Kisah Tiga Mayat yang Belum Dishalati

Kisah Tiga Mayat yang Belum Dishalati

SUMBER: Republika

Senin (10/8) adalah hari ketiga diinapkannya tiga jenazah hasil operasi Detasemen Khusus (Densus) 88, di kamar pendingin ruang instalasi forensik Rumah Sakit (RS) Polri Kramatjati, Jakarta. Konon mereka adalah Noordin M Top, Air Setiawan (28 tahun), dan Eko Joko Sarjono (29). Tapi, informasi tentang mereka masih tetap tertutup.

Dari ketiga jenazah itu, hanya Air Setiawan atau Wawan dan Eko Joko Sarjono atau Eko Peyang yang hendak dikonfirmasi dan diambil keluarganya untuk dimakamkan. Adapun jenazah orang yang disangka Noordin sama sekali belum didatangi keluarganya. Keperluan pengecekan deoxyribonucleic acid (DNA) membuat ketiga jenazah belum dishalati dan dimakamkan.

Keluarga Wawan dan Eko–yang mendengar anaknya tewas lewat televisi–bertolak ke Jakarta pada Sabtu (8/8) malam. Mereka adalah Agus Purwanto (45), ayah Wawan; dan Slamet Widodo (58), ayah Eko. Mereka didampingi kuasa hukumnya, Kurniawan, dari Lembaga Bantuan Hukum Islamic Study and Action Centre (LBH Isac), Solo. Mereka tiba di Mabes Polri pada Ahad (9/8).

Agus Purwanto dan Slamet Widodo hendak menanyakan ihwal penembakan Wawan dan Eko pada penyergapan di Perumahan Puri Nusaphala Indah Blok D RT 04/RW 12, Jati Asih, Kota Bekasi, Jawa Barat, Sabtu lalu. Pasalnya, mereka sangsi Wawan dan Eko terlibat kasus pengeboman, karena sehari-hari tak menampakkan tanda-tanda ke arah aktivitas ekstrem.

”Kami ke Jakarta untuk meyakinkan, kalau orang yang ditembak petugas itu anak saya,” kata Agus Purwanto yang berprofesi sebagai sopir bus malam Solo-Jakarta, ini saat ditemui di rumahnya, Kampung Brengosan RT 03 RW 13, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Laweyan, Solo, Jawa Tengah, beberapa jam sebelum bertolak ke Jakarta.Tapi, hingga Senin (10/8), mereka belum benar-benar mendapatkan kepastian.

Pasalnya, karena jenazah itu harus menjalani serangkaian tes, seperti sidik jari, usapan gigi, dan DNA, keluarga belum boleh menjenguk. Rangkaian tes itu baru akan selesai dalam tiga hingga lima hari, dan setelah itu boleh dijenguk dan dibawa pulang. Jangankan melihat jenazah, foto mayat pun belum diperlihatkan kepada keluarga.

Saat keluarga mendatangi RS Polri, pada Senin pagi, pukul 09.00 WIB, Kurniawan mengatakan, justru petugas yang meminta identitas Wawan dan Eko kepada keluarganya, antara lain, foto dan ijazah. ”Blangko penyidikan juga hanya ditulisi inisial A dan E, bukan nama lengkap,” kata Kurniawan, kemarin.

Di ruang Pusat Pelayanan Terpadu RS Polri, polisi juga mengambil sampel dari bagian mulut dalam Slamet Widodo. Adapun Agus Purwanto, karena dia hanya ayah angkat Wawan, hanya dimintai keterangan tentang ciri-ciri fisiknya. Sebelumnya, polisi juga sudah mengambil sampel DNA anak dan istri Wawan dan Eko untuk dicococokkan.

Kemarin, yang diperlihatkan petugas kepada ayah Wawan dan Eko hanya Berita Acara Pemeriksaan (BAP) kematian dua orang yang digerebek di Jatiasih pada Sabtu dinihari. Kurniawan menilai polisi berlebihan. Bila hendak membuktikan identitas jenazah, kata dia, mestinya polisi menjadikan orang yang mengaku sebagai keluarganya sebagai sumber utama.

Mengapa keluarga tak jadi referensi utama? Polisi tak memberi keterangan. Kepala RS Polri, Brigadir Jenderal Aidy Rawas, yang menerima keluarga Wawan dan Eko, tak bisa dimintai konfirmasinya oleh wartawan yang telah menunggu sejak Senin pagi. Senin siang, sekitar pukul 12.00 WIB, keluarga korban meninggalkan RS Polri dengan perasaan tak yakin bahwa yang tewas itu Wawan dan Eko. Mereka pun sudah berniat kembali ke Solo. ”Mereka (pihak keluarga) baru bisa percaya 50 persen kalau yang tewas itu Air (Wawan–Red) dan Eko,” kata Kurniawan.

Pengacara keluarga Wawan dan Eko lainnya, Endro Sudarsono, bahkan menduga Wawan dan Eko tidak tewas tertembak saat penggerebekan. Dia menduga keduanya tidak bermalam di lokasi yang digerebek. Dia juga sangsi keduanya terlibat kasus terorisme. ”Yang jadi pertanyaan, terlibat kasus apa?”

Tiba-tiba
Kabar tewasnya Wawan dan Eko sangat mengejutkan keluarganya. Pasalnya, pada Jumat (7/8), keduanya masih berada di Kampung Brengosan, bahkan masih sempat ikut kerja bakti. Wawan dan Eko yang jarak rumahnya hanya satu kilometer, meninggalkan kampung pada Jumat siang, dan keesokan harinya dikabarkan sudah menjadi mayat.

Setelah televisi menayangkan berita itu, rumah Agus Purwanto dan Slamet Widodo ramai didatangi tetangga. Yang paling syok atas kabar itu adalah istri Wawan, Kiswati (24). Sabtu lalu, wanita yang sedang hamil empat bulan ini terus mengurung diri di kamarnya. Dia tak mau makan, tak mau mandi, dan hanya terkapar di ranjang. Agus Purwanto dan istrinya, Suyatmi (48), melarang wartawan menemui Kiswati.

”Kasihan,” kata Suyatmi yang ditemui di rumahnya. Mata Suyatmi terlihat sembab.
Anak Wawan, Sayab Abbas (4), yang belum mengerti pada apa yang terjadi, terlihat bermain-main, berlari-larian, dan melompat-lompat di kursi bersama anak sebayanya.
Wawan pamit kepada istrinya dengan alasan  jagong (bertamu–Red). Dia berangkat setelah shalat Jumat di Masjid Istiqomah. Sebelum Jumatan, dia bergotong royong untuk membuat kolam proyek padat karya.

Orang tua Wawan tak percaya kalau anaknya terlibat kasus bom. Ini lantaran Wawan termasuk anak pendiam, tidak pernah aneh-aneh, dan biasa-biasa saja dalam keseharian. Dia aktif shalat di Masjid Istiqomah atau Masjid Khasanah, seperti layaknya jamaah lain.Saban hari, Wawan bekerja mengecat timbangan. Ratusan timbangan yang sudah dicat, menumpuk di depan rumahnya. Saat sedang sepi mengecat timbangan, dia terkadang mengecat mobil. ”Dia orangnya gampang sekali dimintai mengecat mobil punya teman, tidak pernah menolak. Tanpa dibayar pun dia mau,” kata Agus Purwanto.

Wawan yang merupakan anak kedua dari lima bersaudara ini, kata Agus Purwanto, tak paham elektronik, mesin, apalagi bom. ”Tahunya pekerjaan mengecat saja,” katanya.
Saat terjadi ledakan di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton pada 17 Juli lalu, Agus Purwanto mengatakan anaknya tak tertarik melihat tayangan televisi. ”Pokoknya, tidak ada yang istimewa pada dia. /Lha/, kok sekarang disangkutkan kasus bom? /Gak/ percaya saya,” katanya.  c14/c82/eds

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: