganistan membentuk, membiayai, dan mempersenjatai Taliban. Salah satu tulisan yang cukup bagus menjelaskan hal ini, bisa baca di sini).

Lihatlah betapa ironis, dulu AS bersekutu dengan Mujahidin, Taliban, Al Qaida; kini AS memburu mereka habis-habisan dengan mendatangkan 30.000 pasukan ke Afghanistan. Dan di saat yang sama, salah satu sayap (offshoot) Al Qaida justru dibiayai oleh AS untuk melakukan aksi terorisme di Iran. Bahwa Jundullah dibiayai AS selain sudah dikonfirmasi oleh media mainstream juga diakui oleh Abdulhamid Rigi salah satu pemimpin kelompok teroris ini yang kini sedang menanti hukuman mati di Iran.

Benarkah Ada Perseteruan Etnis di Iran?
Vali Nasr, pengajar Politik Internasional di Tufts University dan senior fellow di CFR (lembaga think-tank kebijakan luar negeri AS) mengatakan, “Strategi menggunakan minoritas etnis untuk menjatuhkan Iran adalah strategi yang cacat. Hanya karena Lebanon, Irak, dan Pakistan memiliki problem etnik, tidak bisa diartikan bahwa Iran juga mengalami masalah yang sama. Iran adalah negara yang tua, seperti Perancis dan Jerman, dan penduduknya semata-mata nasionalistis. AS telah over-estimate tentang ketegangan etnis di Iran.”

Terorisme, dilakukan oleh siapapun, adalah sebuah kejahatan. Karena itu, dalam menulis (dan menanggapi) tentang aksi-aksi terorisme ada baiknya kita berpikir lebih jernih, objektif, dan luas. Baik Jundullah maupun PJAK memang penganut mazhab Sunni; namun sama sekali tidak bisa disimpulkan bahwa Sunni adalah teroris. Anggota MKO sebagiannya Syiah; lagi-lagi tak bisa disimpulkan bahwa Syiah itu teroris.

Persoalan di Iran jauh di luar konflik Sunni-Syiah. Karena itu, amat berlebihan ketika para teroris (yang kebetulan Sunni) tewas (atau ditangkap kemudian dihukum mati) akibat aksi terorisme yang mereka lakukan, desas-desus yang berhamburan adalah “ulama Sunni di Iran dibunuhi”. Btw, menurut Anda, apa yang harus dilakukan pemerintah Iran? Duduk manis saja menghadapi para teroris itu?

Saya pernah berkunjung ke Kurdistan, provinsi yang didominasi mazhab Sunni. Saya sholat Dzuhur di masjid orang-orang Sunni (sebenarnya saya tak melihat ada dikotomi “masjid Sunni” dan “masjid Syiah”.  Saya lihat, orang Syiah juga sholat di masjid yang sama; mereka di shaf  yang sama, meski gaya sholat berbeda; Sunni bersedekap, Syiah tidak.) Adzannya persis seperti di Indonesia (entah mengapa Eramuslim menggosip “Azan Sunni dilarang di Iran”). Cerita lengkapnya bisa baca di sini.

Penulis Eramuslim yang suka menggosip ttg Iran itu mungkin sebaiknya datang Iran di bulan Ramadhan dan duduk manis di depan televisi Iran menjelang maghrib. Televisi Iran mengumandangkan azan dua kali (karena waktu maghrib Sunni dan Syiah berbeda; Syiah sedikit lebih lambat).

Saya tidak sedang membela Syiah atau Iran (mereka tak butuh pembelaan dari orang biasa kayak saya); hanya miris melihat situs berita yang sering jadi rujukan umat Islam Indonesia itu terjebak permainan Barat. Seharusnya mereka bisa lebih cerdas lagi melihat, siapa musuh sesungguhnya di balik semua makar ini.

Note:

Selain Seymour Hersh, London Telegraph juga melaporkan makar Bush membiayai Jundullah. London Telegraph antara lain menulis, “The CIA is giving arms-length support, supplying money and weapons, to an Iranian militant group, Jundullah, which has conducted raids into Iran from bases in Pakistan.”

Updated:

Baru dapat kabar dari Iran, salah seorang Garda Revolusi yang gugur itu ternyata tetangga saya di Teheran, beliau punya dua anak yang masih kecil-kecil. Istrinya yang mengantar saya ke rumah sakit saat saya melahirkan anak kedua :( (

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: