Memahami Gerakan Terorisme: Mungkinkah Berakhir?

Memahami Gerakan Terorisme: Mungkinkah Berakhir?

SUMBER: REPUBLIKA

Munajat
Pengasuh Ponpes Ya Qoumi, sedang menempuh program S3 bidang Sosiologi di Texas A&M University, Amerika Serikat.

Sejak peristiwa Bom Bali I sampai saat ini, Polri telah berhasil menangkap lebih dari 200 orang terkait dengan jaringan terorisme, menembak mati beberapa anggota teroris, dan mengeksekusi mati tiga pelaku kasus Bom Bali. Namun, keberhasilan Polri tidak mengindikasikan berakhirnya gerakan terorisme di Indonesia. Secara episodik dan pasti, serangan terorisme terus muncul hingga serangan bom bunuh diri di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton, 17 Juli kemarin.

Mungkinkah terorisme akan berakhir di Indonesia? Siapa sebenarnya teroris? Mengapa mereka tega melakukan perbuatan biadab: membunuh orang yang tidak berdosa dan termasuk membunuh diri mereka sendiri? Apa yang mereka inginkan? Mengapa justru perbuatan tersebut diatasnamakan agama?

Tulisan singkat ini mencoba membahas pertanyaan tersebut secara umum, melalui pembahasan konsep terorisme dan implikasinya terhadap pemahaman dan penanganan kasus terorisme di Indonesia.

Bruce Hoffman dalam Inside Terrorism melihat lima benang merah yang membedakan terorisme dengan kejahatan kelompok lainnya, yaitu: 1) bermotif politik, 2) menggunakan cara kekerasan, 3) tujuan utama adalah menciptakan suasana teror; korban langsung dari serangan teror bukanlah target utama aksi terorisme, 4) dilakukan oleh suatu kelompok dengan organisasi terstruktur atau tidak terstruktur dengan garis komando dan bentuk organisasi yang tidak jelas dan fleksibel, dan 5) kelompok tersebut bukan merupakan bagian dari pemerintah.

Masyarakt umum seringkali salah dalam memahami pelaku teroris yang diidentikkan sebagai orang gila, bodoh, stres, miskin, dan berpendidikan rendah. Fakta penelitian membuktikan bahwa teroris selalu dilakukan oleh orang normal, sehat, dan sering dianggap sebagai orang yang saleh di tengah masyarakat dan keluarganya. Alan B Krueger, ekonom jebolan Harvard, menyimpulkan bahwa tingkat kemakmuran ekonomi dan pendidikan pelaku teroris selalu di atas rata-rata tingkat kemakmuran dan pendidikan masyarakat di negara asal mereka.

Jurgen Meyer dalam Terror in the Mind of God menyatakan bahwa secara umum terorisme berbasis agama tidak berbeda dengan terorisme umum, namun terorisme berbasis agama mempunyai karakter yang cukup unik. Pertama, ia mempunyai justifikasi moral transenden yang membuat anggota kelompok teroris meyakini bahwa perbuatan mereka merupakan panggilan Tuhan. Kedua, ia mempunyai sebuah skenario cosmic war yang diambil dari ajaran agama. Dalam cosmic war, para teroris menganggap bahwa dunia dalam keadaan perang, tempat mereka memainkan peran sebagai pahlawan suci yang sedang memerangi musuh atau setan jahat, dan akhirnya peperangan akan diakhiri dengan kemenangan sang pahlawan suci.

Terorisme berbasis agama ini dapat dianalogikan dengan kisah film Rambo. Dalam film ini, sang sutradara membuat skenario sedemikian rupa untuk menyihir penonton agar mereka yakin bahwa Rambo adalah seorang pahlawan, penegak keadilan, dan penyelamat dunia dari ketidakadilan. Dengan justifikasi moral dan keindahan film, penonton dapat dengan mudah menoleransi kebiadaban Rambo sebenarnya adalah seorang mesin pembunuh dan pembangkang komando militer.

Dalam skenario cosmic war ini, teroris seolah-olah sedang memainkan peran mereka sebagai Rambo, tentu dengan justifikasi yang lebih tinggi dari sekadar nilai keadilan, yaitu ‘Panggilan Tuhan’. Dua karakter inilah yang mampu membuat kelompok teroris menikmati setiap aksi teror mereka, termasuk aksi pembunuhan diri mereka sendiri.

Senada dengan pendapat Hoffman tentang karakter organisasi terorisme di atas, banyak pakar beranggapan bahwa sekarang ini dimungkinkan perwujudan organisasi teroris, seperti Jamaah Islamiyyah (JI), bukanlah merupakan organisasi fisik yang mempunyai koordinasi dan jaringan rahasia. Jadi, JI dimungkinkan sudah berubah menjadi sebuah ideologi kekerasan dan antiimperialisme Amerika di negara-negara Islam, yang dapat dianut siapa saja tanpa harus berhubungan dengan para tokoh JI, seperti Hambali, Abu Dujana, dan Noordin M Top.

Pada titik inilah, sebenarnya tugas pemberantasan terorisme bukan lagi menjadi tanggung jawab BIN dan Polri semata, karena ia sudah memasuki wilayah ideologi. Michael Chertoff, sekjen kedua di Department of Homeland Security Amerika Serikat, menyatakan bahwa salah satu usaha paling efektif untuk memberantas gerakan terorisme adalah melalui para mainstream ulama atau tokoh msayarakat, karena akar dari terorisme adalah ideologi, dan hanya merekalah yang mampu membendung ideologi setan yang telah disulap menjadi ideologi suci.

Peran intelijen dan polisi akan memainkan peran penting ketika ideologi tersebut sudah menjadi sebuah gerakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: